
Ilustrasi bekerja
JawaPos.com - Para milenial dan generasi Z saat ini punya gaya yang hampir mirip di dunia kerja. Mereka yang hidup era media sosial, rata-rata ingin segalanya serbainstan. Di samping kinerjanya yang kreatif dan penuh gairah, milenial sering ingin serbainstan saat bekerja di suatu perusahaan.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan banyak milenial dan generasi Z cenderung pilih-pilih kerja yang sesuai dengan keinginan mereka. Yang nyaman dan gajinya tinggi tentunya.
Namun begitu, langkah tersebut membuat hubungan antara kesempatan kerja dan keinginan sering kali tak cocok. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan profil demografis termuda di dunia dengan lebih dari 138 juta (53,5 persen) penduduknya berusia di bawah 30 tahun (BPS, 2016).
Dalam 5-8 tahun kedepan, angkatan kerja baru Indonesia akan didominasi oleh Generasi Z. Oleh sebab itu, dibutuhkan generasi muda yang produktif dan berperan untuk mendorong transformasi bangsa Indonesia menuju ke generasi emas 2045.
"Milenial ada berbagai karakteristik. Banyak juga milenial yang kurang mampu dan rentan, termasuk perempuan dan pemuda penyandang disabilitas yang juga harus siap memasuki dunia kerja dan memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan baru atau lebih baik," kata Direktur Eksekutif Rajawali Foundation, Agung Binantoro, kepada JawaPos.com baru-baru ini.
Founder & CEO Rencanamu Rizky Muhammad mengungkapkan, hasil riset yang dilakukan selama tiga tahun terakhir. Dalam riset, pihaknya mendalami profil data lebih dari 1,6 juta siswa dan mahasiswa pengguna serta riset terhadap industri. "Ditemukan fakta-fakta mengenai kondisi talenta dan ketimpangan antara supply dan demand," tegasnya. Berikut hasil risetnya:
1. Tak Tahu Mau Kerja Apa
Sebanyak 92 persen siswa SMA/SMK sederajat bingung dan tidak tahu akan menjadi apa ke depannya. Ketidaksesuaian antara supply dan demand, yaitu bidang-bidang yang diambil oleh siswa dan apa yang dibutuhkan industri saat ini.
2. Salah Jurusan
Sebanyak 80 persen siswa SMK mengambil jurusan dan bidang yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ada 45 persen mahasiswa merasa salah mengambil jurusan. Siswa kurang mendapat bimbingan secara menyeluruh terkait perencanaan kuliah dan karier.
3. Tak Punya Skill
Lulusan baru dirasa tidak mempunyai skill dan kompetensi sesuai seperti yang dibutuhkan saat ini. Krisis talenta dan skill gap menjadi masalah utama, mengancam perekonomian, dan perkembangan bangsa Indonesia ke depannya.
4. Pengangguran Terselubung
Meningkatnya pengangguran terselubung (underemployment) dan tingginya pengangguran (unemployment) di kalangan anak muda. (Marieska)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
