Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Oktober 2017 | 13.50 WIB

Testimoni Manis dari Para Desainer Jakarta Fashion Week

Para Desainer Aggota Indonesia Fashion Forward di  ajang Jakarta Fashion Week 2018 - Image

Para Desainer Aggota Indonesia Fashion Forward di ajang Jakarta Fashion Week 2018

JawaPos.com – Perjalanan para desainer di industri fesyen bukan hal yang instan. Mereka pun pernah gagal dan jatuh bangun. Lewat ajang Jakarta Fashion Week 2018 kali ini, mereka berkreasi dengan keunikan dan ciri khas tersendiri. Masing-masing tentu punya gaya dan orisinalitas.


Khususnya bagi para desainer yang tergabung dalam inkubasi Indonesia Fashion Forward (IFF) telah menapaki setiap langkah bukan dengan instan. Meski generasi baru terus tumbuh, namun kualitas dari masing-masing desainer teruji untuk menuju kancah internasional.


“Kami bangga telah mencapai level kolaborasi antara desainer dengan pemangku kepentingan seperti asosiasi, pabrik tekstil dan garmen, retailers, pemerintah daerah, bloggers dan media sosial. Kolaborasi ini menunjukkan kemampuan masing-masing desainer yang terus berkarya,” kata Ketua Umum Jakarta Fashion Wek, Svida Alisjahbana, Sabtu (21/10).


1. Rani Hatta


Desainer cantik spesialis modest wear (busana muslim) ini sudah menapaki tahun kelima di IFF. Brand Rani dengan label Rani Hatta ini sudah menjalankan bisnisnya selama 4 tahun. Dia mengajak agar para bibit baru terus menggali kreativitas. Rani berharap kehadirannya di industri fesyen bisa memberikan warna baru dengan gaya sporty streetwear atau hijab maskulin.


“Ini perjalanan saya tahun kelima sebagai anggota dari IFF. Saat saya ditawari anggota IFF itu dream come true. Mimpi banget masuk IFF. Saat join lalu berbagai festival saya ikuti. Sehingga anak muda jangan takut tunjukkan kreativitas, jangan ditahan-tahan. IFF membuka jalan bagi desainer lokal go international,” ujar Rani.


2. Miranda Mazuki


Miranda merupakan desainer muda yang lahir tahun 1990a, merupakan generasi milenial. Dan tahun ini adalah tahun pertamanya bergabung dengan IFF. Dia ingin mengembangkan koleksinya yang lebih bertema kasual dan ready to wear.


“Ini pertama kali saya gabung di IFF dan tahun ini gara-gara IFF juga saya ingin terus kembangkan koleksi saya. Saya merasa menjadi desainer bukan pada menikmati hasil, tetapi bagaimana melakukan proses yang tak muah,” tegasnya.


3. Michelle Tjokrosaputro


Michelle merupakan desainer yang memiliki niat mulia menjadikan batik dengan labelnya Bateeq disuguhkan dengan cara yang berbeda. Sehingga batik bisa dinikmati dan dicintai anak muda. Lewat Bateeq, dia menyuguhkan karya yang unik dan modern.


“Menjadi desainer itu bukan sekadar ingin ke mancanegara atau go international, akan tetapi bagaimana kami bisa menghasilkan karya yang mempunyai standar internasional,” ungkap Michelle.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore