
Bitcoin. (Decrypt)
JawaPos.com - Pasar kripto kembali bergejolak. Bitcoin, aset digital dengan kapitalisasi terbesar di dunia, terjun bebas valuasinya, mencapai 8,21 persen dalam sepekan terakhir dan kini bertengger di kisaran USD 104.000 (atau berkisar Rp 1.735.000.000) setelah sebelumnya menembus batas support di USD 108.000 (Rp 1.803.000.000).
Penurunan tajam ini menandai kinerja negatif pertama Bitcoin di bulan Oktober dalam enam tahun terakhir. Sejak 2013, Bitcoin hanya mencatatkan performa merah di bulan Oktober sebanyak tiga kali: 2014, 2018, dan kini 2025, periode yang sama-sama diwarnai oleh ketidakpastian makroekonomi global.
Tak hanya Bitcoin, deretan altcoin besar seperti Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB), Solana (SOL), hingga Dogecoin (DOGE) juga ikut terpukul dengan koreksi lebih dari 5 persen dalam 24 jam terakhir. Hanya beberapa token di sektor AI dan Real World Assets (RWA) yang menunjukkan stabilitas harga relatif lebih baik.
Menurut Fahmi Almuttaqin, Analis Reku, penurunan tajam di pasar kripto dipicu oleh kondisi likuiditas global yang semakin ketat serta sentimen 'risk-off' setelah pernyataan Federal Reserve yang belum memastikan pemangkasan suku bunga pada Desember mendatang.
“Dengan kombinasi likuiditas yang ketat dan gejolak makro, terlebih di tengah isu potensi shutdown pemerintah AS, Bitcoin sebagai aset risk-on alami tekanan yang cukup berat,” jelas Fahmi melalui catatannya.
Meskipun begitu, data dari lembaga analisis on-chain Glassnode menunjukkan bahwa siklus bull market Bitcoin belum berakhir sepenuhnya. Dari 30 indikator yang dipantau, belum ada satu pun yang menandai puncak pasar bullish.
Artinya, peluang kenaikan lanjutan masih terbuka, meski pasar kini berada dalam fase 'distribusi awal', di mana investor yang telah untung mulai mengambil profit.
Menariknya, meski harga turun, jumlah Bitcoin yang tersimpan di bursa perdagangan (exchange) justru menurun — lebih banyak investor yang menarik Bitcoin mereka untuk disimpan sendiri dibanding mengirim ke exchange untuk dijual.
“Fenomena ini menandakan meningkatnya keyakinan investor terhadap nilai jangka panjang Bitcoin. Ketika pasokan di bursa berkurang, kelangkaan bisa menjadi katalis positif di masa depan,” lanjut Fahmi.
Waktu Terbaik Mulai Investasi Kripto?
Bagi sebagian besar investor pemula, anjloknya harga sering kali memicu rasa takut. Namun bagi investor berpengalaman, fase koreksi justru bisa menjadi momen ideal untuk mulai masuk, dengan catatan memahami risikonya dan memiliki strategi jangka panjang.
“Volatilitas adalah bagian alami dari pasar kripto. Saat harga turun tajam, justru di situlah peluang membeli aset bagus di harga diskon,” kata Fahmi.
Namun, ia menekankan pentingnya disiplin dan manajemen risiko. Investor disarankan tidak mengalokasikan seluruh dana ke kripto sekaligus, melainkan melakukan strategi dollar-cost averaging (DCA), membeli aset secara bertahap agar terhindar dari fluktuasi ekstrem.
Tips Aman untuk Pemula, Hindari FOMO
Fahmi juga mengingatkan investor pemula untuk tidak terjebak FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal tren ketika harga kripto naik cepat.
“FOMO sering membuat orang masuk di puncak harga tanpa riset. Akibatnya, mereka panik saat harga jatuh,” katanya.
Selain memahami waktu masuk, investor juga harus memperhatikan keamanan dan kecepatan platform perdagangan kripto. Platform yang terdaftar dan diawasi oleh regulasi yang relevan dengan eksekusi cepat akan membantu investor mengoptimalkan peluang pasar yang bergerak dinamis.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
