
Ilustrasi harga Bitcoin (BTC) yang turun. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Bitcoin belum juga bangkit meskipun laporan tenaga kerja Amerika Serikat untuk Agustus anjlok jauh dari ekspektasi, memicu spekulasi kuat bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga. Harga Bitcoin pada Senin (8/9) masih tertahan di level USD 111.200 atau setara Rp 1,83 miliar (kurs Rp 16.450 per USD), tak mampu bertahan di atas area krusial USD 112.000.
Padahal, data nonfarm payrolls (NFP) menunjukkan hanya ada penambahan 22.000 pekerjaan baru sepanjang Agustus, jauh dari proyeksi Dow Jones sebesar 75.000. Bahkan, data pekerjaan bulan Juni direvisi turun menjadi kerugian bersih sebesar 13.000. Koreksi data Juni dan Juli secara total menghapus 21.000 pekerjaan.
Sektor-sektor besar seperti manufaktur, konstruksi, perdagangan grosir, dan layanan profesional justru kehilangan tenaga kerja. Hanya sektor kesehatan serta hiburan dan pariwisata yang mencatat pertumbuhan positif.
Imbasnya langsung terasa di ekspektasi pasar. Peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan Selasa (17/9) mendatang kini naik menjadi 100 persen, dengan kemungkinan pemangkasan agresif 50 basis poin juga meningkat jadi 12 persen. Peluang pemangkasan lanjutan pada November dan Desember ikut terdongkrak.
Namun, pasar kripto tidak menyambut baik berita ini. Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi USD 113.300 atau sekitar Rp 1,86 miliar, tapi cepat terkoreksi kembali ke bawah USD 111.982, yang menjadi batas leher (neckline) pola teknikal double top—formasi grafik yang secara klasik menandai sinyal pembalikan arah dari bullish menjadi bearish.
"Bitcoin gagal menembus kembali batas atas double top, yang kini memvalidasi pola bearish dan membuka peluang penurunan lebih dalam," ujar Brent Donnelly, Presiden Spectra Markets, dikutip dari Coindesk, Senin (8/9).
Saat ini, support pertama berada di sekitar USD 101.700 atau Rp 1,67 miliar, yang juga merupakan garis rata-rata 200 hari (SMA 200). Jika level itu ditembus, Bitcoin berisiko mengalami koreksi besar seperti Februari lalu, ketika pola double top juga mendorong harga turun tajam ke kisaran USD 75.000 atau Rp 1,23 miliar.
Analis menyebut, meski pemangkasan suku bunga biasanya menguntungkan aset berisiko seperti kripto, dinamika pasar kali ini lebih kompleks. Volatilitas yield obligasi pemerintah Amerika—khususnya yield 10 tahun—berpotensi kembali naik. Padahal, yield yang naik tajam bisa memperketat kondisi keuangan dan menekan harga Bitcoin.
Situasi ini pernah terjadi pada akhir 2024. Waktu itu, meskipun Fed mulai memangkas bunga, yield 10 tahun justru naik dari 3,6 persen di September menjadi 4,8 persen pada Januari 2025. Alasannya: kekhawatiran terhadap inflasi yang tak kunjung reda dan pembelanjaan fiskal yang agresif.
“Sekarang ini, meskipun pasar tenaga kerja lebih lemah dibanding tahun lalu, inflasi masih tinggi dan defisit fiskal makin dalam. Ini bisa membuat yield justru melonjak lagi pasca-pemangkasan,” ujar analis ING dalam laporan kepada klien.
Data inflasi atau Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Agustus yang dijadwalkan rilis pekan depan menjadi kunci arah pasar. Menurut proyeksi Wells Fargo, CPI inti (core CPI) kemungkinan naik 0,3 persen bulan ke bulan, mempertahankan tingkat tahunan di 3,1 persen. Sementara CPI utama (headline CPI) diperkirakan naik 0,3 persen bulan ke bulan dan 2,9 persen secara tahunan.
Jika inflasi kembali terbukti ‘membandel’, Fed bisa jadi lebih hati-hati dalam memangkas suku bunga ke depannya. Hal ini bisa memperpanjang tekanan di pasar kripto.
Dengan formasi teknikal yang masih bearish dan tekanan makro yang belum reda, para analis menyarankan investor tetap waspada. “Berita buruk, sejauh ini, tetap menjadi berita buruk untuk Bitcoin,” tulis The Kobeissi Letter dalam laporannya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
