Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 Juli 2025 | 20.26 WIB

Bitcoin Hari Ini Tembus USD 118 Ribu, Korporasi Global Ramai-Ramai Borong BTC dan ETH

Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Reli Bitcoin ke harga tertinggi sepanjang masa, yakni USD 118.000 atau sekitar Rp 1,91 miliar (kurs Rp 16.200 per USD), memicu gelombang akumulasi dari perusahaan global. Tren Bitcoin treasury—strategi menyimpan kripto sebagai cadangan korporat—semakin meluas setelah ditopang kebijakan fiskal Amerika Serikat dan arus masuk dana institusi ke ETF Bitcoin.

Dikutip dari BeinCrypto, Kamis (11/7), perusahaan media asal Korea Selatan, K Wave Media, mengumumkan rencana pembelian 88 BTC sebagai bagian dari strategi treasury ambisius yang ditargetkan mencapai 10.000 BTC.

CEO Ted Kim menegaskan bahwa pihaknya telah menggandeng Anson Funds sebagai penyedia pembiayaan hingga USD 500 juta (sekitar Rp 8,4 triliun), dengan 80 persen dana dialokasikan khusus untuk membeli Bitcoin. Nilai total investasinya bisa mencapai USD 1 miliar atau Rp 16,8 triliun.

“Tujuan kami jelas: membangun treasury Bitcoin paling agresif dengan transparansi penuh dan dukungan investor yang solid,” ujar Ted Kim.

Tak hanya K Wave, perusahaan DDC Enterprise juga ikut memborong Bitcoin setelah mengumumkan kemitraan dengan Animoca Brands senilai USD 100 juta untuk mendongkrak cadangan kripto perusahaan. Animoca akan membantu DDC dalam pengelolaan investasi dan strategi yield, sekaligus memperluas eksposur institusional ke pasar kripto.

Sementara itu, Ethereum (ETH) juga tak kalah dilirik. Beberapa perusahaan dilaporkan melakukan pembelian besar semalam, termasuk transaksi senilai total USD 358 juta. Data dari Lookonchain menunjukkan bahwa sebagian besar pembelian berasal dari wallet institusional, meski ada juga yang diduga berkaitan dengan peristiwa peretasan GMX.

Perkembangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menandatangani Big Beautiful Bill pada Kamis (4/7), undang-undang fiskal senilai USD 3,3 triliun yang menaikkan plafon utang dan memperpanjang pemotongan pajak secara permanen. Efeknya langsung terasa di pasar: utang nasional Amerika melonjak USD 410 miliar dalam waktu kurang dari sepekan.

Pasar melihat kebijakan ini sebagai pemicu inflasi baru. Investor global kini ramai-ramai keluar dari obligasi dan masuk ke aset langka seperti Bitcoin yang memiliki pasokan tetap. “Ini bukan hanya reli biasa. Ini adalah pergeseran besar menuju lindung nilai terhadap pelemahan mata uang fiat,” tulis News.bitcoin.com, Kamis (11/7).

ETF Bitcoin milik BlackRock (IBIT) kini telah mengelola USD 76 miliar aset, naik tiga kali lipat hanya dalam 200 hari perdagangan. Sebagai perbandingan, ETF emas terbesar di dunia butuh waktu lebih dari 15 tahun untuk mencapai nilai yang sama.

Secara makro, The Fed justru mengurangi likuiditas. Neraca keuangan mereka dipangkas USD 13 miliar pada Juni lalu, turun ke USD 6,66 triliun—terendah sejak April 2020. Sementara kepemilikan obligasi juga menyusut lebih dari USD 1,5 triliun dalam tiga tahun terakhir. Ini memperkuat alasan mengapa investor mulai beralih ke aset digital.

Meski euforia tinggi, sejumlah analis mengingatkan soal keberlanjutan tren. Akumulasi besar-besaran oleh korporasi memang mendorong harga, tapi juga menimbulkan risiko bubble jika disertai spekulasi ekstrem. Namun sejauh ini, arus beli belum menunjukkan tanda-tanda surut, dan data on-chain masih mendukung tren naik.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore