Ilustrasi trading bitcoin (Istimewa).
JawaPos.com – Bitcoin (BTC) akhirnya pulih dari tekanan pasar dan berhasil naik kembali ke USD 82.598 (Rp 1,33 miliar) setelah sempat anjlok ke USD 76.700 (Rp 1,24 miliar).
Lonjakan harga ini membawa optimisme di pasar kripto setelah seminggu mengalami tekanan besar akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global.
Namun, analis memperingatkan bahwa ini bukan pemulihan penuh, melainkan hanya koreksi atas sentimen negatif yang berlebihan.
Pantauan JawaPos.com pagi ini, harga Bitcoin (BTC) naik 4,3% ke USD 82.598 (Rp 1,33 miliar). Ethereum (ETH) menguat 2,2% ke USD 1.897 (Rp 30,7 juta). XRP melonjak 8,3% ke USD 2,2. Solana (SOL) naik 3,8% ke USD 124,19. Hingga Dogecoin (DOGE) meroket 6,9% ke USD 0,16.
Menurut Presto Research, reli ini masih dianggap sebagai pemulihan kecil setelah kejatuhan pasar yang tajam.
"Pasar kripto sedang pulih, tetapi ini lebih seperti rebound kecil setelah crash kemarin. Tidak ada berita besar yang benar-benar mendorong lonjakan ini." – Min Jung, Analis Presto Research
Pemulihan Bitcoin dan pasar kripto didorong oleh beberapa faktor. Misalnya, Trump Membatalkan Kenaikan Tarif 50% untuk Baja dan Aluminium Kanada.
Lalu, Ukraina Setuju Gencatan Senjata 30 Hari, Trump Siap Bicara dengan Putin. Senator Cynthia Lummis Kembali Ajukan RUU Cadangan Bitcoin AS. Terakhir, Investor Menunggu Data Inflasi CPI yang Dirilis Hari Ini.
Pelemahan dolar AS juga menjadi faktor yang membantu kenaikan Bitcoin, karena investor kembali masuk ke aset berisiko setelah kejatuhan tajam di pasar saham.
Analis dari LVRG Research memperingatkan bahwa pemulihan ini belum tentu berarti Bitcoin kembali bullish.
"Bitcoin dan kripto memang menemukan titik pemulihan, tetapi ini hanya koreksi dari sentimen pasar yang terlalu negatif kemarin,'' kata Nick Ruck, Direktur Riset LVRG
Beberapa faktor kunci yang masih membayangi pasar misalnya data inflasi CPI yang akan dirilis hari ini bisa memengaruhi keputusan suku bunga The Fed.
Lalu, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19 Maret akan menentukan arah kebijakan moneter AS. Terakhir, volatilitas tetap tinggi akibat kebijakan tarif Trump dan ketidakpastian ekonomi global.
Menurut CME Group's FedWatch Tool, saat ini ada 96% kemungkinan bahwa suku bunga akan tetap di 4,25% - 4,50%.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
