Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 September 2025 | 17.12 WIB

The Fed Siap Potong Suku Bunga, Tapi Kenapa Bitcoin Masih Sulit Tembus Rp 1,9 Miliar?

Ilustrasi kebijakan The Fed yang mempengaruhi pasar kripto. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Harga Bitcoin (BTC) bergerak lesu di kisaran USD 111.000 atau sekitar Rp 1,82 miliar, meski pasar kini hampir yakin bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) akan memangkas suku bunga pada rapat kebijakan Selasa (17/9) mendatang.

Kondisi ini terbilang kontras dengan teori umum. Biasanya, pelemahan data ekonomi Amerika akan memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter dan memicu kenaikan harga aset berisiko seperti kripto. Namun, hal itu tampaknya belum cukup mengangkat Bitcoin secara signifikan kali ini.

Sinyal pemangkasan bunga muncul setelah laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) Agustus hanya mencatatkan 22.000 lapangan kerja baru, jauh di bawah ekspektasi 75.000. Data yang lemah ini mendorong peluang pemangkasan suku bunga The Fed menjadi nyaris 100%, menurut CME FedWatch Tool. Bahkan ada kemungkinan 10% The Fed memangkas bunga sebesar 50 basis poin sekaligus.

Meski begitu, Bitcoin justru hanya naik 0,56% dalam 24 jam terakhir, diperdagangkan di sekitar USD 111.800 atau Rp 1,83 miliar pada Senin pagi.

Menurut analis Rachael Lucas dari BTC Markets, pasar tampaknya sudah mengantisipasi kabar dovish ini lebih dulu. "Ekspektasi The Fed yang melunak memang biasanya positif untuk Bitcoin, tapi kali ini efeknya bisa jadi sudah masuk ke harga. Banyak institusi yang justru ambil untung duluan," jelasnya.

Vincent Liu, CIO di Kronos Research, menyebut bahwa pemangkasan suku bunga bisa menjadi sinyal kelemahan ekonomi, bukan dorongan untuk reli. “Tanpa ada arus masuk besar dari ETF atau ekspansi likuiditas baru, Bitcoin akan kesulitan menembus USD 120.000 atau Rp 1,97 miliar,” katanya.

Data terbaru pun menguatkan analisis ini. Aliran dana ke ETF Bitcoin dan Ethereum cenderung melambat sepanjang awal September, jauh dibandingkan arus masuk besar pada Juli dan Agustus lalu. Ini menunjukkan bahwa minat institusional terhadap kripto mulai mendingin.

Untuk saat ini, USD 110.000 (sekitar Rp 1,81 miliar) jadi titik support penting bagi BTC. Sementara itu, menurut Lucas, Bitcoin perlu menembus level resistensi USD 113.400, USD 115.400, dan USD 117.100 untuk bisa kembali menguji angka psikologis USD 120.000.

Dari sisi on-chain, ada beberapa indikator yang masih menyimpan potensi reli. Misalnya, suplai stablecoin di jaringan blockchain yang menyentuh rekor tertinggi, serta jumlah Bitcoin di bursa yang terus menurun. Keduanya bisa menjadi “bahan bakar” bagi reli jika ada katalis yang tepat.

Namun dari luar jaringan, sentimen tetap bergantung pada beberapa faktor penting: inflasi, regulasi, dan arus ETF. Laporan inflasi mingguan, yakni Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI), akan menjadi titik krusial pekan ini.

Jika datanya lebih lunak dari perkiraan, peluang untuk pemangkasan suku bunga berlipat bisa meningkat. Sebaliknya, jika inflasi masih tinggi, Bitcoin bisa kembali tertahan di bawah level resistensinya.

Dengan sentimen investor yang kini terbagi dua antara optimisme terhadap pemangkasan suku bunga dan kekhawatiran soal likuiditas, Bitcoin sedang berada di momen penentu.

Bila pasar mendapatkan dorongan baru, entah dari ETF spot, regulasi positif, atau data inflasi yang mendukung, BTC bisa kembali ke tren naik dan menantang rekor tertinggi tahun ini. Namun jika tidak ada suntikan likuiditas segar, Bitcoin bisa terus bergerak sideways di bawah Rp 2 miliar.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore