Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juli 2025 | 20.12 WIB

Jerman Rugi Rp 54 Triliun Gegara Jual Bitcoin Terlalu Cepat

Ilustrasi Bitcoin dan Jerman. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Lonjakan harga Bitcoin yang kini menembus USD 122.000 atau sekitar Rp 1,98 miliar membuat sejumlah negara terlihat seperti "pemenang" maupun "pecundang" di pasar kripto global. Di satu sisi, ada Bhutan yang sukses mengambil untung miliaran. Di sisi lain, ada Jerman yang justru mengalami kerugian raksasa karena melepas Bitcoin terlalu cepat.

Dikutip dari BeInCrypto, Senin (15/7), Pemerintah Jerman tercatat menjual 50.000 Bitcoin pada Juli 2024, ketika harganya masih separuh dari level saat ini. Nilai penjualan tersebut saat itu hanya menghasilkan USD 3,13 miliar atau setara Rp 50,7 triliun. Padahal jika disimpan hingga hari ini, nilai totalnya bisa menyentuh lebih dari USD 6,64 miliar atau Rp 107,5 triliun.

Artinya, keputusan cepat-cepat menjual Bitcoin telah membuat Jerman kehilangan potensi keuntungan sekitar Rp 54 triliun hanya dalam setahun.

Ironisnya, Jerman sebenarnya bukan negara yang anti-kripto. Negara tersebut bahkan tercatat sebagai penerbit lisensi MiCA terbanyak di Uni Eropa, menandakan industri kripto di sana cukup hidup. Namun keputusan pemerintah menjual seluruh cadangan Bitcoin yang disita dari kasus pembajakan digital justru dianggap sebagai kesalahan besar.

Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Amerika Serikat dan Ukraina juga sempat melepas cadangan Bitcoin mereka tahun lalu. Namun keputusan ini justru memicu dorongan dari Presiden Donald Trump untuk membentuk Bitcoin Reserve nasional sebagai bagian dari kebijakan fiskal masa depan.

Sementara itu, kisah berbeda datang dari Bhutan.

Dikutip dari Bitcoinist, Senin (15/7), Pemerintah Kerajaan Bhutan baru saja menjual 512,84 BTC senilai USD 59,47 juta atau sekitar Rp 963,4 miliar dalam rentang waktu hanya empat hari, dari 10 hingga 14 Juli. Penjualan ini dilakukan bertahap melalui enam kali transfer ke platform Binance, termasuk satu transaksi jumbo sebanyak 208,56 BTC atau sekitar Rp 375 miliar.

Namun Bhutan tampaknya tidak sedang meninggalkan pasar kripto. Data dari Arkham Intelligence menunjukkan bahwa negara kecil di Asia Selatan ini masih menyimpan 11.411 BTC dengan nilai saat ini mencapai sekitar USD 1,4 miliar atau Rp 22,6 triliun.

Strategi Bhutan jelas berbeda: mereka mengambil untung saat harga naik, tapi tetap mempertahankan sebagian besar aset untuk pertumbuhan jangka panjang. Bahkan dalam sepekan terakhir, nilai total kripto Bhutan naik USD 73,3 juta hanya karena kenaikan harga Bitcoin sebesar 12,4 persen dari USD 108.000 ke USD 122.000.

Bhutan juga menyimpan 656 ETH senilai sekitar USD 1,93 juta atau Rp 31,3 miliar, yang nilainya naik 18 persen dalam sepekan terakhir. Ini memperlihatkan bahwa portofolio kripto negara bisa memberi dampak signifikan terhadap neraca keuangan negara bila dikelola aktif dan strategis.

Kisah Jerman dan Bhutan menjadi cermin bagaimana keputusan terhadap Bitcoin bisa berdampak besar pada keuangan negara. Di era saat kripto makin mapan sebagai instrumen investasi negara, pilihan untuk menjual atau menyimpan tak lagi sekadar teknis, tapi juga menyangkut keberanian melihat potensi jangka panjang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore