Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 Juli 2025 | 20.44 WIB

Bhutan Diduga Jual Bitcoin Saat Harga Tertinggi, Simpanan Rp 20 Triliun Masih Aman

Ilustrasi Bhutan dan aset Bitcoin miliknya. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Negara kecil di pegunungan Himalaya, Bhutan, kembali menarik perhatian dunia kripto setelah kedapatan mentransfer 212 Bitcoin senilai lebih dari USD 23 juta atau sekitar Rp 377 miliar (kurs Rp 16.400 per USD) ke Binance. Aksi ini terjadi hanya beberapa jam setelah harga Bitcoin mencetak rekor baru di atas USD 118.000, pada Kamis (11/7) pagi WIB.

Data ini pertama kali terpantau oleh platform analitik blockchain Arkham, yang mencatat bahwa ini bukan kali pertama Bhutan mengirim BTC ke Binance.

Sepekan sebelumnya, Bhutan juga tercatat mengirim 136 BTC senilai lebih dari Rp 230 miliar ke alamat dompet yang sama. Bahkan pada November 2024, saat harga Bitcoin mendekati USD 100.000, mereka juga mengirim BTC senilai USD 33 juta (Rp 541 miliar).

Meskipun pemerintah Bhutan belum memberikan pernyataan resmi, pola ini memberi kesan bahwa negara tersebut memanfaatkan momen harga puncak untuk menjual sebagian cadangan kripto mereka.

Biasanya, transfer Bitcoin dalam jumlah besar ke bursa sentral seperti Binance sering ditafsirkan sebagai indikasi akan terjadinya penjualan.

Menurut Arkham, Bhutan saat ini masih memiliki sekitar 11.711 BTC, senilai lebih dari USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 19,7 triliun. Angka ini mewakili hampir 40 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.

Selain Bitcoin, Bhutan juga tercatat memiliki 656 Ethereum senilai Rp 29,5 miliar, sebagian di antaranya juga telah dipindahkan ke Binance pada Mei lalu.

Seluruh aset kripto ini dikelola oleh Druk Holding & Investments (DHI), perusahaan investasi milik negara. Melalui DHI, Bhutan diam-diam membangun portofolio kripto besar selama beberapa tahun terakhir, menjadikannya sebagai negara pemilik Bitcoin terbanyak ke-6 di dunia, di bawah Amerika Serikat, Tiongkok, Inggris, Ukraina, dan Korea Utara.

Namun berbeda dengan negara lain yang mendapatkan Bitcoin lewat penyitaan atau penegakan hukum, Bhutan memilih jalur mining. Menurut investigasi onchain, sebagian besar Bitcoin Bhutan diperoleh melalui aktivitas penambangan langsung dengan bantuan kolam mining seperti Ant Pool.

Menariknya, kegiatan ini memanfaatkan keunggulan Bhutan dalam energi bersih. Negara ini memiliki pasokan listrik tenaga air yang melimpah dan murah.

Dengan memanfaatkan kelebihan pasokan listrik tersebut untuk menambang Bitcoin, Bhutan menjadikan energi terbarukan sebagai tulang punggung inovasi digitalnya.

Strategi ini sejalan dengan visi Bhutan untuk membangun ekonomi yang ramah lingkungan namun juga terintegrasi secara digital. Di saat banyak negara masih memperdebatkan dampak lingkungan dari penambangan kripto, Bhutan justru memposisikan diri sebagai contoh “green mining” yang ideal.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore