Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 Juli 2025 | 00.30 WIB

Trump Naikkan Tarif, Pasar Goyang, Investor Kripto Bersiap: Bitcoin jadi 'Bunker' Baru

Ilustrasi kebijakan Donald Trump yang membuat perangkat pendukung miner bitcoin menjadi sangat mahal. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi kebijakan Donald Trump yang membuat perangkat pendukung miner bitcoin menjadi sangat mahal. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kebijakan dagang Amerika Serikat (AS) kembali bikin panas dingin pasar global. Kali ini, Presiden AS Donald Trump yang kembali aktif berkampanye menjelang Pilpres 2025 melempar bom tarif yang bisa mengguncang ekonomi dunia. 

Tarif baru ini bukan main-main: 50 persen untuk produk tembaga impor, ancaman hingga 200 persen untuk farmasi, dan tambahan 10 persen buat negara-negara BRICS seperti India dan Indonesia. Uni Eropa? Siap-siap juga kena semprot tarif tambahan.

Masalahnya bukan cuma soal angka. Ini soal arah kebijakan perdagangan global yang makin sulit diprediksi. Pasar langsung bereaksi: harga tembaga melonjak, saham-saham sektor farmasi goyah, dan kekhawatiran inflasi membayangi ekonomi global. 

Belum lagi, ancaman tarif 25 persen sampai 40 persen juga menghantui Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia, alias semua negara yang dianggap 'tidak cukup akur' dengan AS. Nah, di tengah kekacauan ini, para investor kripto mulai menyalakan radar mereka. Fahmi Almuttaqin, analis dari platform kripto Reku, bilang situasi ini bisa jadi momen emas buat Bitcoin

Ketika pasar saham labil dan risiko inflasi meningkat, banyak investor mencari perlindungan di aset yang dianggap lebih aman. Dan Bitcoin seringkali jadi pilihan," kata dia melalui catatannya kepada JawaPos.com.

Tapi jangan salah sangka, bukan berarti segalanya akan langsung mulus. Volatilitas jangka pendek tetap ada, apalagi dengan kebijakan Trump yang bisa berubah sewaktu-waktu. Makanya, Fahmi menyarankan agar investor kripto tetap waspada, sambil memantau indikator penting kayak data inflasi, pergeseran sentimen risk-off, dan aliran modal global.

Bitcoin Bertahan, Investor Institusi Masuk Diam-diam

Di sisi lain, ada kabar menarik dari dunia on-chain. Rasio outflow/inflow Bitcoin – alias perbandingan berapa banyak Bitcoin keluar-masuk dari exchange, saat ini ada di angka 0,9. Ini level terendah sejak akhir bear market 2022. Artinya? Lebih banyak Bitcoin keluar dari bursa, yang bisa diartikan sebagai tanda akumulasi alias dibeli untuk disimpan, bukan dijual.

"Meski ada tekanan jual jangka pendek, harga Bitcoin tetap kuat di rentang USD100K–USD 110K," kata Fahmi.

Lebih menarik lagi, ada lebih dari 19.400 BTC yang diam-diam dipindahkan dari wallet lama (usia 3–7 tahun) ke wallet institusional. Menurutnya, ini sinyal bahwa pemain besar, entah itu hedge fund atau perusahaan besar, mulai menempatkan posisi strategis.

Kalau tren ini lanjut, bisa jadi kita bakal melihat rally besar-besaran di semester kedua 2025. "Level USD 100K sekarang bukan cuma support teknikal, tapi zona akumulasi baru secara fundamental," jelas Fahmi.

Bagi investor ritel, ini bisa jadi saat tepat buat mulai strategi Dollar-Cost Averaging alias DCA, beli secara bertahap biar nggak terjebak di harga puncak. Tapi ingat, meski sinyal akumulasi makin kuat, risiko tetap ada.

Volatilitas jangka pendek dan potensi tekanan jual bisa bikin pasar goyang sewaktu-waktu. Jadi, tetap atur strategi, sesuaikan porsi investasi, dan jangan lupa, kunci utama di dunia kripto adalah disiplin dan manajemen risiko.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore