Ilustrasi emas dan bitcoin yang harganya melonjak. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Harga Bitcoin dan emas mencatatkan kenaikan pada Selasa waktu Amerika Serikat atau Rabu (7/5) waktu Indonesia, di tengah sikap hati-hati investor menjelang keputusan kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya ketegangan geopolitik dan isu perang dagang.
Data pasar menunjukkan, harga Bitcoin stabil di USD 97.500 atau sekitar Rp 1,63 miliar (kurs Rp 16.800 per USD). Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini bertahan di level tertinggi sejak Februari lalu. Sementara itu, harga emas spot naik 0,7 persen menjadi USD 3.357 per ons, didorong oleh meningkatnya permintaan aset aman (safe haven).
Kondisi ini terjadi saat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tengah menggelar rapat selama dua hari dan akan mengumumkan keputusannya pada Rabu malam waktu AS atau Kamis pagi waktu Indonesia. Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen.
Namun, fokus utama ada pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell. Pelaku pasar akan mencermati apakah ada perubahan nada terhadap inflasi yang masih tinggi serta pelemahan permintaan konsumen dalam beberapa pekan terakhir.
Sementara itu, ketegangan geopolitik turut mewarnai dinamika pasar. Serangan rudal Houthi dari Yaman ke dekat Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, menyebabkan delapan orang terluka dan menghentikan lalu lintas udara sementara.
Israel merespons dengan serangan udara ke wilayah Houthi di Yaman, termasuk bandara internasional Sanaa, pabrik semen, dan fasilitas listrik, yang menewaskan sedikitnya tiga orang.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengadopsi kebijakan perdagangan proteksionis, mengumumkan tarif baru untuk produk farmasi dan media asing. Langkah ini memunculkan kekhawatiran akan aksi balasan dari mitra dagang dan semakin memperkeruh arus perdagangan global.
Meski begitu, pasar saham Asia mengalami penguatan pada Rabu pagi, ditopang kabar positif soal dibukanya kembali pembicaraan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Dolar AS juga sedikit menguat menjelang pernyataan The Fed.
Khusus Bitcoin, penguatan ini juga didukung oleh arus dana dari ETF Bitcoin dan spekulasi bahwa The Fed bisa saja melonggarkan kebijakan moneter di paruh kedua tahun ini.
Meski masih terpaut sekitar 10 persen dari rekor tertingginya di USD 108.786 (sekitar Rp 1,82 miliar) yang tercapai Januari lalu, sejumlah analis menilai peluang Bitcoin menembus USD 100.000 masih terbuka lebar.
“Jika The Fed memberikan sinyal dovish dan membuka kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Juni, Bitcoin bisa melonjak kembali ke USD 100.000. Itu adalah level psikologis sekaligus magnet likuiditas,” kata Nic Puckrin, pendiri Coin Bureau, seperti dikutip dari Decrypt.
Keputusan dan pidato Powell nanti malam akan menjadi kunci arah pasar ke depan, apakah bank sentral mulai membuka jalan untuk pelonggaran, atau tetap bertahan akibat inflasi dan risiko geopolitik yang masih membayangi.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
