
Robert Kiyosaki. (AZcoinnews)
JawaPos.com – Penulis buku laris Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali menggugah dunia finansial dengan prediksinya yang cukup berani.
Ia menyatakan bahwa Bitcoin berpotensi melampaui USD 200.000 (setara Rp 3,2 miliar) tahun ini. Namun, menurutnya, sebagian besar orang justru akan melewatkan peluang tersebut karena terjebak dalam rasa takut yang mendalam.
Dalam unggahan di platform X pada Sabtu (23/3), Kiyosaki mengungkapkan bahwa alasan utama mengapa orang miskin tetap miskin bukan karena kurang pintar, melainkan karena mereka terjebak dalam FOMM—Fear of Making Mistakes atau rasa takut untuk membuat kesalahan.
Baginya, FOMM justru lebih menghambat daripada FOMO (Fear of Missing Out). “Peluang terbesar dalam sejarah sudah ada di depan mata. Bitcoin membuat siapa pun bisa menjadi kaya. Tapi sebagian besar orang yang takut salah langkah justru akan melewatkannya,” tulis Kiyosaki.
Menurut dia, mereka yang akhirnya akan mendapat keuntungan besar adalah kalangan yang meskipun awalnya takut, tetap nekat mengambil keputusan sebelum Bitcoin melejit lebih tinggi.
“Kalau sejarah jadi patokan, gelombang FOMO dalam Bitcoin akan berubah menjadi kekayaan lintas generasi... sementara mereka yang dilumpuhkan FOMM hanya bisa berkata: ‘Bitcoin sudah terlalu mahal,’ ketika harganya sudah menembus USD 200.000,” lanjutnya.
Kiyosaki menekankan bahwa peluang emas ini masih terbuka, namun waktu untuk mengambil keputusan semakin sempit.
Ia mendorong para pengikutnya untuk tidak hanya mendengarkan pandangannya saja, tapi juga memperluas wawasan dari berbagai sudut pandang—baik yang pro maupun kontra terhadap Bitcoin.
Ia menyarankan publik untuk mengikuti pemikiran para tokoh seperti Jeff Booth, Michael Saylor, Samson Mow, Max Keiser, Donald Trump, George dari Cryptos R Us, Mark Moss, Larry Lepard, Kathy Wood, Raoul Pal, dan Anthony Scaramucci.
Di sisi lain, katanya, penting pula mendengar kritik dari para penentang Bitcoin, agar bisa menimbang secara objektif.
Sebagai pendukung Bitcoin sejak lama, Kiyosaki memandang aset digital ini sebagai alat keuangan revolusioner dan pelindung nilai dari pelemahan mata uang fiat.
Ia juga kerap memperingatkan tentang rapuhnya ekonomi global, turunnya nilai dolar AS, dan sistem pendidikan konvensional yang menurutnya tidak lagi relevan dalam mengajarkan kecerdasan finansial.
“Kuncinya adalah pendidikan. Atasi ketakutan membuat kesalahan, dan ambil peluang seperti Bitcoin sebelum semuanya terlambat,” tutup Kiyosaki.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
