Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Desember 2020 | 02.15 WIB

Investasi Terbaik Dalam Hidup adalah Kesehatan

I.G.A.R Kusuma Yudha alias Ade Rai. (Istimewa) - Image

I.G.A.R Kusuma Yudha alias Ade Rai. (Istimewa)

JawaPos.com - Tubuh yang sehat adalah kebutuhan dasar bagi setiap orang. Kesehatan adalah prasyarat untuk menjalankan tugas, peran, dan tanggung-jawab hidup. Kesehatan adalah modal dalam perjalanan mewujudkan cita-cita. Kesehatan juga diharapkan untuk terus ada, agar cita-cita yang terwujud bisa terus dinikmati.

Brand Ambassador BPJS Kesehatan I.G.A.R Kusuma Yudha atau yang akrab disapa Ade Rai mengatakan, bagi banyak orang, kesehatan sudah didapat sejak lahir. Ibarat uang, setiap bayi yang terlahir sehat sudah memiliki jumlah uang yang banyak. Uang tersebut bila dikonsumsikan atau dikuras, maka cepat atau lambat akan habis.

Saat uang tersebut habis, maka kemiskinanlah yang didapat. Namun bila diinvestasikan dengan tepat, maka akan berbunga dan bertambah jumlahnya.

“Apabila kesehatan habis dikuras, maka statusnya turun menjadi miskin sehat atau sakit. Apabila kesehatan diinvestasikan dengan tepat, maka statusnya akan meningkat menjadi kaya sehat atau bugar,” ujarnya, seperti dikutip Minggu (29/11).

Menurutnya, kesehatan tubuh, walaupun diakui kepentingannya dan disyukuri keberadaannya, namun dalam kebiasaan sehari-hari baik disadari atau tidak, kegiatan menguras kesehatan lebih banyak dan konsisten daripada kegiatan menginvestasikannya.

Salah satu wujud nyata adalah meningkatnya jumlah dan persentase penderita penyakit non- communicable diseases (NCD) atau penyakit degeneratif tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes, dan penyakit saluran nafas kronis.

NCD disebabkan oleh pola atau kebiasaan hidup yang meningkatkan kadar lemak tubuh dan menguras kesehatan, seperti kurang atau tidak berolahraga secara teratur, konsumsi gula-tepung- minyak berlebih yang menyebabkan inflamasi (radang), merokok, juga konsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tanggal 1 Juni 2018, WHO menyatakan NCD mengkontribusikan pada 71 dari 100 kematian di dunia, dengan total angka 41 juta jiwa. Dari 41 juta jiwa tersebut, 15 juta jiwa berada dalam rentang usia dini, yakni 30 sampai 69 tahun.

“85 persen dari kematian dini tersebut adalah pada penduduk di negara dengan penghasilan rendah dan sedang, termasuk Indonesia.

Dalam laporan terpisah, WHO di situs resminya menyatakan NCD adalah kontributor kematian terbesar di dunia2. WHO juga menyatakan NCD telah menjadi epidemi yang kerap diremehkan dampaknya dalam menyebabkan kemiskinan dan terhambatnya laju perekonomian di berbagai negara di dunia,” jelasnya.

Sementara, berdasarkan catatan yang dimiliki BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan menunjukkan NCD atau yang juga dikenal sebagai penyakit katastropik sebagai beban pendanaan JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat) yang besar dan semakin meningkat setiap tahunnya.

Dari data BPJS Kesehatan diketahui jumlah kasus dan pembiayaan penyakit katastropik dari 2014 hingga 2018 terjadi kenaikan. Pada 2014 terdapat 6.116.535 kasus dengan total pembiayaan sebesar Rp 9.126.141.566.873. Sedangkan pada 2018, terdapat 19.243.141 kasus dengan jumlah pembiayaan 20.429.409.135.197.3 Terjadi peningkatan 314,6 persen untuk jumlah kasus penyakit katastropik, dan peningkatan 224 persen dalam beban pembiayaannya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore