Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Juli 2026 | 06.30 WIB

Berat Badan Normal Tak Berarti Terhindar dari Penyakit Kardiovaskular, Kuncinya Tetap Kontrol Kadar LDL-C

Ilustrasi: Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit paling membunuh di dunia. (Today's RDH). - Image

Ilustrasi: Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit paling membunuh di dunia. (Today's RDH).

JawaPos.com - Banyak orang beranggapan bahwa memiliki berat badan normal berarti terbebas dari risiko penyakit kardiovaskular. Sebab, obesitas seringkali menjadi patokan utama faktor penyakit ini. Padahal, indikator yang lebih penting untuk diperhatikan adalah kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) karena peningkatannya dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orang bertubuh langsing.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP menjelaskan, seseorang dengan indeks massa tubuh (BMI) normal tetap bisa memiliki kadar LDL-C tinggi akibat penumpukan lemak visceral, faktor genetik, resistensi insulin, maupun pola makan yang kurang sehat.

"Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat. Seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh atau BMI yang normal, tetapi menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh," ujarnya dalam sesi edukasi media yang digelar PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) di Jakarta, Kamis (23/7).

Ia menjelaskan, lemak visceral dapat memicu resistensi insulin sekaligus meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Karena dislipidemia umumnya tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan darah menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat.

"Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat. Karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat penting," tegas dr. Susetyo.

Risiko Tetap Mengintai Meski Berat Badan Ideal

dr. Susetyo mengungkapkan, sejumlah studi kohort besar di Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara lain menunjukkan bahwa orang dewasa dengan berat badan normal tetapi memiliki gangguan metabolik berisiko mengalami penyakit kardiovaskular sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan individu dengan berat badan serupa yang metaboliknya sehat.

Risiko tersebut dinilai semakin relevan bagi masyarakat Asia karena populasi Asia cenderung menyimpan lemak visceral pada berat badan yang lebih rendah dibandingkan populasi Barat. Penampilan fisik maupun angka timbangan pun tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur kesehatan metabolik.

Karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol dan mendeteksi risiko penyakit jantung maupun stroke sejak dini.

Target LDL-C Harus Disesuaikan dengan Risiko Pasien

Menurut dr. Susetyo, pedoman terbaru merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan minimal 50 persen dari kadar awal.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore