
Ilustrasi: Penyakit kardiovaskular menjadi penyakit paling membunuh di dunia. (Today's RDH).
JawaPos.com - Banyak orang beranggapan bahwa memiliki berat badan normal berarti terbebas dari risiko penyakit kardiovaskular. Sebab, obesitas seringkali menjadi patokan utama faktor penyakit ini. Padahal, indikator yang lebih penting untuk diperhatikan adalah kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) karena peningkatannya dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orang bertubuh langsing.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP menjelaskan, seseorang dengan indeks massa tubuh (BMI) normal tetap bisa memiliki kadar LDL-C tinggi akibat penumpukan lemak visceral, faktor genetik, resistensi insulin, maupun pola makan yang kurang sehat.
"Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat. Seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh atau BMI yang normal, tetapi menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh," ujarnya dalam sesi edukasi media yang digelar PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) di Jakarta, Kamis (23/7).
Ia menjelaskan, lemak visceral dapat memicu resistensi insulin sekaligus meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Karena dislipidemia umumnya tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan darah menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat.
Baca Juga:Di Tengah Kekhawatiran AS, Jensen Huang Minta AI Open Source Tiongkok Dirangkul, Bukan Dilarang
"Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat. Karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat penting," tegas dr. Susetyo.
dr. Susetyo mengungkapkan, sejumlah studi kohort besar di Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara lain menunjukkan bahwa orang dewasa dengan berat badan normal tetapi memiliki gangguan metabolik berisiko mengalami penyakit kardiovaskular sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan individu dengan berat badan serupa yang metaboliknya sehat.
Risiko tersebut dinilai semakin relevan bagi masyarakat Asia karena populasi Asia cenderung menyimpan lemak visceral pada berat badan yang lebih rendah dibandingkan populasi Barat. Penampilan fisik maupun angka timbangan pun tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur kesehatan metabolik.
Karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol dan mendeteksi risiko penyakit jantung maupun stroke sejak dini.
Menurut dr. Susetyo, pedoman terbaru merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan minimal 50 persen dari kadar awal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022