Melalui berbagai inovasi tersebut, menargetkan layanan kesehatan digital tidak berhenti pada akses awal semata, tetapi mampu menghasilkan tindakan kesehatan yang tepat dan mudah dijangkau masyarakat. (Dok. IST)
JawaPos.com - Memasuki usia satu dekade, Halodoc memperkuat langkahnya dalam membangun ekosistem kesehatan digital yang lebih terintegrasi.
Tidak lagi sekadar platform telekonsultasi, perusahaan itu kini menyiapkan layanan yang semakin personal, proaktif, dan dekat dengan kebiasaan masyarakat.
Dalam peringatan ulang tahun ke-10 di Jakarta, Senin (25/5), Halodoc menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem layanan kesehatan dari hulu hingga hilir.
Fokusnya mencakup tiga pilar utama, yakni pasien, tenaga kesehatan, dan mitra ekosistem melalui berbagai inovasi digital terbaru.
Chief Operating Officer Halodoc Alfonsius Timboel menjelaskan, perjalanan selama sepuluh tahun berawal dari persoalan sederhana: akses layanan kesehatan yang belum merata di Indonesia.
Kini, Halodoc telah berkembang menjadi ekosistem digital yang menghubungkan masyarakat dengan dokter, apotek, laboratorium, hingga fasilitas kesehatan.
“Sepuluh tahun lalu, kami memulai Halodoc dari pertanyaan sederhana: mengapa akses layanan kesehatan belum merata bagi banyak orang Indonesia? Hari ini, kami bersyukur dapat melayani jutaan masyarakat Indonesia, mulai dari konsultasi dokter, pembelian obat, layanan laboratorium, hingga pemantauan kesehatan keluarga," ungkap Alfonsius Timboel.
"Milestone terbesar kami bukanlah peluncuran produk, melainkan momen-momen ketika teknologi benar-benar membantu kehidupan masyarakat, termasuk saat pandemi COVID-19. Memasuki dekade berikutnya, kami fokus membangun layanan kesehatan yang tidak hanya digital, tetapi semakin proaktif, personal, dan relevan dengan kebutuhan serta kebiasaan masyarakat yang terus berubah seiring berjalannya waktu,” sambungnya.
Memasuki fase baru tersebut, Halodoc memperkenalkan sejumlah inovasi. Salah satunya HILDA yang kini berkembang menjadi layanan Halodoc on WhatsApp. Selain itu, perusahaan juga meluncurkan fitur Family Care yang ditujukan bagi kebutuhan pengelolaan kesehatan keluarga.
HILDA yang diluncurkan pada 2025 tercatat telah digunakan dalam lebih dari dua juta sesi interaksi. Pengguna memanfaatkan layanan itu untuk mencari dokter spesialis, memperoleh informasi kesehatan, hingga informasi obat dan vitamin.
Tingginya penggunaan dinilai menunjukkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan digital yang lebih proaktif.
Melalui WhatsApp, masyarakat kini dapat mengakses informasi kesehatan dan membeli obat tanpa perlu mengunduh aplikasi ataupun melakukan login. Halodoc juga menjanjikan keaslian produk serta layanan pengiriman obat dalam waktu singkat.
Di sisi lain, fitur Family Care hadir untuk membantu para caregiver keluarga. Data internal Halodoc menunjukkan mayoritas pengguna berperan sebagai pendamping kesehatan keluarga dan didominasi ibu.
Fitur tersebut memungkinkan pengguna mengelola profil, rekam medis, hingga jadwal kesehatan seluruh anggota keluarga dalam satu tampilan terintegrasi.
Tak hanya menyasar pasien, Halodoc juga memperkuat sisi tenaga kesehatan. Melalui Halodoc Academy, perusahaan menyediakan program peningkatan kompetensi bagi dokter, perawat, bidan, apoteker, dan tenaga kesehatan lain.
Hingga kini, program tersebut telah diikuti lebih dari 123 ribu peserta dengan total 180 pelatihan yang digelar.
“Halodoc tumbuh bersama tenaga kesehatan sejak hari pertama. Kualitas layanan dan kepatuhan regulasi menjadi standar yang kami bangun sejak awal, dan BoME memastikan setiap inovasi tetap berpijak pada prinsip clinical safety," jelas dr. Irwan.
"Tidak ada bagian dari inovasi kami yang dirancang untuk menggantikan peran tenaga kesehatan, sebaliknya, teknologi dan inovasi ini hadir untuk memperkuat layanan yang mereka berikan, dan harapannya dapat mempermudah perjalanan medis, baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan,” pungkasnya.