Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 September 2025 | 21.09 WIB

Pakar Kesehatan Nilai Persepsi Keliru Hambat Upaya Pengurangan Risiko Rokok di Indonesia

Ilustrasi: Tembakau yang dipanaskan sama bahayanya dengan tembakau biasa. (Holland Hospital) - Image

Ilustrasi: Tembakau yang dipanaskan sama bahayanya dengan tembakau biasa. (Holland Hospital)

JawaPos.com - Salah kaprah mengenai produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik, tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, masih menjadi perdebatan di banyak negara, termasuk Indonesia. Sebagian besar masyarakat masih menganggap produk-produk ini sama berbahayanya, atau bahkan lebih berbahaya, daripada rokok konvensional.

Temuan itu terungkap dalam tinjauan sistematis berjudul “Interventions to change vaping harm perceptions and associations between harm perceptions and vaping and smoking behaviours” yang dipublikasikan di jurnal Addiction pada Juli 2025. Studi ini menyoroti bahwa persepsi keliru membuat banyak perokok dewasa enggan beralih ke produk yang dinilai memiliki risiko kesehatan lebih rendah dibanding rokok.

Profesor Ann McNeill, pakar kecanduan tembakau dari King’s College London (KCL), menegaskan bahwa informasi yang tidak tepat justru bisa menghalangi perubahan perilaku. "Anggapan bahwa produk tembakau alternatif sama berbahayanya dengan rokok bisa menutup peluang bagi perokok dewasa untuk mengurangi dampak kesehatan yang mereka alami. Padahal, bukti ilmiah menunjukkan meski tidak bebas risiko, produk ini lebih rendah risiko daripada merokok," ujarnya, dikutip dari laman KCL.

Tinjauan tersebut menganalisis 85 studi terkait komunikasi risiko pada remaja dan orang dewasa. Hasilnya, kampanye yang terlalu menekankan bahaya dan sifat adiktif produk alternatif memang berhasil meningkatkan kewaspadaan publik, tetapi sekaligus memperkuat kesalahpahaman bahwa dampaknya setara dengan rokok.

Situasi serupa juga dihadapi Indonesia. Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, menyebut kesalahpahaman publik menjadi salah satu hambatan serius dalam menekan angka perokok.

"Banyak perokok dewasa ragu beralih karena takut salah langkah. Akhirnya, mereka tetap merokok dan kehilangan kesempatan untuk mengurangi risikonya," kata Paido.

Ia menambahkan, sejumlah negara seperti Inggris, Selandia Baru, dan Jepang telah memanfaatkan produk tembakau alternatif sebagai bagian dari strategi harm reduction dan terbukti mampu menurunkan prevalensi merokok. Namun di Indonesia, informasi semacam ini masih terbatas, bahkan kerap tenggelam oleh stigma dan misinformasi.

Meski begitu, para ahli menekankan bahwa produk tembakau alternatif bukan solusi instan. Produk ini tetap mengandung risiko dan sama sekali tidak ditujukan bagi anak-anak maupun non-perokok. "Informasi yang jujur dan seimbang perlu diberikan kepada masyarakat. Produk alternatif memang bukan tanpa risiko, tetapi risikonya lebih rendah daripada rokok. Hal ini penting dipahami agar publik tidak terjebak pada persepsi keliru," jelas Paido.

Akvindo sendiri mengaku telah melakukan sejumlah upaya, mulai dari kampanye edukasi berbasis data, dialog dengan regulator, kerja sama dengan tenaga kesehatan, hingga pendampingan konsumen dewasa yang ingin berhenti merokok.

Para peneliti menilai komunikasi publik menjadi kunci dalam mengoreksi misinformasi. Informasi yang akurat, proporsional, dan berbasis bukti ilmiah harus menjadi landasan agar masyarakat dapat membuat keputusan yang tepat.

Dengan prevalensi perokok yang masih tinggi, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya soal regulasi, tetapi juga bagaimana menghadirkan informasi yang benar dan dapat dipercaya agar langkah pengurangan risiko dapat berjalan lebih efektif.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore