Ilustrasi seorang lansia yang terkena penyakit TBC (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui udara dengan perantara droplets atau partikel kecil yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau bahkan berbicara.
Bakteri yang telah masuk ke tubuh seseorang umumnya akan menyerang dan menginfeksi paru-paru. Namun, jika kondisi ini tidak segera ditangani, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain, seperti tulang belakang, kelenjar getah bening, atau ginjal.
Berdasarkan data dari WHO, TBC berada di urutan ke-13 dalam kategori penyakit yang paling banyak memakan korban jiwa. Dikutip dari laman resmi Kemenkes, Global TB Report tahun 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penderita TBC terbanyak kedua setelah India, dengan jumlah laporan mencapai 1.090.000 kasus. Angka ini sangat mengkhawatirkan, mengingat TBC adalah penyakit berbahaya yang mudah menular. Data itu menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan penanganan serius yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
Cara Efektif untuk Melakukan Pencegahan
Dikutip dari Halodoc, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan TBC, seperti melalui pemberian vaksin. Pencegahan tuberkulosis dapat dilakukan dengan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk wajib dan diberikan sebelum bayi berusia tiga bulan. Selain itu, BCG juga disarankan untuk anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang belum pernah mendapatkannya saat masih bayi.
Hal berikutnya yang juga penting adalah menyediakan ruangan dengan ventilasi yang memadai. Penyebaran bakteri TBC melalui udara dapat dikurangi risikonya dengan sirkulasi udara yang baik. Disarankan juga untuk memakai masker saat bepergian ke luar ruangan.
Langkah Pengobatan yang Tepat
Pengobatan TBC dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter selama enam hingga sembilan bulan. Selama proses ini, penderita harus disiplin mengikuti aturan minum obat dan tidak menghentikannya tanpa izin dokter. Jika obat dihentikan terlalu cepat, ada risiko bakteri TBC menjadi kebal (resisten) terhadap pengobatan. Dalam kondisi ini, penderita mungkin memerlukan waktu pengobatan yang lebih panjang dengan jenis terapi berbeda, yang berpotensi memberi dampak lebih besar pada tubuh.
Biasanya dokter akan meresepkan lebih dari satu jenis obat (terapi kombinasi) untuk menangani TBC. Jenis obat yang sering digunakan adalah pirazinamid, isoniazid, rifampisin, etambutol, dan rifapentin. Penggunaan obat terapi TBC bisa menimbulkan efek samping, seperti warna urine kemerahan, gangguan penglihatan, gangguan saraf, dan gangguan fungsi hati.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
