Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 September 2025 | 18.29 WIB

Resistensi Antibiotik Meningkat, Dokter Ingatkan Pentingnya Antimicrobial Stewardship

Ilustrasi resistensi antibiotik. (NPS MedicineWise) - Image

Ilustrasi resistensi antibiotik. (NPS MedicineWise)

JawaPos.com-Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) menjadi salah satu ancaman kesehatan global paling serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut AMR sebagai silent pandemic karena bisa membuat infeksi ringan sekalipun menjadi sulit diobati akibat kuman yang kebal terhadap antibiotik.

Untuk menekan risiko tersebut, para pakar kesehatan menekankan pentingnya penerapan Antimicrobial Stewardship (AMS) atau program pengelolaan antibiotik yang bijak. Tujuannya memastikan penggunaan antibiotik tepat sasaran, baik dari segi jenis obat, dosis, maupun durasi pemakaian, berdasar diagnosis laboratorium yang akurat.

Menurut Prof. Dr. dr. Rianto Setiadudy, Sp.FK, resistensi bisa terjadi bila antibiotik digunakan sembarangan.

“Antibiotic Stewardship pada dasarnya adalah cara mengatur penggunaan antibiotik agar tepat sasaran. Dengan begitu, antibiotik tetap efektif melawan penyakit dan risiko resistensi bisa ditekan,” jelas Rianto Setiadudy dalam seminar Antimicrobial Stewardship yang diselenggarakan RSRP di Jakarta.

Resistensi bakteri juga tidak bisa dicegah hanya oleh dokter. Dr. dr. Latre Buntaran, Sp.MK(K) menekankan perlu strategi menyeluruh.

“Rumah sakit harus punya kebijakan jelas, mulai dari edukasi tenaga medis, regulasi internal, hingga pemantauan data resistensi di lapangan,” ujar Latre Buntaran.

Sementara itu, area perawatan intensif (ICU) disebut sebagai lokasi paling rentan terhadap resistensi antibiotik. Prof. Dr. dr. Amir Sjarifuddin Madjid, Sp.An-KIC menegaskan, pemantauan antibiotik di ICU harus ekstra ketat.

"Tim yang terdiri dari dokter, perawat, farmasis, dan mikrobiolog perlu bekerja bersama agar terapi pasien kritis tetap aman dan efektif," kata Amir Sjarifuddin Madjid.

Yang paling penting diketahui adalah setiap pasien memiliki kondisi tubuh berbeda, sehingga kebutuhan antibiotiknya tidak bisa disamaratakan. Dokter Adeline Intan Pratiwi Pasaribu, Sp.PD menjelaskan, dengan prinsip pharmacokinetics dan pharmacodynamics, dokter bisa menentukan dosis dan lama penggunaan antibiotik yang paling tepat,  ukup kuat melawan infeksi, tapi tetap aman bagi tubuh pasien.

Para pakar sepakat bahwa kunci sukses melawan resistensi adalah kolaborasi lintas profesi. Program AMS hanya dapat berjalan efektif jika dokter, perawat, farmasis, mikrobiolog, hingga tim pengendalian infeksi bekerja bersama.

Dukungan Teknologi Diagnostik

Kolaborasi rumah sakit dengan laboratorium berstandar internasional juga diyakini dapat membantu menekan resistensi. Derice Sumantri, CEO Progress Healthcare, menambahkan bahwa program AMS sejalan dengan target Kementerian Kesehatan untuk menekan angka resistensi di Indonesia. 

“Harapan kami, laboratorium berstandar internasional dapat memberikan hasil yang lebih cepat, tepat, dan accountable,” beber Derice Sumantri.

Penerapan AMS tidak hanya penting di rumah sakit, tetapi juga perlu disertai edukasi publik. Pasien diimbau tidak mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua penyakit, terutama yang disebabkan virus, membutuhkan antibiotik.

Dengan meningkatnya kesadaran tenaga medis dan masyarakat, serta dukungan teknologi laboratorium, diharapkan Indonesia bisa lebih siap menghadapi ancaman global resistensi antimikroba.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore