Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Desember 2023 | 17.20 WIB

Benarkah Daging Analog atau Daging Tiruan dari Tumbuhan Lebih Sehat Bagi Kesehatan?

Ilustrasi daging sedang dipotong / sumber: news-medical.net - Image

Ilustrasi daging sedang dipotong / sumber: news-medical.net

JawaPos.com – Makin merebaknya virus dan mudahnya tubuh terpapar penyakit, masyarakat saat ini lebih memprioritaskan pola makan sehat sebagai langkah perlindungan diri.

Perubahan utama yang terjadi adalah pergeseran dari mengonsumsi makanan berbahan dasar hewani menjadi makanan berbahan dasar nabati.

Motivasi utama di balik perubahan ini adalah keinginan untuk tetap memperoleh gizi yang memadai sambil menghindari risiko penyakit seperti tingginya kandungan lemak dan kolesterol.

Selain itu, pola diet yang tidak melibatkan konsumsi sumber hewani dapat membantu mengurangi risiko penyakit seperti diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, dan beberapa jenis kanker.

Pergeseran menuju konsumsi lebih banyak makanan nabati dianggap sebagai solusi untuk memperoleh sumber protein yang tetap meminimalkan risiko kesehatan.

Sebab sayuran juga mengandung nutrisi seperti potassium yang dapat menurunkan tekanan darah serta mengurangi garam berlebih.

Dikutip dari News Medical Life Sciences pada Jumat (1/12), tim peneliti di Ontario, Kanada, telah menemukan metode baru untuk membuat pengganti daging dengan kualitas serat yang sama seperti dada ayam.

Meskipun rasanya enak, untuk mencapai kesamaan dengan cita rasa daging asli, diperlukan penambah rasa yang berasal dari protein tumbuhan.

Dalam upaya menerapkan program diet, banyak orang memilih daging analog yang terbuat dari protein nabati dengan sifat-sifat mirip daging asli.

Daging analog memiliki keunggulan seperti kemampuan untuk disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi tubuh, konsistensi yang homogen, dan daya tahan yang lebih lama.

Bahan baku yang digunakan untuk daging analog mencakup jamur, polong-polongan, tempe, tepung ubi, tahu, dan nasi dengan penambahan perasa daging seperti ayam, sapi, domba, atau seafood.

Syarat utama adalah bahwa bahan nabati tersebut harus memiliki serat yang menyerupai daging dan kenyal.

Dalam proses pembuatan daging analog, terjadi ekstrusi yang melibatkan transfer massa, pencampuran, pemanasan, pemasakan, dan pembentukan pada suhu tinggi.

Reaksi yang terjadi termasuk gelatinisasi pati, denaturasi protein, dan pembentukan gelasi pada protein nabati.

Meskipun daging analog memiliki mutu cerna yang baik, kualitas proteinnya terbatas karena kandungan asam amino esensialnya yang kurang lengkap.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore