
Ilustrasi proses program bayi tabung. Ada beberapa alasan yang menyebabkan program bayi tabung tidak berhasil
JawaPos.com - Tren program bayi tabung kini semakin populer. Untuk beberapa kasus infertilitas sulit, teknologi bayi tabung (in-vitro fertilization/ IVF) dikenal sebagai salah satu upaya program kehamilan yang membantu pasangan mendapatkan keturunan. Bayi tabung kini semakin tren bagi mereka yang merencanakan kehamilan namun memiliki kendala gangguan kesuburan (infertilitas).
President Director Morula IVF Indonesia, dr. Ivan Rizal Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, MMIS, SpOG, menjelaskan, sebanyak 300 ribu pasangan butuh program bayi tabung setiap tahun. Dan hanya sebagian yang berhasil menjangkau aksesnya.
"Sebanyak 40 persen dari pasangan yang menjangkau program bayi tabung ada di kami," kata dr. Ivan dalam Morula Fertility Fest 2021 penanaman 2.500 bibit pohon dan menebar benih ikan di Cimanggis, Depok, Rabu (9/6) secara daring.
Baca Juga: Saran Dokter Agar Dapat Momongan Lewat Program Bayi Tabung Berhasil
Managing Director Morula IVF Indonesia Ade Gustian Yuwono mengatakan, menanam embrio lewat bayi tabung sama dengan filosofi menanam pohon. Artinya, harus memilih bibit atau embrio yang juga baik hingga bisa tumbuh optimal.
"Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelangsungan ekosistem lingkungan di sekitar kita yang berperan besar mendukung generasi masa depan, termasuk anak-anak kita nanti," kata Ade.
Dan sayangnya, ada 4 ribu pasangan setiap tahun ke Malaysia untuk mengikuti program bayi tabung. Tentu hal itu merogoh kocek yang besar untuk pengobatan dan biaya akomodasi.
Dan ingat, tak semua program bayi tabung pasti berhasil. Sedikitnya untuk transfer sel embrio segar keberhasilannya sebanyak 46 persen. Dan transfer sel embrio beku atau frozen keberhasilannya 50 persen sesuai data pada 2020. Di dunia pun sama, ada 50 persen peluang mengapa program bayi tabung belum bisa berhasil atau gagal.
Lalu apa yang menyebabkan kegagalan bayi tabung? Para calon peserta bayi tabung wajib mengetahuinya.
1. Faktor Medis
Apakah embrionya, atau kromosomnya yang kurang optimal. Dan jumlah sel telur sudah menipis.
2. Lifestyle
Pasangan suami istri di ibukota dan metropolitan seringkali terlalu sibuk bekerja dan juga pola makan yang tak sehat. Atau bisa juga merokok dan alkohol.
3. Terlambat
Rata-rata pasien datang terlambat dengan usia sudah di atas 38 tahun. Jika terlambat, maka jumlah sel telur sedikit. Kemudian ditambah lagi masalah kista atau miom pada rahimnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
