Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Juli 2019 | 20.39 WIB

Mood Berubah Sedih Usai Melahirkan, Waspadai Baby Blues Syndrome

Ilustrasi seorang ibu sedang menggendong anaknya usai melahirkan. Perubahan mood negatif pada ibu yang baru melahirkan perlu diwaspadi sebagai gejala awal baby blues. (Medical News Today) - Image

Ilustrasi seorang ibu sedang menggendong anaknya usai melahirkan. Perubahan mood negatif pada ibu yang baru melahirkan perlu diwaspadi sebagai gejala awal baby blues. (Medical News Today)

JawaPos.com - Memiliki buah hati adalah momen paling bahagia bagi seorang ibu. Apalagi jika buah hatinya adalah anak pertama. Sayangnya usai melahirkan, justru bisa saja muncul kurangnya rasa percaya diri hingga sedih berkelanjutan pada sang ibu. Perubahan mood usai melahirkan ini bisa menjadi gejala awal Baby Blues Syndrome.

Perubahan suasana hati setelah kelahiran bayi bisa dialami oleh para ibu, tak hanya melahirkan anak pertama, tetapi bisa kelahiran anak kedua, ketiga, dsn seterusnya. Banyak perempuan merasa bingung dengan perasaannya sendiri karena berjuang melawan kesedihan setelah melahirkan. Dilansir dari American Pregnancy, Minggu (28/7), berbicara tentang emosi, perubahan, dan tantangan merawat bayi adalah salah satu pemicu baby blues syndrome.

Sekitar 70-80 persen dari semua perempuan yang baru menjadi ibu, mengalami perubahan suasana hati setelah kelahiran anak mereka. Seringkali gejala baby blues akan muncul dengan kuat dalam waktu empat sampai lima hari setelah kelahiran bayi.

Perubahan mood yang diungkapkan lewat tangisan ibu tanpa alasan yang jelas, cemas, atau gelisah hingga kurang tidur bisa menjadi gejala awal baby blues. Psikolog Klinis Liza Marielly Djapri menjelaskan pada saat ibu melahirkan, terdapat penurunan hormonal baik melahirkan caesar ataupun normal. Penurunan hormon ini tergantung pada setiap ibu, apakah akan berhenti perlahan atau berlanjut selama berbulan-bulan.

"Horrmon drop tergantung nih. Apakah akan terjun drop terus, berhenti perlahan lalu naik lagi. Dari awal melahirkan 3-6 bulan wajar ya kaget apalagi baru anak pertama. Atau anak kedua dan seterusnya juga bisa saja kaget, karena setiap bayi punya keunikan masing-masing kan," jelas Liza kepada JawaPos.com, Minggu (28/7).

Terlebih adaptasi yang harus dilalui adalah ketika istri dan suami. Seperti harus begadang mengurus buah hati, mengganti popok, menyusui, dan berbagai rutinitas lainnya.

"Belum lagi jika sang istri timbul perasaan gendut. Payudara turun nih. Bikin emosi terus. Itu semua bisa saja menimbulkan argumen, perasaan sedih, lelah, dan keluhan lainnya." ungkap Liza.

Ilustrasi. Bicarakan dengan ahli ketika mengalami gejala baby blues atau depresi pasca melahirkan. (Women

Ilustrasi. Bicarakan dengan ahli ketika gejala baby blues dirasakan lebih dari 6 bulan. (Women's Health)

3-6 Bulan Batas Waktu Toleransi

Liza menegaskan sikap perubahan dan penurunan mood seperti itu wajar jika masih terjadi selama 3-6 bulan. Namun akan bertambah parah ketika hal itu tak segera tertangani dan semakin menurun drastis.

"Kalau sampai 6 bulan enggak tertangani secara psikologis dari diri kita sendiri seperti kemampuan mengelola sudah tak mampu, maka tentu perlu bantuan. Setelah 6 bulan harusnya perasaan-perasaan itu selesai sih," jelasnya.

Jika sampai 6 bulan lebih perasaan tersebut tak berubah, maka Liza menyebut adanya ancaman perasaan depresi minor dan depresi mayor yang bisa saja terjadi. Depresi minor dan depresi mayor bisa berlanjut hingga lebih dari 1,5 tahun.

"Kalau sampai 6 bulan, masih ada perasaan seperti itu. Maka terjadi depresi minor. Lalu 1,5 tahun enggak kelar juga bisa terjadi depresi mayor. Saran saya sih, 3 bulan usai melahirkan enggak membaik. Cari pertolongan bisa dari terapis, suami, sahabat, bisa ngobrol sama orang tua atau pendekatan agama," katanya.

Menurut Liza, Baby Blues, depresi minor, dan depresi mayor seperti tingkatan stadium pada kanker yang jika tak segera ditangani bisa akan menimbulkan dampak yang semakin parah. Dampaknya, keharmonisan rumah tangga bisa terganggu, atau perhatian ibu pada anaknya menjadi semakin tidka fokus.

"Gejalanya sama tapi waktunya saja yang semakin lama. Seperti kanker stadium awal misalnya hanya gejala. Nah kalau sudah depresi minor atau mayor bisa ada tambahan gejala lainnya seperti ancaman bunuh diri bisa saja mungkin muncul saat sudah terjadi depresi mayor. Maka itu semua harus segera tertangani," ungkapnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore