Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Februari 2020 | 21.22 WIB

Kata Profesor Terkait Manfaat Jahe dan Kunyit Tangkal Virus Korona

Tak hanya di Indonesia, jahe sebagai obat juga digunakan di negara Asia lainnya bahkan di sejumlah belahan dunia. (Mom Junction) - Image

Tak hanya di Indonesia, jahe sebagai obat juga digunakan di negara Asia lainnya bahkan di sejumlah belahan dunia. (Mom Junction)

JawaPos.com - Indonesia kaya dengan rimpang dan rempah. Salah satunya jahe, kunyit, serai dan temulawak. Rimpang ini pun belakangan disebut-sebut memiliki khasiat sebagai salah satu alasan mengapa Indonesia masih nol virus Korona atau COVID-19.

Menanggapi hal itu, Guru Besar Farmasi Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Abdul Mun'im, M.Si., Apt. mengatakan saat ini memang ada institusi dan ilmuwan sedang mencari penangkal virus corona baru (COVID-19). Sumber bahan obat tersebut bisa berasal dari senyawa bahan alam, senyawa sintetik dan obat-obat yang saat ini sudah digunakan untuk antivirus.

Nah terkait dengan rimpang khususnya jahe dan kunyit, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Sebab, yang perlu diingat, COVID-19 adalah virus jenis yang masih baru.

Memang, menurut Prof Abdul Mun'im, uji efikasi ekstrak jahe untuk anti-virus penyebab penyakit pernapasan sudah pernah dilaporkan, tetapi dilakukan terhadap sel. Dan sel yang digunakan bukan untuk anti Korona.

"Sampai saat ini saya belum menemukan literatur tentang hasil uji khasiat anti Korona dari senyawa yang diperoleh dari ketiga tanaman tersebut," kata Prof Abdul Mun'im kepada JawaPos.com, Rabu (19/2).

Demikian juga Curcumin telah diuji aktivitasnya sebagai antivirus influenza namun baru sebatas pengujian secara in in vitro dan in vivo. Efikasi anti virus untuk serai juga sudah dilakukan, namun baru sebatas in vitro untuk anti-penyakit herpes.

Untuk itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Jika tingkat pembuktian kualitas rendah, maka in vitro dan in silico juga akan rendah. Sedangkan jika sudah dibuktikan dengan uji klinis dengan kualitas desain pengujian baik maka tingkat kepercayaan khasiat akan tinggi.

"Tahapan penemuan obat baru umumnya mengikuti pola ini, dimulai dari proses penapisan, uji khasiat secara in vivo (hewan uji coba) dan selanjutnya uji klinis pada manusia," katanya.

Mekanisme pencegahan infeksi dari senyawa dari tumbuhan atau ekstrak tumbuhan selain melalui aktivitas anti-virus, bisa juga melalui aktivitas peningkat imumunitas atau immunostimulant. Jahe dan curcumin sudah diuji aktivitasnya untuk peningkat imun.

"Namun pengujian juga baru sebatas in vitro dan in vivo (pengujian laboratoriun atau pada hewan)," jelasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore