Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Juli 2017 | 12.40 WIB

Dampak Alergi Protein Susu Sapi bagi Anak, Gangguan Kulit Hingga Obesitas

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com – Usia bawah tiga tahun (batita) dan bawah lima tahun (balita) biasanya mulai mengonsumsi susu formula setelah selesai mendapatkan ASI. Namun hati-hati jika buah hati justru memiliki bakat alergi protein susu sapi. Gejala yang timbul salah satunya seperti titik-titik kemerahan di bagian pipi.

Alergi bisa muncul karena empat hal yaitu asma, demartitis atau eksim, bersin-bersin di pagi hari, dan alergi makanan. Alergi makanan pada bayi hingga balita biasanya dipicu oleh dua hal yaitu telur dan protein susu sapi.

Alergi adalah respon sistem kekebalan tubuh yang abnormal terhadap bahan atau zat yang masuk ke dalam tubuh yang pada waktu tertentu dianggap tak berbahaya. Anak mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh (imun). Alergi protein susu sapi disebabkan oleh kandungan kasein dan whey atau jenis protein dalam susu sapi. Reaksi ini bisa diperantarai oleh antibodi, ada yang karena antibodi LGE atau non LGE. Antibodi LGE lebih berat pemicunya.

“Hindari alergen atau pemicunya. Dan kejadian alergi pada anak akan berkurang dengan bertambahnya usia. Dengan bertambah umur, anak tak akan alergi lagi pada susu sapi meskipun penyakitnya tetap ada terus. Sampai usia 5 tahun, anak-anak tak lagi alergi dengan protein susu sapi,” kata Konsultan Alergi Imunologi Anak Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes, dalam keterangan tertulis Nutricia, Sabtu (22/7).

Menurutnya gejala akibat alergi susu sapi ini dapat menyerang sistem gastrointestinal (50-60 persen), kulit (50-60 persen), dan juga sistem pernapasan (20-30 persen). Reaksi alergi dapat timbul berupa eksim pada kulit, saluran napas, kolik, diare berdarah, hingga konstipasi.

“Jika tidak segera ditangani dan dibiarkan, keadaan ini dapat menganggu optimalisasi tumbuh kembang si Kecil dan memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan di usia dewasa,” katanya.

Budi menjelaskan ada berbagai macam gangguan tumbuh kembang yang mungkin terjadi pada si kecil jika alerginya tidak tertangani dengan baik. Anak bisa tumbuh menjadi picky eaters atau serbasulit dalam makan sehingga mempengaruhi berat badan ideal dan juga pertumbuhan fisiknya. Gangguan hormon akibat alergi juga berisiko memunculkan kegemukan atau obesitas, yang jika tidak dikendalikan akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes di masa depan. Budi menambahkan alergi protein susu sapi ini relatif lebih sulit ditangani karena alergen tidak selalu berbentuk susu, melainkan berbagai makanan olahan yang mengandung susu sapi.

“Oleh sebab itu kondisi ini memerlukan ketanggapan orang tua untuk mencermati kandungan dalam berbagai makanan dan menangani reaksi alergi pada anak dengan cepat,” kata Budi.

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore