
Ilustrasi
JawaPos.com - Mempunyai anak yang aktif bermain kadang membuat was-was. Biar begitu, bukan berarti orang tua jadi over protektif dengan kegiatan sang anak. Meski resiko jatuh selalu ada, tapi bukan lantas anak tidak boleh jatuh.
Spesialis anak RSUD dr Seotomo Surabaya dr Meta Hanindita SpA mengatakan, terjatuh adalah bagian yang sangat normal dari perkembangan anak. Belajar jalan, memanjat, lari, melompat dan eksplorasi perkembangan fisiknya.
Sering kali, terjatuh bukan merupakan kasus yang parah, jadi tak perlu terlalu khawatir, selama orang tua sudah melakukan tindakan preventif. ’’Bermain saja bersama anak, selain kita bisa mencontohkan perilaku aman atau safe behavior, kita juga bisa secara aktif mengawasi anak,’’ ungkap Meta.
Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di USA, anak jatuh adalah penyebab cedera tersering orang tua membawa anaknya ke UGD. Anak mengunjungi UGD karena jatuh, dan 40 persen diantaranya adalah toddler, yaitu usia 1-3 tahun.
Di usia ini, memang anak sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi lingkungan sekitar. Sering memanjat, naik turun tangga misalnya, atau berlompat-lompatan. Bayi mempunyai kepala yang lebih besar dibandingkan badannya. Seringkali saat terjatuh, kepala lebih sering terkena lantai lebih dahulu,
Sementara, batita adalah periode perkembangan anak yang sangat pesat. Di umur ini, bayi mulai belajar berguling, menendang, sehingga ada risiko mereka jatuh dari furniture, lalu merangkak atau berjalan, berisiko terjatuh juga.
Setelah itu saat belajar memanjat, risiko terjatuh juga dari jendela misalnya atau furnitur lain. Anak yang lebih besar dari balita pun masih berisiko jatuh. Biasanya dari peralatan saat bermain.
Bila sudah jatuh, Meta tidak memungkiri banyak orang tua yang panik karena khawatir. Nah, kali pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik! Lalu, setelah anak tenang (tidak menangis lagi), pastikan apakah anak masih sadar atau tidak.
Panggil namanya, goyangkan badannya. Raba seluruh bagian kepala dengan penekanan perlahan, apakah ada benjolan atau "dekok". Perhatikan dengan teliti mata, kelopak mata apakah ada perubahan, bengkak atau tidak.
Perhatikan pula gerak anak, apakah sama seperti sebelum jatuh atau ada perubahan? (Misalnya kaki kiri jadi tidak gerak sama sekali, atau jadi tidak bisa menengok ke kiri atau kanan). ’’Kalau tidak ada kelainan sama sekali, anak boleh diobservasi sendiri di rumah selama 2-3 hari,’’ ucapnya.
Tidak kalah penting lagi, tidak buru-buru untuk CT-Scan. Sebab CT-Scan hanya dilakukan bila ada indikasi perdarahan otak. Meta juga meminta orang tua untuk menghindarkan anaknya pada penggunaan baby walker.
Sebenarnya baby walker tidak melatih jalan dengan baik. Baby walker hanya mengajarkan anak menyeret, bukan jalan menggunakan semua otot kakinya. Sehingga bisa jadi membuat anak lebih mudah jatuh ketika belajar berjalan. (ina/tia)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
