alexametrics

5 Fakta Soal Manfaat Puasa Sebagai Detoksifikasi Racun dari Tubuh

14 Mei 2020, 05:05:10 WIB

JawaPos.com – Selain ibadah wajib bagi umat Muslim, puasa selama Ramadan juga memberi manfaat bagi kesehatan. Berpuasa juga dapat memulihkan tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak.

Detoks atau detoksifikasi berarti membuang atau menghilangkan racun. Detoksifikasi dapat membantu melindungi tubuh dari penyakit dan memperbarui kemampuan organ-organ tubuh untuk menjaga kesehatan yang optimal.

“Selama satu tahun hampir setiap saat tubuh kita terpapar oleh beragam racun, baik yang dihasilkan dari tubuh sendiri, dari lingkungan sekitar (polusi udara), maupun dari pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat misalnya konsumsi makanan yang diolah berlebihan, junk food, konsumsi alkohol,” kata pakar kesehatan dan scientific dari FibreFirst, Nourmatania Istiftiani kepada JawaPos.com, Rabu (13/5).

Menurutnya, secara alami tubuh manusia sebenarnya telah memiliki perlindungan sendiri dalam membuang racun-racun dalam tubuh. Organ detoksifikasi utama antara lain hati, ginjal, usus dan sistem pencernaan, serta kulit.

Puasa dapat membantu detoks, simak faktanya:

1. Racun Akan Dikeluarkan dari Tubuh
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan atau kalori lebih dari 12 jam dan proses peningkatan lemak akan meningkat. Simpanan karbohidrat di tubuh berkurang, jadi tubuh akan mengubah lemak menjadi energi untuk memulihkan aktivitas kita selama berpuasa. Racun yang ada di dalam tubuh akan disimpan ke dalam sel lemak. Jadi kompilasi lemak meningkat karena berpuasa, racun-racun yang disimpan dalam lemak juga akan dipecah dan dikeluarkan dari tubuh.

2. Perbaiki Sel-sel Tubuh
Molekul-molekul sisa yang terbentuk dapat menumpuk di dalam sel dan menyebabkan kerusakan. Sel yang sudah rusak, tidak perlu lagi dan perlu dibuang. Autofagi merupakan cara tubuh untuk menyelamatkan diri dari sel-sel yang sudah tua dan rusak sehingga dapat membentuk sel-sel baru yang lebih sehat. Selama autofagi, sel yang dibuang bagian yang tidak diinginkan dan bagian yang sudah tidak bekerja dengan baik. Namun, kadang kala sel juga akan mendaur ulang bagian yang rusak tersebut menjadi komponen baru atau asam amino (bagian yang rusak penyusun protein).

Saat kita berpuasa dan jumlah makanan yang masuk ke tubuh kita, sel di dalam tubuh kita akan mendapatkan asupan kalori yang lebih sedikit, sehingga sel harus bekerja lebih efisien. Sel-sel tubuh akan mengeluarkan komponen yang tidak diperlukan dan bagian sel yang sudah rusak, atau mendaur ulang zat-zat tersebut menjadi bagian sel yang masih diproses dengan baik. Dengan cara ini, sel tubuh dapat bekerja dengan normal.

3. Perbaiki Kadar Gula Darah
Hubungan puasa juga erat dengan hormon insulin dan glukagon. Insulin dan glukagon adalah hormon yang membantu tubuh dalam kadar gula darah, kedua hormon ini berkebalikan. Saat tubuh mendapat asupan makanan, khususnya karbohidrat, tubuh akan meningkatkan produksi hormon Insulin, sedangkan hormon glukagon meningkat. Sebaliknya, saat tubuh sedang berpuasa, hormon glukagon akan meningkat dan proses autofagi juga meningkat.

4. Pilihan Makanan Pengaruhi Proses Detoks
Sayangnya, kompilasi pola makan dan pilihan makanan selama berpuasa lebih banyak yang tidak sehat, rendah gizi, tinggi lemak dan kolesterol. Lebih banyak konsumsi makanan olahan atau instan dengan tambahan bahan pengawet, dan antioksidan rendah. Status gizi akan mempengaruhi tubuh untuk memproduksi antibodi dan enzim, serta kemampuan hati untuk melakukan detoksifikasi. Kurang konsumsi serat juga menimbulkan konstipasi meningkat hingga tiga kali lipat selama berpuasa. Kondisi ini menyebabkan pergerakan usus dan perpindahan lemak lebih banyak.

5. Konsumsi Serat Membantu Detoks
Jangan lupa untuk tetap memperhatikan asupan makanan yang sehat dan baik selama berpuasa, termasuk asupan serat. Serat akan membantu kesehatan sistem pencernaan, yang merupakan salah satu organ detoksifikasi. Dengan waktu makan yang terbatas selama berpuasa, mungkin terasa lebih sulit untuk dikonsumsi serat atau sayuran dalam jumlah yang cukup. Hanya 15 persen masyarakat yang memilih berbuka puasa dengan buah-buahan segar. Solusi alternatifnya bisa dengan mengonsumsi suplemen kaya serat untuk membantu sistem pencernaan melakukan detoks dengan optimal.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani




Close Ads