
Kasie Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Iman Murahman memberikan keterangan dikantornya, Banda Aceh, Selasa (6/3).
JawaPos.com - Pengidap penyakit HIV/AIDS di Provinsi Aceh terus mengalami peningkatan sejak 2004 hingga kini. Ratusan kasus penyakit menular ini terdata di seluruh Aceh mulai 2004 hingga 2017.
Kasie Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Iman Murahman mengatakan, di Aceh, total kasus sejak 2004 hingga 2017 ada 632 kasus HIV/AIDS yang terdata.
"Kasus HIV/AID di Aceh kini trennya semakin meningkat setiap tahun.
,” kata Iman Murahman di temui JawaPos.com, Banda Aceh, Selasa (6/3).
Hal itu dikatakannya karena, pada 2016 terdata hanya sebanyak 97 kasus dan pada 2017 naik menjadi 123 kasus. Sedangkan pada tahun ini, per Januari 2018 sudah ada 18 kasus.
"Tren kasus ini terus meningkat,” sebut Iman.
"Selama ini kasus tersebut sering dan banyak ditemui di pesisir Tumur dan Utara Aceh yang notabene berdekatan dengan Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut),"timpalnya.
Namun pada 2017 lanjutnya, kasus terbanyak di Kota Banda Aceh sebanyak 77 kasus.
“Sudah bergeser. Pergeserannya karena Banda Aceh sebagai salah satu kota besar di Aceh. Banyak orang-orang dari luar masuk ke Banda Aceh. Sehingga di sini menjadi pusat pertemuan banyak orang,” tuturnya.
Banyaknya data pengidap HIV/AIDS yang terungkap di Aceh, dinilai karena upaya pendeteksian dini semakin baik dilakukan. Dinkes dan instasi terkait sudah semakin sering melakukan pencegahan dan berusah menekan angka penyakit ini.
“Sudah ada kebijakkan baru, triple eleminasi untuk pencegahan dan penularan HIV/AIDS, Sifilis dan Hepatitis dari ibu ke anak. Mulai kita laksanakan sejak 2014, pemeriksaan pada ibu hamil,” imbuhnya.
Selama 2017, Dinskes Aceh telah melakukan pemeriksaan sedikitnya terhadap 11 ribu ibu hamil. Hal itu dilakukan untuk mencegah dan mendeteksi dini penyakit HIV/AIDS, serta menemukan empat kasus ibu hamil yang positif.
“Kita juga mencegah dari sisi konseling. Aceh sudah mempunyai empat tempat pelayanan untuk konseling dan testing HIV dan termasuk pengobatan. Yakni Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh; RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh; RSU Cut Meutia Aceh Utara dan RSUD Aceh Tamiang,” sebutnya.
Ia menambahkan, para pengidap penyakit HIV/AIDS di Aceh dari sisi usia dan status pekerjaan sangat bervariasi. Rata-rata pengidapnya berusai produktif yakni rentang 20-50 tahun.
Ia merinci, untuk swasta berada di angka 39 persen; IRT 20 persen; 8 persen karyawan; 6 persen PSK; siswa/mahasiswa 5 persen dan PNS di angka 6 persen.
Melihat kondisi ini, Iman mengimbau masyarakat Aceh untuk menjaga sekaligus memperhatikan pola hidupnya dalam bergaul. Ini dilakukan agar dapat terhindar dari penyakit yang sering timbul akibat pergaulan bebas.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
