
dr. Mahdian Nur Nasution
JawaPos.com – Nyeri pinggang merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dijumpai di sejumlah klinik sehari-hari. Data yang ada menunjukan setiap orang minimal dalam hidupnya pernah mengalami 1 kali periode nyeri pinggang. Dan sebanyak 5- 20 persen dari mereka, akan mengalami nyeri yang bersifat kronis.
Maka dari itu jangan pernah menganggap enteng masalah nyeri pinggang, sebab bisa jadi disebabkan karena saraf kejepit.
“Dari sekian banyak pasien yang datang ke klinik dokter atau rumah sakit umumnya sudah dengan kondisi nyeri pinggang yang kronis,” jelas Pakar Nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Gedung Onta Merah, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, dalam keterangan tertulis, Kamis (1/2).
Mahdian menjelaskan banyak pasien datang setelah sebelumnya mencoba terapi alternatif seperti pijat, totok, atau herbal, namun tidak menuai perbaikan. Kondisi seperti ini selain menyita waktu dan biaya juga berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien.
Modalitas terapi untuk mengatasi masalah nyeri dan tulang belakang dalam dunia kedokteran cukup beragam dan bergantung penyebabnya. Dari mulai penggunaan obat-obatan, terapi intervensi hingga pembedahan baik operasi terbuka maupun minimally invasive surgery yang hanya menyisakan luka sayatan minimal di kulit (7 mm).
“Dari sekian banyak penyebab nyeri pinggang yang ada di masyarakat, Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau yang jamak disebut saraf terjepit merupakan salah satu penyebab nyeri pinggang kronik terbanyak,” papar Mahdian.
Nyeri yang dialami pasien umumnya menjalar hingga paha, dan seluruh bagian kaki disertai dengan kelemahan, baik pada salah satu atau kedua kaki. Data yang ada di beberapa negara, seperti Finlandia dan Italia menunjukan prevalensi HNP mencapai 3 persen dari populasi.
“Demikian halnya dengan kondisi di Indonesia. Semakin tinggi usia seseorang, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya HNP. HNP paling banyak diderita mereka dengan usia antara 30 hingga 50 tahun. Risiko terjadinya HNP akan menjadi lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 2:1,” katanya.
Dari pengalaman klinik yang ada, herniasi bantalan sendi tulang belakang terbanyak terjadi pada bantalan sendi ruas tulang Lumbar (L4/5) dan L5/S1). Meski demikian dapat juga terjadi herniasi pada bantalan sendi di ruas tulang diatasnya seperti tulang servikal, tetapi lebih sering terjadi pada mereka dengan usia diatas 55 tahun.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
