Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Februari 2018 | 19.05 WIB

Jangan Abaikan, Ini Salah Satu Indikator Saraf Kejepit Bikin Menjerit!

dr. Mahdian Nur Nasution - Image

dr. Mahdian Nur Nasution

JawaPos.com – Nyeri pinggang merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dijumpai di sejumlah klinik sehari-hari. Data yang ada menunjukan setiap orang minimal dalam hidupnya pernah mengalami 1 kali periode nyeri pinggang. Dan sebanyak 5- 20 persen dari mereka, akan mengalami nyeri yang bersifat kronis.


Maka dari itu jangan pernah menganggap enteng masalah nyeri pinggang, sebab bisa jadi disebabkan karena saraf kejepit.


“Dari sekian banyak pasien yang datang ke klinik dokter atau rumah sakit umumnya sudah dengan kondisi nyeri pinggang yang kronis,” jelas Pakar Nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Gedung Onta Merah, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, dalam keterangan tertulis, Kamis (1/2).


Mahdian menjelaskan banyak pasien datang setelah sebelumnya mencoba terapi alternatif seperti pijat, totok, atau herbal, namun tidak menuai perbaikan. Kondisi seperti ini selain menyita waktu dan biaya juga berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien.


Modalitas terapi untuk mengatasi masalah nyeri dan tulang belakang dalam dunia kedokteran cukup beragam dan bergantung penyebabnya. Dari mulai penggunaan obat-obatan, terapi intervensi hingga pembedahan baik operasi terbuka maupun minimally invasive surgery yang hanya menyisakan luka sayatan minimal di kulit (7 mm).


“Dari sekian banyak penyebab nyeri pinggang yang ada di masyarakat, Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau yang jamak disebut saraf terjepit merupakan salah satu penyebab nyeri pinggang kronik terbanyak,” papar Mahdian.


Nyeri yang dialami pasien umumnya menjalar hingga paha, dan seluruh bagian kaki disertai dengan kelemahan, baik pada salah satu atau kedua kaki. Data yang ada di beberapa negara, seperti Finlandia dan Italia menunjukan prevalensi HNP mencapai 3 persen dari populasi.


“Demikian halnya dengan kondisi di Indonesia. Semakin tinggi usia seseorang, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya HNP. HNP paling banyak diderita mereka dengan usia antara 30 hingga 50 tahun. Risiko terjadinya HNP akan menjadi lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 2:1,” katanya.


Dari pengalaman klinik yang ada, herniasi bantalan sendi tulang belakang terbanyak terjadi pada bantalan sendi ruas tulang Lumbar (L4/5) dan L5/S1). Meski demikian dapat juga terjadi herniasi pada bantalan sendi di ruas tulang diatasnya seperti tulang servikal, tetapi lebih sering terjadi pada mereka dengan usia diatas 55 tahun.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore