Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 November 2016 | 03.13 WIB

Mengenal Lupus, Penyakit yang Diderita Selena Gomez

JUST JARED PEMULIHAN: Selena Gomez harus membatalkan Revival Tour yang sedang dijalani untuk menjalani pengobatan penyakit lupus yang dideritanya. - Image

JUST JARED PEMULIHAN: Selena Gomez harus membatalkan Revival Tour yang sedang dijalani untuk menjalani pengobatan penyakit lupus yang dideritanya.

Penyanyi Selena Gomez dan Toni Braxton punya kesamaan. Mereka adalah odapus atau orang yang hidup dengan lupus. Karena penyakit itu pula, tur dan show mereka dibatalkan tahun ini. Dari pandangan medis, apakah lupus itu?



---



Systemic lupus erythematosus (SLE) atau lupus bukanlah penyakit baru. Gangguan autoimun tersebut kali pertama ditemukan pada awal abad ke-19. Penamaan penyakit merujuk pada gejala yang muncul pada pasien pertama.



”Penderita pertama lupus adalah perempuan. Erythematosus adalah ruam merah, sementara lupus adalah serigala. Ciri pasien saat itu adalah rona merah di pipi yang coraknya menyebar mirip serigala,” ucap Dr dr Yuliasih SpPD KR.



Spesialis penyakit dalam yang berpraktik di RS Husada Utama, Surabaya, itu menjelaskan, imbuhan systemic mengacu pada gejala penyakit yang menjangkiti sistem organ tubuh. Gangguan sistemik itulah yang mengakibatkan lupus sering dijuluki penyakit seribu wajah. ”Lupus menyerang ginjal, sehingga ginjal bocor. Orang mengira, sakitnya sakit ginjal. Begitu pula saat yang kena jantung atau paru-paru,” kata Yuli.



Itu juga yang terjadi pada Toni Braxton. Pada 2008, dia pingsan saat manggung di Las Vegas. Dokter mengira dia terkena serangan jantung. Tapi, pemeriksaan darah yang detail memastikan bahwa dia terkena lupus.



Secara medis, Yuli mengungkapkan, lupus disebabkan oleh gangguan gen. Dalam kondisi normal, sel imun atau kekebalan tubuh punya karakter tidak mengenali sel tubuh lain. ”Nah, karena kelainan gen, sel imun mengenali sel-sel tubuh. Akibatnya, muncul kelebihan antibodi. Sel tubuh yang diserang menumpuk, timbul inflamasi (peradangan),” papar dokter sekaligus staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, itu.



Sayang, karena gejalanya menyaru dengan penyakit lain, lupus sering terlambat ditangani. Obat-obatan yang diberikan memang sesuai dengan gejala di lokasi yang diserang, tapi tidak mampu mengontrol sel imun. ”Padahal, salah satu karakter lupus adalah fatal. Kalau nggak ditangani dengan benar dan cepat, bisa menyebabkan komplikasi parah sampai meninggal,” tegas Yuli.



Dia mengungkapkan, diagnosis lupus dilakukan dengan pemeriksaan klinis. Di antaranya, tes laju endapan darah, kadar komponen komplemen protein C3 dan C4 dari ginjal, serta antibodi. Hal itu juga ditegaskan oleh Ns Elvira Sari Dewi SKep MBiomed, dosen keperawatan medikal bedah Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.



Vira menjelaskan, indikator dari tes klinis juga harus didukung dengan anamnesis (wawancara dokter dengan pasien seputar riwayat kesehatan) dan pemeriksaan fisik. ”Nah, kalau dari segala tahap pemeriksaan setidaknya ada empat dari sebelas tanda lupus (versi American College of Rheumatology/ACR), baru pasien didiagnosis lupus,” tegasnya. Bila gejala tidak memenuhi syarat itu, bisa jadi pasien mengalami gangguan autoimun lain.



Sebelas tanda tersebut meliputi malar rash (rona merah berbentuk mirip kupu-kupu di pipi), discoid skin rash (ruam merah menonjol pada kulit), serta rona merah di kulit karena terpapar cahaya matahari. Juga sariawan pada mulut atau hidung, nyeri di dua atau lebih sendi dengan disertai bengkak yang terasa lunak saat diraba, dan pembengkakan jantung atau paru-paru. Tanda lain adalah gangguan saraf, gangguan ginjal yang mengakibatkan kelebihan protein pada urine, gangguan hematologi, serta gangguan antibodi. Yang paling pasti, hasil tes ANA (antinuclear antibodies) positif.



Alumnus Universitas Brawijaya tersebut menjelaskan, lupus berpotensi komplikasi. Mirip julukannya, penyakit seribu wajah, organ yang diserang bisa di mana saja. ”Yang paling sering saya temui komplikasi seperti sendi bengkak, (penyakit) paru-paru, (gangguan) jantung, (penyakit) ginjal, (gangguan) saraf, hingga (gangguan) jiwa,” paparnya.



Mayoritas disebabkan oleh ketidakpatuhan pasien dalam minum obat. ”Kalau dibiarkan, mereka tidak bisa beraktivitas maksimal karena ambang nyeri yang tinggi. Komplikasi itu bisa menyebabkan pasien meninggal dunia,” tegas Vira. (fam/c11/ayi)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore