Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 Mei 2024, 07.14 WIB

Fenomena IVF dari Kacamata Sang Pionir Profesor Alan Trounson: Teknologi Bayi Tabung yang Kian Canggih Hingga 'Dosa' Perempuan akan Stigma Kemandulan

Pionir IVF Profesor Alan Trounson (kanan) dan founder Alpha IVF Group Dato - Image

Pionir IVF Profesor Alan Trounson (kanan) dan founder Alpha IVF Group Dato

JawaPos.com - In vitro fertilization (IVF) atau yang lebih dikenal dengan istilah bayi tabung merupakan salah satu program yang kerap menjadi solusi banyak pasangan yang menghadapi masalah infertilitas atau kesulitan memiliki anak. Mulai dipraktikkan sejak 1977 hingga saat ini, IVF terus mengalami rangkaian pembaharuan dan penyempurnaan dengan tingkat keberhasilan yang terus meningkat drastis.

Secara sederhana, IVF adalah proses pembuahan sel telur oleh sperma yang dilakukan di luar tubuh, tepatnya di dalam inkubator. Saat proses pembuahan menunjukkan reaksi positif dan menjadi embrio, maka embrio tersebut kemudian dipindahkan ke dalam rahim perempuan.

Seorang profesor asal Australia, Alan Osborne Trounson adalah sosok yang pertama kali menggagas praktik IVF pada manusia. Inovasi yang mendobrak dunia medis ini kemudian terus dikembangkan seiring dengan kian mutakhirnya teknologi medis di bidang kehamilan.

Di negara-negara modern dan berkembang, praktik IVF sudah sangat lazim. Alpha IVF & Women's Specialists di Malaysia adalah salah satu klinik yang sering disebut-sebut sebagai yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Klinik yang digagas oleh Dato' dr. Colin Lee ini mulai berdiri pada 2011.

Pada 9 Mei 2024 kemarin, JawaPos.com mendapatkan kesempatan secara singkat untuk mewawancara langsung Alan Trounson dan Colin Lee di klinik Alpha IVF & Women's Specialists yang berada di Kota Damansara, Selangor. Untuk diketahui, Alan Trounson sendiri menjabat sebagai bagian dari International Scientific Board dari Alpha IVF Group.

Keduanya membagikan pandangannya tentang kemajuan teknologi IVF, mitos seputar bayi tabung dan stigma buruk kemandulan yang kerap diarahkan kepada para perempuan.

Alpha IVF & Women Specialists Kota Damansara, Selangor, Malaysia.

Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana ide praktik IVF pada manusia pertama kali tercetus dalam kepala Anda?

Alan Trounson (AT): Semua dimulai ketika saya sedang mengembangkan teknologi artificial breeding pada hewan seperti domba, kelinci, dan beberapa hewan ternak lainnya. Hingga suatu hari, kolega saya yang bernama Carl Wood menghubungi saya dan mengatakan bahwa saya harus mulai melakukan hal yang sama pada manusia, khususnya kepada perempuan yang mengalami infertilitas. Tujuannya jelas, untuk membantu mereka yang tidak subur untuk bisa hamil. Singkatnya, dia meminta saya membantunya untuk 'menterjemahkan' apa yang saya lakukan pada hewan ke manusia. Hal ini ternyata membuahkan hasil melalui berbagai macam proses yang tidak mudah.

Teknologi IVF terus berkembang. Apa yang menjadi perbedaan siginifikan antara IVF di era awal dan era modern saat ini?

Colin Lee (CL): Perbedaan paling signifikan tentu ada pada success rate kehamilan. Jika di era awal persentase keberhasilannya hanya sekitar 20 persen, sekarang angkanya sudah melebihi 80 persen. Ini tentunya berkat kemajuan teknologi di mana embrio-embrio yang ada sudah bisa dibekukan dalam suhu tertentu sehingga kecil kemungkinannya untuk rusak akibat perubahan suhu. Proses injeksi sperma pada sel telur juga sudah dikembangkan untuk mencegah kerusakan atau trauma pada sel telur yang bisa menyebabkan kegagalan pembuahan.

Dengan teknologi yang sudah sangat maju ini, apa ada kemungkinan IVF bisa didorong untuk berkembang ke level berikutnya di tahun-tahun mendatang?

CL: Alpha IVF tentunya terus melakukan pengembangan untuk menyempurnakan proses bayi tabung di sini. Salah satu pengembangan yang signifikan adalah keterlibatan teknologi artificial intelligence (AI) yang bisa membantu kami dalam memilih embrio yang punya potensi keberhasilan tertinggi untuk berkembang menjadi bayi yang normal.

AT: Teknologi robotik dan AI bisa dibilang akan membuat proses IVF tidak akan ada human error, di mana hal ini akan mempermudah tenaga medis dalam memilah dan memilih embrio mana normal dan abnormal. Saya rasa prosedur ini akan diterapkan dalam waktu dekat di masa depan.

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore