
PENAMBAH SELERA MAKAN: Penggemar makanan pedas perlu berhati-hati dan tidak berlebihan mengonsumsinya agar kinerja saluran cerna tetap baik. (Foto ilustrasi diperagakan model - Dite Surendra/Jawa Pos)
Belum lengkap rasanya kalau makan tanpa sambal. Makanan pedas memang nikmat, tapi tetap harus tahu batas. Sebab, permukaan usus bisa mengalami iritasi. Kondisi yang berulang berpotensi mencetuskan gangguan sistem pencernaan. Salah satunya, risiko terjadinya kanker usus.
---
MAKANAN pedas memberikan reaksi terhadap kinerja saluran cerna. Tidak hanya iritasi, tetapi juga mengakibatkan aktivitas dari gerakan usus menjadi berlebihan. Dokter spesialis bedah Mayapada Hospital menyebut ada beberapa penelitian yang menunjukkan pasien dengan kebiasaan mengonsumsi makanan pedas mengalami risiko kanker lebih tinggi.
’’Memang betul, beberapa penelitian menyebutkan bisa menjadi pencetus suatu kanker. Namun, ada pula penelitian lain yang menyatakan sebaliknya. Dari sini bisa diketahui bahwa masih banyak dibutuhkan penelitian lebih lanjut,” ungkap dr Rosmali Adriansyah SpB, SubspBK (K).
Di sisi lain, jurnal terakhir dari British Medical mengungkapkan, makanan pedas justru memiliki banyak manfaat positif. Mulai sistem imun yang baik hingga usia lebih panjang. Hal itu disebabkan makanan pedas mampu mempercepat kinerja sistem pencernaan.
”Manakala sistem pembuangannya baik, artinya pengosongan saluran cernanya baik, maka risiko terjadi infeksi yang berlanjut atau tercetusnya kanker jadi relatif lebih kecil,” jelasnya.
Yang perlu digariskan di sini, lanjut dr Rosmali dalam talk show kesehatan bersama radio Sonora FM beberapa waktu lalu, konsumsi makanan pedas boleh, tapi dengan takaran secukupnya. Pada prinsipnya, semua yang sifatnya berlebihan akan memberikan dampak kurang baik.
Makanan pedas kerap dikaitkan sebagai penyebab penyakit usus buntu. Sebab, pada beberapa kasus menunjukkan, isi usus buntu berupa potongan kecil sisa makanan dan biji-biji cabai. Namun, dr Rosmali menyebut hal itu bukanlah penyebab utamanya. Jauh sebelumnya, terjadi proses inflamasi pada usus buntu sehingga kemampuan untuk mengosongkan isinya menjadi terganggu.
’’Penelitian yang menyatakan biji-bijian atau makanan cabai menyebabkan usus buntu itu sebenarnya tidak ada korelasinya,” imbuhnya.
Tentu, setiap penyakit memiliki faktor risiko tersendiri. Termasuk kanker usus. Usia menjadi faktor yang tidak bisa dihindari. Umumnya, kejadian kanker banyak ditemukan pada pasien usia lanjut di atas 60 tahun. Di usia itu, banyak terjadi proses mutasi atau gangguan saluran cerna yang berulang dan bersifat kronis.
Kurang gerak juga mengakibatkan saluran cerna tidak bekerja optimal. Padahal, aktivitas fisik yang cukup dapat memperbaiki sirkulasi pembuluh darah pada saluran cerna. Dengan begitu, pengosongan kotoran berlangsung efektif sehingga tidak ada sisa makanan yang memicu inflamasi dan berujung kanker. ’’Faktor genetik juga sulit dihindari. Meskipun, kanker akibat faktor genetik itu hanya sekian persen. Untuk 90 persennya akibat gaya hidup,” paparnya.
Namun, pasien dengan kanker saluran cerna tetap memiliki harapan untuk sembuh. Pengobatan pada stadium awal akan memberikan hasil yang baik. ’’Untuk kasus-kasus yang masih dini seperti stadium 1 dan stadium 2, operasi menjadi tindakan standar yang dipilih. Tindakan pembedahan dianggap bisa mengangkat semua bagian dari kanker secara lengkap sehingga meminimalkan terjadinya kekambuhan,” terang dr Rosmali.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
