Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 Maret 2022 | 14.56 WIB

Jika Sudah Sembuh dari TB, Bisa Naik Haji dan Sekolah di Luar Negeri

MENULAR: Penyakit tuberkulosis (TB) sangat menular. Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis itu menyebar di udara. Persebarannya antara lain melalui semburan air liur dari batuk maupun bersin dari pengidap TB. (FOTO ILUSTRASI DIPERAGAK - Image

MENULAR: Penyakit tuberkulosis (TB) sangat menular. Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis itu menyebar di udara. Persebarannya antara lain melalui semburan air liur dari batuk maupun bersin dari pengidap TB. (FOTO ILUSTRASI DIPERAGAK

Tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia. Tahun lalu Indonesia merupakan negara dengan kasus TB tertinggi ketiga di dunia, berurutan setelah India dan Tiongkok.

---

POSISI tersebut membuat pemerintah lebih bekerja keras. Pasalnya, pemerintah mencanangkan Indonesia bebas TB pada 2030. Setiap orang pun harus mewaspadai penyakit tersebut.

Terlebih, ”pintu-pintu” masuk ke berbagai negara kini mulai dibuka. Banyak orang yang mulai memikirkan rencana untuk haji, umrah, dan sekolah ke luar negeri yang sempat tertunda akibat adanya berbagai pembatasan sosial.

Penyakit TB memang menular. Kasus tersebut timbul akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar di udara. Penyebarannya bisa melalui semburan air liur dari batuk maupun bersin dari pengidap TB.

Dalam diskusi bertema Care Your Lung, Care Your Future pada Sabtu (26/2), dr Rita Rogayah SpP(K) MARS dari RS Premier Jatinegera menyebutkan bahwa pengidap TB sering kali mendapatkan perlakuan buruk dari lingkungan sekitarnya. Rita menyebutkan, pengidap TB sering kali dijauhi, tidak diperbolehkan beraktivitas di luar rumah, bahkan tidak boleh bekerja dan pergi ke sekolah ataupun ke kampus. ”Kualitas hidup penderita TB bisa benar-benar menurun karena perlakuan ini,” ujar dokter spesialis paru tersebut.

Namun, TB adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Mantan pengidapnya pun berhak beraktivitas seperti biasa, bahkan pergi dan beraktivitas di luar negeri. Asalkan, pasien tersebut harus benar-benar dinyatakan negatif dari penyakit TB.

Permenkes Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istitaah Kesehatan Jemaah Haji menyebutkan, faktor sementara yang menyebabkan calon jemaah haji (CJH) dinyatakan tidak memenuhi syarat istitaah kesehatan haji apabila CJH tersebut mengalami penyakit-penyakit tertentu. Penyakit-penyakit tersebut adalah TB sputum BTA positif, TB multidrug resistance, diabetes melitus tidak terkontrol, hipertiroid, HIV-AIDS dengan diare kronis, stroke akut, pendarahan saluran cerna, dan anemia gravis.

Penyakit-penyakit tersebut adalah penyakit yang berpeluang untuk disembuhkan. Untuk itu, Dr dr Mukhtar Ikhsan SpP(K) MARS dari RS Premier Bintaro mengajak setiap pengidap TB untuk tidak putus harapan. ”Orang yang sudah dinyatakan sembuh sangat bisa naik haji atau sekolah di luar negeri,” ungkapnya.

Bagi pelajar yang akan melanjutkan jenjang pendidikan ke luar negeri, pengurusan visa biasanya mensyaratkan agar pelajar tersebut dinyatakan sehat. Pelajar yang dinyatakan menderita TB biasanya harus menjalani pengobatan minimal enam bulan. Jika kondisinya membaik, pelajar tersebut akan mendapatkan pernyataan kesehatan yang dapat ia sertakan untuk pengurusan visa.

”Kecuali untuk yang mau sekolah di UK (United Kingdom), pengobatannya harus melalui DOT (directly observed treatment). Pasien harus datang setiap hari, diawasi secara langsung saat minum obat untuk memastikan keteraturan pengobatan dan menjamin kesembuhannya,” tutur Mukhtar.

Pihak dokter, keluarga, maupun kerabat pasien harus bekerja sama untuk memastikan kebiasaan pengobatan pasien TB. Sebab, TB merupakan penyakit yang pengobatannya cukup lama. Hal itu terkadang menimbulkan rasa lelah dan putus asa pada penderitanya sehingga pasien enggan berobat secara teratur. Jika dibiarkan, hal itu akan menghambat kesembuhan pasien TB. Bahkan jika kondisinya memburuk, TB dapat memicu kematian.

Untuk itu, sangat penting adanya orang yang menjadi pengawas minum obat (PMO) bagi pasien TB. PMO itu bisa perawat atau asisten, keluarga, kerabat, atau orang yang disegani pasien. Pada dasarnya, setiap pasien TB membutuhkan PMO dalam proses pengobatannya. Bukan hanya untuk pasien yang hendak naik haji atau sekolah di luar negeri.

KETIKA TB MENYERANG

- Bakteri penyebab TB tidak selalu menyerang paru-paru, namun dapat menyerang organ lain seperti mata, otak, dan ginjal. Untuk itu, orang yang terinfeksi bakteri tersebut bisa saja tampak tidak mengalami gangguan pada pernapasannya, namun organ lain dalam tubuhnya tidak berfungsi maksimal.

- Dahak pengidap TB harus betul-betul dibuang. Kalau perlu dikubur dalam tanah.

- Pengidap TB yang terpapar Covid-19 dan menjalani isoman harus aktif berkomunikasi dengan petugas kesehatan. Jika mengalami sesak napas atau gejala emergency lainnya, sebaiknya segera meminta bantuan fasilitas ambulans agar dirawat di rumah sakit.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore