Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Oktober 2018 | 17.25 WIB

Psikolog: Ada Perbedaan Trauma Gempa Pada Anak Laki-laki dan Perempuan

Psikolog Anak dan Keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo saat menjadi narasumber Erlangga Talent Week 2018. - Image

Psikolog Anak dan Keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo saat menjadi narasumber Erlangga Talent Week 2018.

JawaPos.com - Duka mendalam yang dirasakan anak-anak korban gempa di Lombok, Palu, dan Donggala tidak akan mudah luntur dalam waktu singkat. Meski anak-anak tetap ceria dan tertawa di pengungsian, namun tak ada yang bisa menebak rasa trauma mereka di hati dan pikirannnya.


Psikolog Anak dan Keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam konferensi pers Erlangga Talent Week 2018, Senin (23/10), menjelaskan trauma yang dirasakan anak-anak perempuan dan laki-laki berbeda. Hal itu dipengaruhi faktor pola asuh dan budaya yang berlaku di Indonesia.


"Anak perempuan dan laki-laki beda jika mengalami trauma. Budaya di Indonesia kan mengajarkan anak laki-laki tak boleh menangis harus berani," ujar Vera.


Secara umum, Vera mengungkapkan dampak trauma pada anak biasanya akan berdampak pada kualitas tidurnya. Jika sudah sering menangis dan terganggu saat tidur, maka mereka butuh bantuan.


"Kategori butuh bantuan jika ada gangguan pola tidur, mimpi buruk, dan nangis terus-terusan. Sampai enggak mau ditinggal karena takut," ungkapnya.


Trauma gempa yang dialami laki-laki biasanya akan disalurkan ke aktivitas fisik. Anak laki-laki jadi lebih nakal dan berkelahi dengan teman-temannya.


"Karena tak boleh menangis, jadi sering ditemui anak laki-laki sulit utarakan emosi. Malah ke fisik, emosi berlebihan dan berantem," kata Vera.


Lalu trauma yang dialami anak perempuan umumnya merasa murung, menangis, dan sedih. Mereka juga lebih takut dengan orang lain.


Lalu bagaimana dengan orang dewasa?


Orang dewasa yang trauma, kata Vera, harus lebih tangguh karena harus melindungi anak-anaknya. Maka ketika mereka butuh bantuan, orang dewasa hanya butuh pendampingan untuk berbagi keluh kesahnya bersama relawan.


"Orang dewasa itu terkadang hanya butuh didengar. Dampingi saja maka mereka akan lebih lega," jelaa Vera.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore