
Ilustrasi daging sedang dipotong / sumber: news-medical.net
JawaPos.com – Makin merebaknya virus dan mudahnya tubuh terpapar penyakit, masyarakat saat ini lebih memprioritaskan pola makan sehat sebagai langkah perlindungan diri.
Perubahan utama yang terjadi adalah pergeseran dari mengonsumsi makanan berbahan dasar hewani menjadi makanan berbahan dasar nabati.
Motivasi utama di balik perubahan ini adalah keinginan untuk tetap memperoleh gizi yang memadai sambil menghindari risiko penyakit seperti tingginya kandungan lemak dan kolesterol.
Selain itu, pola diet yang tidak melibatkan konsumsi sumber hewani dapat membantu mengurangi risiko penyakit seperti diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, dan beberapa jenis kanker.
Pergeseran menuju konsumsi lebih banyak makanan nabati dianggap sebagai solusi untuk memperoleh sumber protein yang tetap meminimalkan risiko kesehatan.
Sebab sayuran juga mengandung nutrisi seperti potassium yang dapat menurunkan tekanan darah serta mengurangi garam berlebih.
Dikutip dari News Medical Life Sciences pada Jumat (1/12), tim peneliti di Ontario, Kanada, telah menemukan metode baru untuk membuat pengganti daging dengan kualitas serat yang sama seperti dada ayam.
Meskipun rasanya enak, untuk mencapai kesamaan dengan cita rasa daging asli, diperlukan penambah rasa yang berasal dari protein tumbuhan.
Dalam upaya menerapkan program diet, banyak orang memilih daging analog yang terbuat dari protein nabati dengan sifat-sifat mirip daging asli.
Daging analog memiliki keunggulan seperti kemampuan untuk disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi tubuh, konsistensi yang homogen, dan daya tahan yang lebih lama.
Bahan baku yang digunakan untuk daging analog mencakup jamur, polong-polongan, tempe, tepung ubi, tahu, dan nasi dengan penambahan perasa daging seperti ayam, sapi, domba, atau seafood.
Syarat utama adalah bahwa bahan nabati tersebut harus memiliki serat yang menyerupai daging dan kenyal.
Dalam proses pembuatan daging analog, terjadi ekstrusi yang melibatkan transfer massa, pencampuran, pemanasan, pemasakan, dan pembentukan pada suhu tinggi.
Reaksi yang terjadi termasuk gelatinisasi pati, denaturasi protein, dan pembentukan gelasi pada protein nabati.
Meskipun daging analog memiliki mutu cerna yang baik, kualitas proteinnya terbatas karena kandungan asam amino esensialnya yang kurang lengkap.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
