
ilustrasi rokok
JawaPos.com - Rokok membuat seseorang kecanduan karena kandungan nikotin di dalamnya. Penyakit akibat rokok juga sudah tergambar seram pada bungkus rokok bahkan bisa berujung kematian. Sayangnya, tak semua pecandu rokok mudah untuk berhenti menghisap racun bahan kimia berbahaya tersebut.
Pakar Toksikologi dari Universitas Airlangga, Sho'im Hidayat menjelaskan kecanduan pada perokok disebabkan oleh nikotin, sebuah senyawa di dalam daun tembakau. Nikotin membuat efek segar pada penghisap rokok. Efek nikotin jika terlalu banyak terpapar oleh tubuh juga akan menyebabkan keracunan.
"Apa yang terjadi kalau kebanyakan? Mual pusing-pusing, dan muntah-muntah hingga keracunan akut," jelas Sho'im dalam diskusi Mengatasi Permasalahan Merokok di Jakarta, Senin (2/12).
Selain nikotin, di dalam rokok juga mengandung senyawa berbahaya yang disebut dengan tar. Senyawa tar itulah yang bisa menyebabkan kanker.
"Tar adalah, jumlah total partikel dalam asap rokok dikurangi jumlah nikotinnya, dikurangi H2O-nya, itulah tar," jelasnya.
Nah di dalam tar, terkandung lebih dari 5 ribu jenis bahan kimia. Dan 2 ribu di antaranya mengandung bahan karsinogen (pemicu kanker).
"Di antara 5 ribu bahan kimia tadi, ada bahan kimia bersifat karsinogenik memicu terjadinya kanker. Ada juga formaldehid, itu juga karsinogen," tutur Sho'im.
Menurutnya, seseorang yang terpapar sakit karena rokok juga bisa diukur berdasarkan dosis yang dihirup selama ini. Hal itu disebut dengan risiko, di mana orang merokok lebih berisiko terpapar penyakit dibanding yang tak merokok.
"Untuk menderita sakit paru jenis tertentu, itu diukur dari seberapa lama dan seberapa banyak merokok. Risiko atau efek itu sangat dipengaruhi oleh dosis paparan. Semakin tinggi bahan itu masuk ke dalam tubuh, risikonya semakin besar. Dosis itu menghitungnya, jumlah bungkus dikali lamanya merokok sekian tahun," katanya.
Menurutnya, paling baik untuk menghindari semua zat berbahaya itu adalah dengan berhenti merokok. Namun karena pengaruh budaya dan sulitnya berhenti merokok akibat kecanduan, tembakau alternatif saat ini semakin banyak dipilih.
"Jadi salah satu strategi menurunkan dosis itu tadi salah satunya menggunakan teknologi pemanasan bukan pembakaran. Rokok elektrik atau vape itu adalah tembakau dipanasakan. Itu salah satu teknik mengurangi risiko karena Senyawa Berbahaya atau Berpotensi Berbahaya (HPHC) di dalam rokok elektrik 90 persen lebih rendah dibanding rokok," tutupnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
