Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Agustus 2023 | 11.34 WIB

Kenali Gejala Eris, Varian Baru Covid-19 yang Kini Merebak di Inggris

Varian Eris menjadi varian Covid-19 paling umum kedua di Inggris setelah Arcturus. - Image

Varian Eris menjadi varian Covid-19 paling umum kedua di Inggris setelah Arcturus.

JawaPos.com - Varian baru Covid-19 dilaporkan menyebar dengan cepat di seluruh Inggris Raya. Hal itu kini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat kesehatan negara tersebut. Covid-19 varian EG.5.1 atau yang juga dikenal dengan nama Eris, merupakan varian Covid-19 baru yang berasal dari turunan varian Omicron dan pertama kali ditandai keberadaannya di Inggris pada Juli lalu.

"Sinyal kemunculan EG.5.1 pertama kali muncul dalam pemantauan pada 3 Juli 2023," ujar salah satu perwakilan Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) yang dikutip dari New Delhi Television. "Karena meningkatnya laporan internasional, khususnya di Asia, kemuculan varian itu kemudian dinaikkan dari sinyal dalam pemantauan ke varian V-23JUL-01 pada 31 Juli 2023. Hal tersebut juga diiringi dengan meningkatnya jumlah genom dalam data Inggris dan pertumbuhan yang berkelanjutan secara internasional. Mengategorikannya sendiri sebagai varian tentu akan memungkinkan karakterisasi dan analisis lebih rinci," tambahnya.

Dilansir dari Daily Express, sejak dikategorikan sebagai varian baru di Inggris pada 31 Juli lalu, varian Eris menjadi penyebab satu dari sepuluh kasus Covid. UKHSA mengatakan bahwa varian tersebut juga menjadi varian paling umum di Inggris setelah varian Arcturus XBB.1.16 yang menjangkiti hampir setengah dari seluruh kasus infeksi. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini telah menambahkan varian tersebut ke dalam daftar varian yang sedang dipantau.

Sesuai laporan terbaru UKHSA pada Kamis (3/8) lalu, kasus Covid-19 varian Eris terus meningkat di seluruh negeri. "5,4 persen dari 4.396 spesimen pernapasan yang dilaporkan melalui Respiratory DataMart System teridentifikasi sebagai Covid-19. Ini dibandingkan dengan 3,7 persen dari 4.403 dari laporan sebelumnya," kata agensi tersebut dalam laporannya.

Penyebaran yang cepat itu berimbas juga terhadap peningkatan kasus rawat inap di negara tersebut baru-baru ini. "Kami terus melihat peningkatan kasus Covid-19 dalam laporan minggu ini. Kami juga telah melihat peningkatan meski dalam jumlah kecil dalam tingkat rawat inap di sebagian besar kelompok usia, terutama di kalangan lansia. Tingkat rawat inap secara keseluruhan masih sangat rendah dan saat ini kami tidak melihat peningkatan serupa dalam rawat inap di ICU. Namun kami akan terus memantau angka ini," ujar Dr Mary Ramsay, Kepala Imunisasi UKHSA.

Profesor Lawrence Young, seorang ahli virologi di Warwick University mengatakan bahwa peningkatan kasus varian baru Covid-19 ini selain bisa disebabkan oleh cuaca yang mengerikan baru-baru ini, juga bisa karena meningkatnya jumlah orang yang pergi ke bioskop.

“Tingkat infeksi secara keseluruhan tetap rendah tetapi ini adalah peringatan yang menekankan bahwa kita tidak bisa berpuas diri dalam hal Covid. Kita perlu mengawasi munculnya varian dan terus waspada dalam mempersiapkan peningkatan infeksi yang tak terhindarkan selama musim gugur atau musim dingin,” tegasnya.

Menurut Studi Kesehatan Zoe yang dilansir dari The Mirror, gejala utama varian Eris mirip dengan gejala varian Omicron yang banyak dipublikasikan. Gejala varian tersebut antara lain sakit tenggorokan, pilek, hidung tersumbat, bersin, batuk kering maupun batuk berdahak, sakit kepala, suara serak, nyeri otot dan perubahan indera penciuman. Namun, sesak napas, kehilangan penciuman, dan demam kini bukan lagi menjadi gejala utama.

Menanggapi gejala tersebut, Duncan Reid yang merupakan seorang Apoteker di perusahaan Pharmacy2U di Kota Leeds, Inggris turut memberikan komentarnya. Menurutnya, studi pendahuluan menunjukkan bahwa varian Eris memiliki kemampuan penularan dan penghindaran kekebalan yang sebanding dengan Omicron. Dan sampai saat ini belum ada indikasi bahwa varian Eris lebih buruk dari Omicron.

“Namun jika Anda menunjukkan gejala disertai suhu tinggi atau mendapati diri Anda tidak dapat melakukan pekerjaan atau aktivitas rutin, disarankan untuk lebih baik tetap di rumah dan meminimalkan kontak dengan orang lain," pungkasnya.

Sementara itu Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan meskipun orang-orang sudah dilindungi dengan vaksin dan kekebalan tubuh akibat infeksi sebelumnya, negara tidak boleh lengah.

“WHO terus mengimbau orang-orang yang berisiko tinggi terjangkit untuk memakai masker di tempat ramai, mendapatkan booster jika direkomendasikan, dan memastikan ventilasi yang memadai di dalam ruangan. Dan kami mendesak pemerintah untuk memelihara dan tidak membongkar sistem yang mereka bangun untuk Covid-19," ujarnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore