Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Januari 2019 | 21.03 WIB

Saran Kemenkes untuk Pengidap HIV/AIDS Jika ARV FDC TLE Tidak Tersedia

Ilustrasi: Kemenkes gagal pengadaan lelang antiretroviral (ARV) - Image

Ilustrasi: Kemenkes gagal pengadaan lelang antiretroviral (ARV)

JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Desember lalu gagal melaksanakan tender pengadaan antiretroviral (ARV). Kegagalan itu dikhawatirkan memengaruhi stok obat untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Meski demikian, Kemenkes menjamin persediaan ARV masih ada hingga 10 bulan ke depan.


Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Alkes) Kemenkes Engko Sosialine Magdalene mengatakan, pemerintah masih memiliki stok ARV untuk 10 bulan ke depan. Jumlah tersebut bukan hanya untuk ODHA yang sudah menjalani pengobatan. "Setelah kami hitung, ketersediaan ini bisa sampai sepuluh bulan ke depan. Tidak masalah," kata Engko.


Jumlah yang dimaksud merupakan ARV dengan fixed dose combination (FDC) dan ARV lepasan.


Sepanjang 2018, sebanyak 2.135.365 orang mengikuti tes HIV. Dari jumlah tersebut, terdapat 314.413 pasien baru.


Dia menjelaskan, Kemenkes telah mengimpor ARV FDC. FDC terdiri atas tenofovir, lamivudine, dan evafirenz (TLE). Menurut Engko, obat ARV kombinasi jenis TLE masih bisa digunakan hingga empat bulan ke depan. ARV jenis tersebut memang digunakan oleh mayoritas penderita HIV/AIDS di Indonesia.


Kemenkes sebenarnya telah mengupayakan pengadaan ARV TLE. Saat ini 564 ribu botol TLE sedang dikirim. Jika obat itu tiba, stok aman hingga akhir tahun.


Menurut dia, jika hingga Mei ARV FDC TLE tidak tersedia, Kemenkes menyarankan agar ODHA menggunakan ARV lepasan. Tidak ada efek samping terkait penggantian obat tersebut. Asalkan ODHA tetap patuh dalam minum obat. Sesuai data Kemenkes, pengguna FDC LTE saat ini mencapai 43.615 pasien.


Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengatakan, ARV FDC LTE saat ini langka. Dia khawatir keterbatasan stok obat tersebut bakal mengganggu pengobatan pengidap HIV/AIDS. "Obat ini tidak menyembuhkan, namun dapat menekan jumlah virus HIV dalam tubuh. Sehingga ODHA bisa tetap sehat dan berpeluang hidup lebih lama," ujarnya.


Pengobatan dengan ARV, lanjut dia, merupakan upaya pengendalian infeksi HIV/AIDS di banyak negara. Dengan demikian, epidemik HIV/AIDS mudah dikontrol. Penggunaan ARV secara teratur juga menurunkan stigma bagi ODHA. Sebab, mereka bisa beraktivitas normal seperti pada umumnya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore