Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Juli 2026 | 23.08 WIB

6 Alasan Mengapa Seseorang Dapat Merindukan Orang yang Pernah Menyakiti Menurut Psikologi

seseorang yang merindukan orang yang pernah menyakitinya / foto: Magnific/timeimage

 

JawaPos.com - Perasaan rindu sering kali muncul tanpa memandang apakah seseorang pernah memberikan kebahagiaan atau justru luka. Tidak sedikit orang yang merasa bingung ketika dirinya masih merindukan mantan pasangan, sahabat, atau seseorang yang pernah menyakitinya. Mereka bertanya-tanya, "Mengapa aku masih memikirkan orang yang telah membuatku terluka?"
 
Dalam psikologi, fenomena ini merupakan hal yang cukup umum. Otak manusia tidak hanya mengingat rasa sakit, tetapi juga menyimpan kenangan, keterikatan emosional, dan berbagai pengalaman yang pernah dibangun bersama seseorang. Oleh karena itu, rasa rindu tidak selalu berarti seseorang ingin kembali menjalin hubungan tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (23/7), terdapat enam alasan psikologis mengapa seseorang masih dapat merindukan orang yang pernah menyakitinya.

1. Ikatan Emosional Tidak Hilang Begitu Saja

Manusia adalah makhluk sosial yang membentuk keterikatan emosional dengan orang-orang yang dekat dengannya. Semakin lama hubungan terjalin, semakin kuat pula ikatan tersebut.

Ketika hubungan berakhir karena pengkhianatan, pertengkaran, atau perlakuan yang menyakitkan, emosi negatif memang muncul. Namun, ikatan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun tidak langsung menghilang.

Otak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kehilangan seseorang yang sebelumnya menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Itulah sebabnya rasa rindu masih bisa muncul meskipun seseorang sadar bahwa hubungan tersebut tidak sehat.

2. Otak Lebih Mudah Mengingat Kenangan Positif

Psikologi menjelaskan bahwa manusia sering kali memiliki kecenderungan mengingat momen-momen menyenangkan dibandingkan pengalaman buruk ketika waktu telah berlalu.

Fenomena ini membuat seseorang lebih sering mengingat:

Tawa bersama.
Perjalanan yang menyenangkan.
Perhatian kecil yang pernah diberikan.
Dukungan yang pernah diterima.

Sementara itu, rasa sakit perlahan mulai memudar dari ingatan. Akibatnya, yang muncul justru kerinduan terhadap versi terbaik dari hubungan tersebut, bukan terhadap rasa sakit yang pernah dialami.

3. Trauma Bond Membuat Sulit Melepaskan

Salah satu konsep psikologi yang cukup dikenal adalah trauma bond. Kondisi ini terjadi ketika hubungan dipenuhi siklus antara perlakuan baik dan perlakuan buruk secara bergantian.

Misalnya, seseorang sering disakiti, tetapi setelah itu pasangan meminta maaf, memberikan perhatian, atau menunjukkan kasih sayang yang berlebihan. Pola seperti ini menciptakan keterikatan emosional yang sangat kuat.

Akibatnya, ketika hubungan berakhir, seseorang tidak hanya kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan sumber perhatian yang selama ini datang secara tidak konsisten. Hal inilah yang sering memunculkan rasa rindu meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak sehat.

4. Rindu Terhadap Kebiasaan, Bukan Orangnya

Sering kali yang sebenarnya dirindukan bukan sosok orang tersebut, melainkan rutinitas yang pernah dijalani bersama.

Contohnya:

Mengobrol setiap malam.
Bertukar pesan setiap pagi.
Pergi ke tempat favorit bersama.
Merayakan hari-hari penting.

Ketika semua kebiasaan itu tiba-tiba berhenti, otak mengalami perubahan besar dalam pola aktivitas sehari-hari. Kekosongan inilah yang kemudian diterjemahkan sebagai rasa rindu.

Dalam banyak kasus, seseorang sebenarnya tidak ingin kembali kepada orang yang menyakitinya. Ia hanya merindukan kenyamanan dari rutinitas yang telah hilang.

5. Adanya Harapan Bahwa Orang Itu Akan Berubah

Harapan merupakan salah satu faktor yang membuat seseorang sulit melepaskan hubungan.

Walaupun pernah disakiti, sebagian orang tetap percaya bahwa pasangan atau orang tersebut suatu saat akan berubah menjadi lebih baik.

Mereka lebih fokus pada potensi perubahan dibandingkan kenyataan yang pernah terjadi. Pikiran seperti:

"Mungkin dia sudah berubah."
"Mungkin kali ini akan berbeda."
"Dia sebenarnya baik, hanya sedang mengalami masalah."

dapat membuat rasa rindu tetap bertahan.

Dalam psikologi, harapan yang tidak realistis sering kali membuat proses penyembuhan menjadi lebih lama karena seseorang terus mempertahankan kemungkinan yang belum tentu terjadi.

6. Kesepian Membuat Kenangan Terasa Lebih Indah

Kesepian merupakan kondisi emosional yang dapat memengaruhi cara seseorang memandang masa lalu.

Ketika sedang merasa sendiri, stres, atau menghadapi masalah hidup, otak cenderung mencari sumber kenyamanan dari pengalaman sebelumnya.

Akibatnya, kenangan bersama orang yang pernah menyakiti menjadi terlihat lebih indah daripada kenyataannya.

Fenomena ini dikenal sebagai bentuk idealisasi masa lalu, yaitu kecenderungan melihat hubungan terdahulu secara lebih positif daripada kondisi sebenarnya. Karena itu, rasa rindu sering muncul bukan karena hubungan tersebut baik, tetapi karena seseorang sedang membutuhkan rasa aman dan kehangatan.

Apakah Rasa Rindu Berarti Harus Kembali?

Jawabannya adalah tidak.

Merindukan seseorang merupakan respons emosional yang normal. Namun, rasa rindu tidak selalu menjadi pertanda bahwa hubungan tersebut layak diperjuangkan kembali.

Psikologi membedakan antara emosi dan keputusan. Emosi dapat muncul secara spontan tanpa kita kehendaki, sedangkan keputusan harus dibuat berdasarkan pertimbangan yang rasional.

Jika seseorang pernah melakukan kekerasan, manipulasi, penghinaan, atau berulang kali mengkhianati kepercayaan, maka rasa rindu sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya alasan untuk kembali menjalin hubungan.

Yang perlu diingat adalah bahwa otak sering merindukan kenyamanan yang pernah dirasakan, bukan penderitaan yang menyertainya.

Penutup

Merindukan orang yang pernah menyakiti bukan berarti seseorang lemah atau gagal move on. Hal tersebut merupakan bagian dari proses emosional yang dipengaruhi oleh ikatan, kebiasaan, kenangan, harapan, hingga cara kerja otak dalam menyimpan pengalaman.

Memahami alasan psikologis di balik rasa rindu dapat membantu seseorang melihat perasaannya dengan lebih objektif. Dengan demikian, ia dapat membedakan antara kerinduan yang wajar dan keinginan untuk kembali pada hubungan yang justru berpotensi menyakitinya lagi.

Pada akhirnya, proses penyembuhan bukanlah tentang menghilangkan semua kenangan, melainkan belajar menerima masa lalu, mengambil pelajaran darinya, dan memilih hubungan yang lebih sehat di masa depan.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore