Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Juli 2026 | 04.31 WIB

6 Alasan Mengapa Berusaha Mencintai Diri Sendiri Justru Bisa Membuat Anda Merasa Lebih Buruk Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha mencintai diri sendiri / foto: Magnific/benzoix

 

JawaPos.com - Selama beberapa tahun terakhir, istilah self-love atau mencintai diri sendiri menjadi salah satu topik yang paling sering dibahas dalam dunia kesehatan mental. Media sosial dipenuhi dengan kutipan motivasi yang menyarankan kita untuk selalu mencintai diri sendiri, menerima segala kekurangan, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
 
Sekilas, pesan tersebut terdengar sangat positif. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang justru merasa semakin gagal, semakin cemas, bahkan semakin membenci dirinya ketika berusaha menerapkan konsep self-love.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Psikologi menjelaskan bahwa masalahnya bukan terletak pada mencintai diri sendiri, melainkan pada cara seseorang memaknai dan mengejarnya. Ketika self-love dipahami secara keliru atau dijadikan target yang harus selalu dicapai, dampaknya justru dapat berlawanan dengan yang diharapkan.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (19/7), terdapat enam alasan mengapa berusaha mencintai diri sendiri justru bisa membuat Anda merasa lebih buruk menurut psikologi.

1. Anda Menjadikan Self-Love Sebagai Kewajiban

Banyak orang berpikir bahwa mereka harus selalu merasa percaya diri, bahagia, dan bangga terhadap diri sendiri.

Padahal, menurut psikologi, emosi manusia bersifat dinamis. Ada hari ketika kita merasa kuat, tetapi ada pula saatnya merasa kecewa, sedih, atau tidak puas terhadap diri sendiri.

Ketika seseorang memaksakan diri untuk selalu mencintai dirinya, ia akan mulai menganggap emosi negatif sebagai tanda kegagalan.

Misalnya:

"Kenapa aku masih insecure?"
"Berarti aku belum benar-benar mencintai diri sendiri."
"Aku gagal menjadi orang yang sehat secara mental."

Pola pikir seperti ini menciptakan tekanan psikologis baru. Alih-alih mengurangi stres, seseorang justru menambahkan beban karena merasa gagal menjalankan konsep self-love.

Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai tekanan emosional sekunder, yaitu merasa buruk karena merasa buruk.

2. Anda Terlalu Fokus Mengevaluasi Diri

Mencintai diri sendiri sering disalahartikan sebagai terus-menerus mengevaluasi apakah kita sudah cukup baik.

Akibatnya, seseorang menjadi terlalu sering bertanya:

Apakah aku sudah bahagia?
Apakah aku sudah mencintai diriku?
Apakah aku sudah berkembang?

Ironisnya, semakin sering seseorang memantau kondisi emosinya, semakin sulit ia merasa puas.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai self-focused attention, yaitu perhatian yang berlebihan terhadap kondisi diri sendiri.

Ketika fokus terus diarahkan ke dalam diri, seseorang lebih mudah menemukan kekurangan dibandingkan kelebihannya.

Akhirnya, proses yang seharusnya membuat tenang justru berubah menjadi aktivitas mengkritik diri secara terus-menerus.

3. Media Sosial Membuat Standar Self-Love Menjadi Tidak Realistis

Di media sosial, self-love sering digambarkan dengan kehidupan yang tampak sempurna.

Orang-orang terlihat:

selalu percaya diri,
produktif,
tampil menarik,
rajin berolahraga,
memiliki rutinitas pagi yang ideal,
dan selalu terlihat bahagia.

Padahal, yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Menurut teori perbandingan sosial (Social Comparison Theory) yang dikemukakan Leon Festinger, manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.

Ketika standar yang dijadikan pembanding terlalu tinggi, seseorang akan merasa dirinya selalu tertinggal.

Akibatnya muncul pikiran seperti:

"Semua orang sudah mencintai dirinya sendiri. Kenapa aku belum?"

Padahal kenyataannya, banyak orang yang juga sedang berjuang dengan masalah yang sama.

4. Anda Mencari Harga Diri yang Selalu Tinggi

Selama bertahun-tahun, psikologi memang menganggap harga diri (self-esteem) yang tinggi sebagai sesuatu yang penting.

Namun penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa mengejar harga diri secara terus-menerus justru dapat menjadi jebakan.

Mengapa?

Karena harga diri sangat bergantung pada pencapaian.

Ketika berhasil, seseorang merasa dirinya berharga.

Namun ketika gagal, harga dirinya langsung turun drastis.

Akibatnya, kehidupan emosional menjadi tidak stabil.

Banyak psikolog kini lebih menekankan pentingnya self-compassion, yaitu memperlakukan diri sendiri dengan penuh pengertian ketika mengalami kegagalan.

Orang yang memiliki self-compassion tidak harus selalu merasa hebat.

Mereka cukup menerima bahwa menjadi manusia berarti sesekali melakukan kesalahan.

Pendekatan ini terbukti lebih stabil dibanding terus mengejar rasa bangga terhadap diri sendiri.

5. Anda Menolak Emosi Negatif

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menganggap bahwa mencintai diri sendiri berarti harus selalu berpikir positif.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa menekan emosi negatif justru dapat memperkuat emosi tersebut.

Fenomena ini dikenal sebagai efek rebound, yaitu semakin kita berusaha mengusir suatu pikiran atau perasaan, semakin kuat ia kembali muncul.

Sebagai contoh:

Seseorang berkata kepada dirinya,

"Aku tidak boleh sedih."

Namun justru ia menjadi semakin sadar bahwa dirinya sedang sedih.

Semakin ia mencoba menghilangkan perasaan itu, semakin besar perhatian yang diberikan kepada emosi tersebut.

Sebaliknya, menerima bahwa rasa sedih adalah bagian normal dari kehidupan sering kali membantu emosi itu mereda dengan sendirinya.

6. Anda Mengira Self-Love Berarti Selalu Menyukai Diri Sendiri

Inilah kesalahpahaman terbesar.

Mencintai diri sendiri bukan berarti selalu menyukai setiap bagian dari diri.

Setiap orang pasti memiliki sifat yang ingin diperbaiki.

Psikologi justru menekankan bahwa hubungan yang sehat dengan diri sendiri lebih mirip hubungan dengan sahabat dekat.

Bayangkan sahabat Anda melakukan kesalahan.

Kemungkinan besar Anda tidak akan langsung berkata,

"Kamu memang gagal."

Sebaliknya, Anda akan mencoba memahami situasinya sambil tetap mendorongnya menjadi lebih baik.

Sikap seperti inilah yang disebut self-compassion.

Artinya, kita tetap bisa menerima diri sendiri sambil mengakui bahwa masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki.

Dengan kata lain, mencintai diri sendiri bukan berarti menganggap diri sempurna, melainkan tetap memperlakukan diri dengan hormat bahkan ketika sedang tidak berada dalam kondisi terbaik.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Daripada memaksa diri untuk selalu mencintai diri sendiri, banyak psikolog menyarankan pendekatan yang lebih realistis.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Terima bahwa emosi negatif adalah bagian normal dari kehidupan.
Kurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial.
Fokus pada kemajuan kecil daripada kesempurnaan.
Perlakukan diri sendiri sebagaimana Anda memperlakukan sahabat yang sedang mengalami kesulitan.
Latih self-compassion, bukan sekadar mengejar rasa percaya diri.
Ingat bahwa nilai diri Anda tidak ditentukan oleh pencapaian atau penilaian orang lain.

Dengan pendekatan ini, hubungan dengan diri sendiri menjadi lebih sehat, stabil, dan tidak bergantung pada suasana hati sesaat.

Penutup

Mencintai diri sendiri bukanlah tujuan yang harus dicapai setiap hari, melainkan proses panjang yang penuh naik dan turun. Psikologi menunjukkan bahwa ketika self-love dipahami sebagai kewajiban untuk selalu bahagia, percaya diri, atau merasa sempurna, konsep tersebut justru dapat menjadi sumber tekanan baru.

Sebaliknya, hubungan yang sehat dengan diri sendiri dibangun melalui penerimaan, belas kasih terhadap diri (self-compassion), dan kesediaan mengakui bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Anda tidak harus selalu menyukai diri sendiri untuk tetap memperlakukan diri dengan baik. Justru ketika Anda berhenti memaksa diri menjadi sempurna, Anda memberi ruang bagi pertumbuhan yang lebih alami dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang selalu merasa baik terhadap diri sendiri, tetapi tentang tetap bersikap baik kepada diri sendiri, bahkan di hari-hari ketika Anda merasa tidak baik-baik saja.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore