Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Juli 2026 | 04.25 WIB

Jika Anda Sedang Benar-Benar Menderita, Carilah 7 Hal Ini yang Akan Menenangkan Diri Anda Menurut Psikologi

seseorang yang merasa benar-benar menderita / foto: Magnific/namii9

 

JawaPos.com - Setiap manusia pasti pernah mengalami masa-masa yang begitu berat hingga terasa seolah seluruh dunia sedang melawannya. Ada saat ketika hati dipenuhi kecemasan, pikiran terasa sesak, dan tubuh kehilangan energi untuk menjalani hari. Penderitaan bisa datang dalam berbagai bentuk, seperti kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kesepian, hingga luka batin yang telah lama dipendam.
 
Dalam kondisi seperti ini, banyak orang mencoba mencari pelarian yang justru memperburuk keadaan.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (19/7), psikologi modern menunjukkan bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan dapat dibangun melalui cara-cara sederhana yang membantu otak dan tubuh kembali merasa aman.

Jika saat ini Anda sedang berada di titik terendah dalam hidup, jangan buru-buru menyerah. Cobalah mencari tujuh hal berikut. Mungkin masalah Anda belum langsung selesai, tetapi hati Anda bisa menjadi lebih tenang sehingga memiliki kekuatan untuk menghadapi semuanya.

1. Carilah Orang yang Benar-Benar Mau Mendengarkan

Ketika seseorang sedang menderita, ia sering kali membutuhkan telinga, bukan nasihat.

Psikologi menyebut bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa dipahami. Saat kita menceritakan beban kepada seseorang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, otak akan merasakan adanya rasa aman secara emosional.

Sebaliknya, memendam semua rasa sakit sendirian justru membuat pikiran terus mengulang masalah yang sama. Fenomena ini dikenal sebagai rumination, yaitu kecenderungan memikirkan masalah secara berulang tanpa menemukan solusi.

Karena itu, carilah seseorang yang dapat menjadi tempat berbicara. Bisa sahabat, pasangan, anggota keluarga, guru, atau konselor profesional.

Sering kali, rasa lega muncul bukan karena masalah selesai, tetapi karena kita tidak lagi memikulnya sendirian.

2. Carilah Tempat yang Membuat Pikiran Merasa Aman

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seseorang.

Penelitian menunjukkan bahwa berada di tempat yang tenang dapat menurunkan tingkat stres. Alam terbuka, taman, pantai, pegunungan, atau bahkan sudut rumah yang nyaman mampu membantu sistem saraf keluar dari mode "bertahan hidup".

Ketika otak tidak lagi menerima terlalu banyak rangsangan berupa kebisingan, tekanan, atau konflik, tubuh mulai memproduksi respons relaksasi.

Tidak perlu tempat yang mewah.

Duduk di bawah pohon, menikmati suara hujan, melihat langit sore, atau berjalan perlahan di taman sudah cukup membantu pikiran memperoleh ruang untuk bernapas.

3. Carilah Waktu untuk Menangis Jika Memang Ingin Menangis

Banyak orang diajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan.

Padahal, psikologi justru memandang tangisan sebagai salah satu bentuk pelepasan emosi yang sehat.

Saat seseorang menahan kesedihan terlalu lama, tubuh tetap menyimpan ketegangan tersebut. Menangis membantu melepaskan sebagian tekanan emosional sehingga seseorang merasa sedikit lebih ringan setelahnya.

Ini bukan berarti setiap masalah harus diselesaikan dengan air mata.

Namun ketika hati benar-benar sesak, memberi izin kepada diri sendiri untuk menangis adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri.

Tidak semua air mata menunjukkan kelemahan.

Kadang-kadang, air mata adalah bukti bahwa seseorang masih berusaha bertahan.

4. Carilah Hal-Hal Kecil yang Masih Bisa Anda Syukuri

Saat sedang menderita, otak cenderung hanya fokus pada hal-hal negatif.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai negativity bias, yaitu otak lebih mudah memperhatikan ancaman dibandingkan hal-hal positif.

Karena itu, melatih rasa syukur bukan berarti mengabaikan penderitaan, melainkan membantu otak melihat bahwa kehidupan tidak sepenuhnya gelap.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apa satu hal baik yang masih saya miliki hari ini?
Siapa orang yang masih peduli kepada saya?
Apa yang masih bisa saya lakukan meskipun keadaan sulit?

Jawabannya mungkin sederhana.

Masih bisa bernapas dengan sehat.

Masih memiliki tempat tinggal.

Masih memiliki teman yang mengirim pesan.

Hal-hal kecil tersebut perlahan membantu menyeimbangkan cara kerja pikiran.

5. Carilah Aktivitas yang Membuat Pikiran Beristirahat

Ketika terus-menerus memikirkan masalah, otak menjadi lelah.

Psikologi menyarankan pentingnya memberi waktu istirahat bagi pikiran melalui aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda.

Ada yang merasa tenang ketika membaca buku.

Ada yang memasak.

Ada yang berkebun.

Ada yang melukis.

Ada pula yang berjalan santai sambil mendengarkan musik.

Aktivitas seperti ini membantu mengalihkan perhatian dari kecemasan yang berlebihan sehingga otak memiliki kesempatan untuk memulihkan energi mental.

Beristirahat bukan berarti menyerah.

Beristirahat adalah mempersiapkan diri agar mampu melanjutkan perjalanan.

6. Carilah Makna di Balik Penderitaan

Psikolog Viktor Frankl pernah menjelaskan bahwa manusia mampu bertahan menghadapi penderitaan jika ia masih menemukan makna dalam hidupnya.

Ini bukan berarti semua penderitaan memiliki alasan yang mudah dipahami.

Namun seseorang dapat memilih bagaimana ia memaknai pengalaman tersebut.

Banyak orang menjadi lebih kuat setelah melewati masa-masa sulit.

Ada yang menjadi lebih penyayang.

Ada yang lebih menghargai waktu bersama keluarga.

Ada yang akhirnya menemukan tujuan hidup baru.

Mencari makna bukan berarti menikmati rasa sakit.

Melainkan menemukan alasan untuk terus melangkah meskipun rasa sakit itu masih ada.

7. Carilah Harapan, Sekecil Apa Pun Itu

Harapan adalah salah satu kekuatan psikologis terbesar yang dimiliki manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang masih memiliki harapan cenderung lebih mampu menghadapi tekanan, bangkit dari kegagalan, dan menjaga kesehatan mental.

Harapan tidak harus berupa keyakinan bahwa semuanya akan langsung membaik.

Harapan bisa sesederhana:

"Besok mungkin sedikit lebih baik."

"Saya akan mencoba lagi."

"Saya belum menyerah."

Kalimat-kalimat sederhana tersebut membantu otak melihat bahwa masa depan masih memiliki kemungkinan.

Selama masih ada harapan, selalu ada alasan untuk terus berjalan.

Penutup

Penderitaan adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Namun, kita selalu memiliki pilihan tentang bagaimana meresponsnya. Psikologi mengajarkan bahwa ketenangan tidak selalu datang dari hilangnya masalah, melainkan dari kemampuan kita membangun rasa aman, menerima emosi, mencari dukungan, menemukan makna, dan menjaga secercah harapan.

Jika hari ini Anda sedang benar-benar menderita, jangan memaksa diri untuk langsung menjadi kuat. Mulailah dengan satu langkah kecil. Temui seseorang yang mau mendengarkan. Luangkan waktu di tempat yang membuat hati lebih damai. Izinkan diri menangis jika memang perlu. Syukuri hal-hal sederhana yang masih Anda miliki. Beristirahatlah sejenak melalui aktivitas yang Anda sukai. Cari makna di balik setiap pengalaman, dan peliharalah harapan sekecil apa pun.

Dan jika penderitaan terasa begitu berat hingga mengganggu kehidupan sehari-hari atau muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri, jangan hadapi semuanya sendirian. Menghubungi psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental adalah langkah yang berani, bukan tanda kelemahan. Meminta bantuan adalah salah satu bentuk keberanian terbesar untuk menjaga diri dan membuka jalan menuju pemulihan.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore