Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Juni 2026 | 02.14 WIB

5 Hal yang Tidak Pernah Dibiarkan Orang-Orang yang Benar-Benar Bahagia Mencuri Energi Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang tidak mempedulikan pendapat orang lain / foto: Magnific/cookie_studio

 

JawaPos.com - Kebahagiaan yang sejati bukan berarti hidup tanpa masalah, tanpa konflik, atau tanpa hari buruk. Menurut banyak perspektif dalam psikologi, orang-orang yang memiliki tingkat kesejahteraan mental yang tinggi bukanlah mereka yang selalu merasa positif, melainkan mereka yang mampu mengelola energi emosionalnya dengan baik.

Mereka memahami bahwa perhatian, waktu, dan pikiran adalah sumber daya yang terbatas. Karena itu, mereka tidak memberikan ruang terlalu besar bagi hal-hal yang terus menguras diri mereka.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (22/6), terdapat 5 hal yang biasanya tidak dibiarkan oleh orang-orang yang benar-benar bahagia untuk mencuri energi mereka.

1. Pendapat Orang Lain yang Tidak Bisa Mereka Kendalikan

Salah satu sumber kelelahan mental terbesar adalah terus-menerus mencoba mengontrol bagaimana orang lain melihat diri kita.

Orang yang bahagia tetap peduli dengan hubungan sosial, tetapi mereka memahami satu hal penting: kita tidak bisa mengendalikan pikiran, penilaian, atau reaksi orang lain.

Dalam psikologi, kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan persetujuan orang lain sering dikaitkan dengan kecemasan sosial, rasa tidak aman, dan ketergantungan pada validasi eksternal.

Orang yang sehat secara emosional biasanya memiliki pola pikir seperti:

"Saya akan berusaha menjadi orang yang baik, tetapi saya tidak akan mengorbankan kedamaian saya hanya untuk membuat semua orang menyukai saya."

Mereka tidak menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan:

"Apa mereka membicarakan saya?"
"Kenapa dia tidak menyukai saya?"
"Apakah saya cukup baik menurut mereka?"

Mereka memahami bahwa selalu berusaha menyenangkan semua orang adalah jalan menuju kelelahan.

Kebahagiaan muncul ketika seseorang mulai memindahkan fokus dari:

"Bagaimana orang lain menilai saya?"

menjadi:

"Apakah saya hidup sesuai dengan nilai dan prinsip saya?"

2. Drama yang Tidak Membawa Solusi

Orang yang bahagia bukan berarti mereka tidak pernah mengalami konflik. Mereka tetap menghadapi masalah, tetapi mereka memilih dengan hati-hati masalah mana yang pantas mendapatkan energi mereka.

Psikologi menunjukkan bahwa terlalu sering terpapar konflik, gosip, dan drama interpersonal dapat meningkatkan stres emosional karena otak terus berada dalam kondisi waspada.

Orang yang bahagia biasanya bertanya:

Apakah masalah ini bisa saya ubah?
Apakah percakapan ini akan menghasilkan solusi?
Apakah ini penting untuk hidup saya beberapa bulan atau tahun ke depan?

Jika jawabannya tidak, mereka belajar melepaskan.

Mereka tidak merasa harus memenangkan setiap perdebatan.

Mereka tidak merasa harus menjelaskan diri kepada semua orang.

Mereka tidak merasa wajib masuk ke setiap konflik.

Mereka memahami bahwa terkadang ketenangan lebih berharga daripada kemenangan.

Ada perbedaan besar antara:

mempertahankan sesuatu yang penting

dan

mempertahankan sesuatu hanya karena ego tidak ingin kalah.

Orang yang bahagia memilih energinya dengan bijak.

3. Rasa Bersalah Karena Memprioritaskan Diri Sendiri

Banyak orang kehilangan energi karena merasa bersalah ketika melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Mereka merasa egois ketika:

mengatakan tidak,
beristirahat,
mengambil waktu sendiri,
memilih kebutuhan mereka,
meninggalkan hubungan yang melelahkan.

Padahal menurut psikologi, memiliki batasan pribadi (personal boundaries) merupakan bagian penting dari kesehatan mental.

Orang yang bahagia memahami bahwa merawat diri bukan berarti tidak peduli dengan orang lain.

Mereka tahu:

Seseorang yang terus memberikan tanpa mengisi dirinya sendiri akhirnya akan kosong.

Mereka belajar bahwa mengatakan "tidak" bukan tanda kebencian.

Mengambil waktu untuk diri sendiri bukan tanda egois.

Menjaga kesehatan mental bukan tindakan melawan orang lain.

Mereka menyadari bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun dari pengorbanan tanpa batas, tetapi dari keseimbangan.

4. Masa Lalu yang Tidak Bisa Diubah

Semua orang memiliki masa lalu.

Ada keputusan yang salah, kesempatan yang hilang, hubungan yang berakhir, atau pengalaman yang menyakitkan.

Namun orang-orang yang bahagia tidak membiarkan masa lalu menjadi tempat tinggal permanen bagi pikiran mereka.

Dalam psikologi, terlalu lama terjebak dalam penyesalan dan perenungan negatif (rumination) dapat memperkuat stres serta memperburuk suasana hati.

Orang yang bahagia tetap belajar dari masa lalu, tetapi mereka tidak terus menghukum dirinya sendiri karena hal yang sudah selesai.

Mereka mengubah pertanyaan:

Dari:

"Kenapa saya melakukan itu?"

Menjadi:

"Apa yang bisa saya pelajari dari itu?"

Mereka memahami bahwa versi diri mereka di masa lalu bertindak berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan kondisi yang mereka miliki saat itu.

Menerima masa lalu bukan berarti menyetujui semua yang terjadi.

Menerima berarti berhenti memberikan energi tanpa batas kepada sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.

5. Perbandingan Terus-Menerus dengan Kehidupan Orang Lain

Salah satu pencuri energi terbesar di era modern adalah kebiasaan membandingkan diri.

Media sosial membuat manusia melihat potongan terbaik kehidupan orang lain, lalu membandingkannya dengan seluruh perjuangan pribadi mereka.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa perbandingan sosial yang berlebihan dapat menurunkan kepuasan hidup dan meningkatkan rasa kurang.

Orang yang bahagia tetap bisa mengagumi keberhasilan orang lain, tetapi mereka tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan dirinya sendiri.

Mereka memahami:

perjalanan setiap orang berbeda,
waktu keberhasilan setiap orang berbeda,
tujuan hidup setiap orang berbeda.

Mereka lebih fokus pada pertanyaan:

"Apakah saya berkembang dibandingkan diri saya yang dulu?"

bukan:

"Kenapa hidup saya tidak seperti mereka?"

Mereka menggunakan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai alat untuk menyiksa diri.

Kesimpulan: Kebahagiaan Adalah Kemampuan Melindungi Energi Diri

Orang-orang yang benar-benar bahagia bukanlah orang yang hidupnya selalu mudah.

Mereka juga menghadapi kehilangan, kegagalan, kritik, dan masalah.

Perbedaannya adalah mereka belajar bahwa tidak semua hal pantas mendapatkan perhatian mereka.

Mereka menjaga energi dengan:

tidak mengejar persetujuan semua orang,
tidak masuk ke drama yang tidak perlu,
tidak merasa bersalah karena merawat diri,
tidak hidup di masa lalu,
tidak membandingkan perjalanan mereka dengan orang lain.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukan hanya tentang menambah hal-hal menyenangkan dalam hidup.

Kadang-kadang kebahagiaan datang dari kemampuan untuk berkata:

"Ini tidak lagi layak mengambil energi saya."

Dan dari situlah seseorang mulai memiliki ruang untuk menikmati hidup dengan lebih tenang, sadar, dan penuh makna.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore