Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Mei 2026 | 15.37 WIB

Jika Anda Ingin Lebih Berdamai dengan Diri Sendiri Seiring Bertambahnya Usia, Ucapkan Selamat Tinggal pada 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berdamai dengan dirinya sendiri / foto: Magnific/freepik - Image

seseorang yang berdamai dengan dirinya sendiri / foto: Magnific/freepik

JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, banyak orang berharap hidup menjadi lebih tenang, lebih stabil, dan lebih selaras dengan diri sendiri. Namun kenyataannya, ketenangan batin tidak otomatis datang hanya karena usia bertambah. Ia lebih sering lahir dari proses “melepaskan”—terutama melepaskan pola pikir dan perilaku yang sudah tidak lagi membantu.

Dalam psikologi, banyak penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan emosional sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang untuk mengurangi kebiasaan mental yang maladaptif. Artinya, bukan hanya menambah hal positif, tetapi juga mengurangi hal yang menguras energi psikologis.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (12/5), terdapat delapan perilaku yang sering disarankan untuk ditinggalkan jika seseorang ingin hidup lebih damai dengan dirinya sendiri.

1. Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Perbandingan sosial adalah salah satu sumber kecemasan paling umum dalam psikologi modern. Kita cenderung melihat “highlight” hidup orang lain tanpa memahami “backstage”-nya.

Ketika terlalu sering membandingkan diri, otak masuk ke mode evaluasi yang tidak pernah selesai. Selalu ada orang yang terlihat lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih mapan.

Dampaknya:

rasa tidak cukup (inadequacy)
rendahnya self-esteem
ketidakpuasan kronis

Melepaskan kebiasaan ini bukan berarti berhenti terinspirasi, tetapi mengubah fokus dari “lebih baik dari orang lain” menjadi “lebih baik dari versi diri sendiri kemarin”.

2. Menunda Kebahagiaan (Delayed Happiness Syndrome)

Banyak orang tanpa sadar menunda kebahagiaan dengan pola pikir seperti:

“Nanti kalau sudah sukses, saya akan bahagia”
“Kalau sudah punya rumah, baru bisa tenang”
“Kalau sudah pensiun, baru bisa hidup”

Psikologi positif menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan garis akhir, melainkan proses yang perlu dihadirkan dalam keseharian.

Menunda kebahagiaan terlalu lama membuat hidup terasa seperti “ruang tunggu” tanpa akhir.

Melepaskan pola ini berarti mulai memberi izin pada diri sendiri untuk merasa cukup di fase hidup saat ini.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore