Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Mei 2026 | 04.55 WIB

Cek Selera Humormu! Pakar Ungkap Kepribadian Asli Seseorang dari Apa yang Membuatnya Tertawa

Ilustrasi orang yang humoris dan mampu menghibur semua orang di berbagai situasi. (freepik/ freepic) - Image

Ilustrasi orang yang humoris dan mampu menghibur semua orang di berbagai situasi. (freepik/ freepic)

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sebuah lelucon membuat Anda tertawa terbahak-bahak, sementara teman Anda justru merasa tersinggung atau hanya terdiam? Ternyata, tawa bukan sekadar respons spontan terhadap sesuatu yang lucu. Selera humor Anda sebenarnya adalah "pintu gerbang" untuk memahami siapa Anda sebenarnya.

Tertawa memang memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa, mulai dari membakar kalori hingga menjadi penghilang stres alami. Namun, tipe humor yang kita pilih—apakah itu sarkasme, lelucon "bapak-bapak", atau humor gelap—mencerminkan sifat mendalam dalam diri kita. Para pakar kepribadian kini bisa membaca karakter seseorang hanya dari apa yang memicu tawa mereka.

Dilansir dari YourTango, kepribadian memainkan peran kunci dalam menentukan jenis humor yang kita konsumsi. Pakar tipe kepribadian Merrick Rosenberg sangat percaya bahwa lelucon yang Anda sukai adalah indikator yang sangat akurat untuk menilai karakter asli seseorang.

Merrick Rosenberg, seorang pembicara dan pakar kepribadian, menjelaskan dalam sebuah unggahan video bahwa pilihan humor tidak pernah terjadi secara tidak sengaja. Menurutnya, "lelucon yang membuat Anda tertawa itu mengungkapkan siapa dirimu," dan hal ini didukung sepenuhnya oleh berbagai riset psikologi.

Si Pecinta 'Dad Jokes' dan Humor Positif
Dalam dunia psikologi, terdapat hubungan yang kuat antara gaya humor dan sifat kepribadian utama. Hasil penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa mereka yang menyukai lelucon ringan, inklusif, dan tidak menyakiti—seperti dad jokes—cenderung memiliki kepribadian ekstrovert yang hangat.

Tipe ini biasanya memiliki tingkat agreeableness atau kesetujuan yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang terbuka terhadap pengalaman baru dan selalu berusaha membuat suasana di sekitarnya terasa cair. Bagi mereka, humor adalah alat untuk menyatukan orang, bukan untuk memisahkan atau merendahkan.

Orang-orang dengan selera humor afiliatif ini membuat orang lain merasa aman berada di dekat mereka. Karakter mereka yang optimis terpancar dari cara mereka memilih kata-kata yang memicu tawa tanpa harus mengorbankan perasaan siapa pun. Mereka lebih suka melihat semua orang tersenyum bersama daripada tertawa di atas penderitaan orang lain.

Karakteristik positif ini sangat membantu dalam membangun koneksi sosial yang sehat. Mereka menggunakan tawa sebagai magnet untuk menciptakan lingkungan yang terbuka. Dengan tertawa bersama melalui humor yang sehat, mereka berhasil menciptakan pengalaman kolektif yang memperkuat ikatan emosional dengan rekan atau sahabat.

Kecepatan Berpikir dan Spontanitas Tanpa Filter
Di sisi lain, ada tipe orang yang sangat cepat menangkap dan menciptakan lelucon spontan atau quick-witted. Mereka adalah individu yang sanggup membalas ucapan orang lain dengan candaan ngena hanya dalam hitungan detik. Gaya humor ini mencerminkan cara kerja otak yang sangat dinamis dan gesit.

Secara kepribadian, mereka adalah orang-orang yang spontan dan berani mengambil risiko. Mereka merasa nyaman dengan ketidakpastian dan mampu berpikir out of the box dalam situasi yang menekan. Otak mereka bekerja dengan sedikit filter, sehingga ide-ide kreatif sering kali keluar begitu saja tanpa hambatan.

Namun, kecepatan berpikir ini juga memiliki tantangan tersendiri. Terkadang, karena saking cepatnya memberikan respons, mereka berisiko mengucapkan sesuatu sebelum benar-benar memikirkannya secara matang. Karakter ini menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi namun butuh kontrol agar spontanitasnya tidak berubah menjadi kecerobohan.

Bagi mereka, humor adalah permainan mental yang mengasyikkan. Mereka menikmati dinamika percakapan yang cepat dan selalu mencari celah untuk memberikan kejutan melalui kata-kata. Ketajaman pikiran mereka sering kali menjadi pusat perhatian dalam setiap pertemuan sosial karena kemampuan menghibur yang alami.

Sisi Tersembunyi di Balik Sarkasme dan Sindiran
Lalu, bagaimana dengan mereka yang doyan menggunakan sarkasme atau sindiran halus? Rosenberg mencatat bahwa jika humor Anda lebih fokus pada gaya ini, kemungkinan besar Anda adalah tipe orang yang lebih suka menangani konflik secara tidak langsung. Sarkasme sering kali menjadi tameng emosional bagi penggunanya.

Kepribadian ini menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap situasi, namun ada keengganan untuk melakukan konfrontasi secara to the point. Humor sarkastik digunakan untuk menyampaikan unek-unek atau ketidaksukaan dengan cara yang dibungkus dengan tawa, sehingga terlihat lebih "aman" secara sosial.

Meskipun terlihat tajam dan cerdas, penggunaan sarkasme yang berlebihan bisa mengindikasikan adanya perasaan yang tertahan. Seseorang mungkin menggunakan gaya ini untuk menjaga jarak atau melindungi diri agar tidak terlihat terlalu rentan di depan orang lain. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang sangat umum ditemukan.

Memahami hal ini sangat penting agar kita bisa lebih peka dalam berkomunikasi dengan si raja atau ratu sarkas. Di balik sindiran tajam mereka, biasanya terdapat pesan atau emosi yang ingin disampaikan namun sulit diungkapkan secara jujur. Humor menjadi cara mereka untuk tetap "bersuara" tanpa harus merasa terancam.

Humor Agresif dan Masalah Kepercayaan Diri
Gaya humor yang menargetkan atau merendahkan orang lain, seperti roasting yang berlebihan, bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental tertentu. Psikolog evolusioner Gil Greengross, Ph.D., menjelaskan bahwa humor agresif sering kali berkorelasi dengan tingkat neurotisme yang tinggi dalam diri seseorang.

Orang dengan skor neurotisme tinggi cenderung lebih mudah merasa stres atau cemas. Karena sulit menggunakan gaya humor yang sehat dan suportif, mereka beralih ke gaya agresif untuk menutupi rasa tidak aman (insecure) mereka. Menertawakan kegagalan orang lain menjadi cara instan bagi mereka untuk merasa memegang kendali atau kekuasaan.

"Orang yang neurotik cenderung menderita lebih banyak stres dan lebih cemas daripada orang yang kurang neurotik. Oleh karena itu, tidak mungkin jika orang yang memiliki neurotisisme tinggi cenderung menggunakan kurang gaya humor sehat, atau mungkin tidak tahu bagaimana menggunakannya secara efektif," kata Greengross.

Seperti yang dicatat oleh BetterHelp, penggunaan jenis humor ini sering kali merupakan upaya untuk menutupi rasa rendah diri. Dengan merendahkan orang lain, mereka mencoba mengangkat diri mereka sendiri secara semu. Mengenali tanda ini sangat membantu kita untuk memahami bahwa tawa agresif seseorang sebenarnya adalah teriakan minta tolong akan rasa percaya diri.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore