Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 April 2026 | 23.51 WIB

Perempuan yang Tidak Pernah Diajarkan Mencintai Diri Sendiri sejak Kecil Sering Menunjukkan 9 Perilaku Ini saat Dewasa Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang tidak diajarkan mencintai diri sendiri (Freepik/Stockking) - Image

Ilustrasi seseorang yang tidak diajarkan mencintai diri sendiri (Freepik/Stockking)

JawaPos.com - Tidak semua luka terlihat jelas. Sebagian justru tumbuh diam-diam sejak masa kanak-kanak, terutama pada perempuan yang tidak pernah diajarkan bagaimana cara mencintai dirinya sendiri. Mereka mungkin tumbuh dalam lingkungan yang menuntut, dingin secara emosional, atau penuh kritik. Akibatnya, konsep tentang harga diri dan kasih sayang terhadap diri sendiri tidak pernah benar-benar terbentuk.

Dalam psikologi, pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang memandang dirinya dan berinteraksi dengan dunia. Ketika seorang anak perempuan tidak mendapatkan validasi, penerimaan, atau kasih sayang yang sehat, ia cenderung membawa "kekosongan" itu hingga dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (16/4), terdapat sembilan perilaku yang sering muncul pada perempuan dewasa yang tidak pernah diajarkan mencintai diri sendiri sejak kecil.

1. Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Alih-alih menjadi pendukung terbesar bagi dirinya sendiri, ia justru menjadi kritikus paling kejam. Kesalahan kecil bisa terasa seperti kegagalan besar. Dalam pikirannya, tidak ada ruang untuk tidak sempurna.

Psikologi menyebut ini sebagai inner critic yang berkembang dari pola asuh penuh tuntutan atau kritik. Ia terbiasa merasa "tidak cukup" sejak kecil.

2. Sulit Menerima Pujian

Ketika seseorang memujinya, respons yang muncul sering kali adalah penolakan atau rasa tidak nyaman. Ia merasa pujian tersebut tidak pantas diterimanya.

Ini terjadi karena citra diri yang terbentuk sejak kecil sudah negatif. Pujian terasa "tidak sesuai" dengan keyakinan yang ia miliki tentang dirinya.

3. Selalu Menempatkan Orang Lain di Atas Diri Sendiri

Ia terbiasa mengorbankan kebutuhan, waktu, bahkan kebahagiaannya demi orang lain. Bukan karena selalu tulus, tetapi karena merasa itulah satu-satunya cara agar diterima.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan pola people-pleasing, yang berakar dari kebutuhan akan validasi eksternal.

4. Takut Ditolak atau Ditinggalkan

Hubungan menjadi sumber kecemasan. Ia mungkin sangat takut kehilangan orang lain, bahkan ketika hubungan tersebut tidak sehat.

Ketakutan ini biasanya berasal dari pengalaman masa kecil di mana cinta terasa tidak stabil atau bersyarat.

5. Sulit Menetapkan Batasan (Boundaries)

Mengatakan "tidak" terasa sangat sulit. Ia khawatir akan mengecewakan orang lain atau dianggap egois.

Padahal, dalam hubungan yang sehat, batasan adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Namun, karena tidak pernah diajarkan, ia tidak tahu bagaimana melakukannya.

6. Merasa Tidak Layak Dicintai

Di balik semua interaksi sosialnya, ada keyakinan tersembunyi bahwa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai secara utuh.

Ini adalah salah satu dampak paling dalam dari kurangnya kasih sayang di masa kecil, rasa tidak layak yang menetap hingga dewasa.

7. Perfeksionisme yang Melelahkan

Ia merasa harus selalu melakukan segalanya dengan sempurna agar diterima. Kesalahan bukan sekadar kesalahan, melainkan bukti bahwa dirinya gagal.

Perfeksionisme ini bukan tentang standar tinggi, tetapi tentang rasa takut tidak dicintai jika tidak sempurna.

8. Bergantung pada Validasi Orang Lain

Harga dirinya naik dan turun tergantung pada bagaimana orang lain menilainya. Tanpa pengakuan dari luar, ia merasa kehilangan arah.

Hal ini terjadi karena sumber nilai diri tidak pernah dibangun dari dalam.

9. Mengabaikan Kebutuhan Emosional Sendiri

Ia mungkin sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, tetapi tidak dengan dirinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan, atau bahkan menganggap perasaannya tidak penting.

Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan kelelahan emosional dan kehilangan jati diri.

Penutup: Belajar Mencintai Diri Sendiri Itu Mungkin

Meskipun masa kecil tidak bisa diubah, pola yang terbentuk bukanlah sesuatu yang permanen. Psikologi modern menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk belajar ulang (relearning) dan membentuk kembali cara pandang terhadap diri sendiri.

Proses ini memang tidak instan. Dibutuhkan kesadaran, refleksi, dan sering kali bantuan profesional seperti terapi. Namun, langkah kecil seperti mengenali pola, memberi ruang untuk diri sendiri, dan belajar menetapkan batasan bisa menjadi awal yang kuat.

Mencintai diri sendiri bukanlah sesuatu yang egois. Justru, itu adalah fondasi agar seseorang bisa hidup dengan lebih sehat, bahagia, dan memiliki hubungan yang lebih bermakna. Dan yang terpenting itu adalah sesuatu yang bisa dipelajari, kapan pun.

Baca Juga:Bukan Sekadar Sifat, Ini Penyebab Seseorang Jadi Avoidant Attachment Menurut Psikologi

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore