
seseorang yang kurang mendapatkan kehangatan orang tua./Freepik/Frolopiaton Palm
JawaPos.com - Dalam dunia psikologi, kehangatan orang tua—yang ditunjukkan lewat sentuhan, empati, validasi emosi, dan dukungan konsisten—memiliki peran besar dalam membentuk kesehatan mental anak.
Tokoh seperti John Bowlby melalui teori attachment menjelaskan bahwa hubungan awal dengan orang tua membentuk “peta” bagaimana seseorang memandang diri sendiri dan orang lain. Sementara Sigmund Freud dan putrinya Anna Freud memperkenalkan konsep mekanisme
pertahanan diri (defense mechanisms), yaitu strategi psikologis—sering kali tidak disadari—yang digunakan untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.
Baca Juga: Orang Tumbuh Mandiri Biasanya Memiliki Orang Tua yang Melakukan 8 Hal yang Tampaknya Tidak Lazim Ini Menurut Psikologi
Menurut teori attachment dari John Bowlby, kurangnya kehangatan dapat membentuk pola attachment menghindar (avoidant). Individu dengan pola ini cenderung menjaga jarak emosional.
Mereka mungkin:
Tidak nyaman dengan keintiman
Merasa terganggu saat orang terlalu dekat
Mengutamakan kemandirian ekstrem
Padahal, di dalam diri mereka ada kebutuhan besar akan koneksi—yang tertutup oleh rasa takut ditolak atau diabaikan.
3. Perfeksionisme Berlebihan
Sebagian anak mencoba “mendapatkan” cinta dengan menjadi sempurna. Jika kehangatan tidak diberikan secara bebas, mereka belajar bahwa nilai diri harus dibuktikan melalui prestasi.
Dampaknya di masa dewasa:
Takut gagal secara berlebihan
Sulit menikmati pencapaian
Selalu merasa kurang
Perfeksionisme menjadi tameng untuk menghindari kritik dan penolakan.
4. People Pleasing (Menyenangkan Orang Lain Secara Berlebihan)
Tanpa kehangatan yang stabil, anak bisa belajar bahwa cinta bersifat bersyarat. Maka, ia tumbuh menjadi orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.
Ciri-cirinya:
Sulit berkata “tidak”
Mengabaikan kebutuhan sendiri
Takut konflik
Secara tidak sadar, mereka percaya bahwa jika berhenti menyenangkan orang lain, mereka akan ditinggalkan.
5. Sinisme dan Sikap Dingin
Sebagai bentuk perlindungan, sebagian orang mengembangkan sikap sinis atau tampak cuek. Mereka mungkin berkata bahwa tidak membutuhkan siapa pun.
Ini adalah bentuk rasionalisasi—mekanisme pertahanan yang pertama kali dibahas dalam psikoanalisis oleh Sigmund Freud.
Sikap ini membantu mengurangi rasa sakit akibat kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, dengan meyakinkan diri bahwa kedekatan memang tidak penting.
6. Overthinking dan Kewaspadaan Berlebihan
Kurangnya rasa aman di masa kecil dapat membuat sistem saraf selalu waspada. Individu menjadi sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan atau perubahan sikap orang lain.
Mereka sering:
Membaca terlalu dalam pesan sederhana
Mengkhawatirkan hal kecil
Sulit merasa tenang dalam hubungan
Ini adalah bentuk hypervigilance—cara pikiran mencoba mencegah luka emosional terulang.
7. Kemandirian Ekstrem (Hyper-Independence)
Tumbuh tanpa dukungan emosional membuat seseorang belajar untuk hanya mengandalkan diri sendiri. Kalimat batin yang sering muncul adalah: “Kalau bukan aku yang mengurus diriku, siapa lagi?”
Mereka mungkin:
Enggan meminta bantuan
Merasa lemah jika bergantung pada orang lain
Memikul beban sendirian
Padahal, kebutuhan untuk didukung tetap ada—hanya saja terkubur di balik dinding pertahanan.
8. Disosiasi Ringan (Emotional Detachment)
Beberapa individu belajar “memisahkan diri” dari pengalaman emosional yang menyakitkan. Mereka mungkin merasa kosong atau terputus dari perasaan sendiri.
Dalam jangka panjang, ini dapat menyebabkan:
Kesulitan merasakan kebahagiaan penuh
Perasaan hampa
Hubungan terasa datar
Disosiasi adalah cara pikiran berkata, “Jika aku tidak merasakannya, maka itu tidak akan menyakitkan.”
Penting untuk Dipahami: Ini Bukan Vonis Seumur Hidup
Mekanisme pertahanan terbentuk untuk melindungi, bukan menghancurkan. Namun, saat dewasa, kita memiliki kesempatan untuk menyadarinya dan memilih respons yang lebih sehat.
Terapi berbasis attachment, konseling, journaling, hingga membangun hubungan yang aman dapat membantu “melembutkan” pertahanan ini. Otak manusia memiliki neuroplastisitas—kemampuan untuk berubah dan membentuk pola baru.
Kehangatan yang mungkin tidak kita dapatkan di masa kecil, masih bisa kita pelajari dan bangun di masa dewasa—baik melalui pasangan, sahabat, komunitas, maupun melalui hubungan dengan diri sendiri.
Pada akhirnya, memahami mekanisme pertahanan bukan tentang menyalahkan orang tua, melainkan tentang mengenali pola agar kita tidak terus-menerus dikendalikan olehnya.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
