
Ilustrasi dialog antara dua generasi (satu lebih tua, satu lebih muda)/Freepik
JawaPos.com - Kesenjangan antargenerasi sering kali menciptakan gesekan dalam berkomunikasi, terutama dalam pemilihan bahasa yang sensitif.
Generasi Baby Boomer dibesarkan dengan norma bahasa yang berbeda. Hal ini membuat beberapa frasa yang mereka gunakan sering kali dianggap tidak sesuai secara politik oleh generasi muda. Kesenjangan ini menciptakan komunikasi yang canggung, di mana maksud baik sering diartikan sebagai sikap tidak peka, seperti yang ditelaah oleh Geediting.com Kamis (30/10).
Sikap yang sering mereka tunjukkan adalah meremehkan perubahan sosial dan mental yang dialami oleh generasi saat ini. Penting untuk memahami mengapa sepuluh ungkapan ini dapat menimbulkan reaksi negatif dari Generasi Y atau Z. Mari kita bedah lebih lanjut ungkapan-ungkapan yang sering mereka gunakan ini.
1. "Aku tidak melihat warna (kulit)."
Frasa ini sering digunakan oleh Boomer untuk menunjukkan bahwa mereka sama sekali bukan seorang rasis. Namun, bagi anak muda, ini terdengar seperti mengabaikan keragaman identitas. Ini secara tidak langsung mengabaikan perjuangan yang dihadapi oleh komunitas minoritas.
2. "Dulu di zamanku, orang tidak punya rasa cemas."
Ungkapan ini meremehkan masalah kesehatan mental yang sangat nyata dan dialami oleh generasi muda. Kalimat ini mengabaikan kemajuan dalam pemahaman mengenai masalah psikologis saat ini. Mendengar ini membuat mereka merasa perasaannya tidak diakui.
3. "Kamu sangat cerdas dalam berbicara!"
Meskipun terdengar seperti pujian, ungkapan ini sering kali memiliki bias rasial. Pujian ini menyiratkan bahwa kecerdasan verbal adalah suatu kejutan yang tidak terduga. Itu dapat dianggap sebagai pernyataan yang merendahkan secara diam-diam.
4. "Kamu terlihat bagus untuk usiamu."
Pujian ini sebenarnya membawa perbandingan yang tidak perlu, menyoroti usia sebagai suatu kelemahan. Hal ini dapat membuat yang mendengar merasa bahwa penampilannya hanya bagus jika dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Pujian tulus tidak perlu menyertakan kualifikasi usia.
5. "Kalian..."
Frasa seperti "Kalian selalu sibuk dengan ponsel" dapat langsung menciptakan garis pemisah antara mereka dan generasi yang lebih muda. Kalimat ini mendorong perspektif "kami versus kalian" yang kurang bersahabat. Perilaku ini dapat membuat yang mendengar merasa dinilai secara keseluruhan oleh Anda.
6. "Tenang saja."
Mengatakan "Tenang saja" kepada seseorang yang sedang emosional dapat terasa meremehkan dan tidak sensitif. Frasa ini menyiratkan bahwa emosi mereka tidak valid atau terlalu berlebihan. Anak muda lebih menghargai dukungan dan pengakuan atas emosi yang mereka rasakan.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
