Ilustrasi. Sumber: JUrban/Pixabay.com
JawaPos.com – Ingin punya pasangan saat rasa kesepian melanda mungkin jadi suatu hal yang wajar. Ternyata hal tersebut malah membuat banyak orang salah memilih pasangan. Mengapa demikian? Alasan psikologis menjawab bagaimana memilih pasangan saat kesepian cenderung berakhir buruk dan tidak mendapatkan hubungan yang sehat.
Kesepian pasti dirasakan semua orang terlebih mereka yang sedang berada di masa dewasa awal. Penelitian dari Psychological Science (2024), menjelaskan masa dewasa awal sering kali merupakan titik tertinggi kesepian.
Jika melihat teori Psikososial dari ahli psikolog Erik Erikson, masa tersebut merupakan sebuah konflik antara isolasi dan keintiman (Isolation vs Intimacy). Seseorang akan berhadapan pada isolasi atau kesepian dan mencari suatu bentuk keintiman seperti mencari pasangan.
Walaupun begitu, banyak orang-orang yang kesepian kerap memilih pasangan yang salah karena faktor-faktor psikologis. Mari simak pembahasannya.
Studi dari Lettia Anne Peplau dan Daniel Perlman (1982) menyatakan bahwa kesepian dalam pencarian pasangan muncul karena ada “gap” antara hubungan yang kita inginkan dengan kenyataan sebenarnya. Saat kesepian tersebut maka orang cenderung menurunkan standar agar cepat dapat pasangan.
Attachment Theory dari Bowlby dan Ainsworth juga menjelaskan hal demikian lewat teori kelekatan. Seseorang bisa saja mengabaikan tanda-tanda orang yang berstandar nilai rendah atau bahkan redflag untuk mendapatkan pasangan.
Salah memilih pasangan saat kesepian juga dikarenakan adanya bias kognitif. Bias tersebut terjadi karena seseorang hanya menginginkan tujuan dan hasil jangka pendek seperti teman ngobrol, validasi dan juga perhatian.
Pertimbangan seperti kecocokan sikap, tujuan hidup dan juga karakter yang harusnya menjadi tujuan jangka panjang untuk hubungan yang lebih sehat malah tidak terpikir dengan baik.
Penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationship (2016) menemukan bahwa orang yang memilih pasangan karena faktor kesepian lebih rentan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Relasi mereka yang menjalin hubungan karena kesepian cenderung penuh konflik dan toksik.
Hal tersebut karena alasan awal yang dimiliki orang yang kesepian hanya untuk mengisi kekosongan akan rasa sepi tersebut. Tujuan utama mereka hanya pelarian dari kesepian bukan untuk menjalin hubungan serius.
Setiap orang memang membutuhkan afeksi dan dukungan emosional tapi bukan berarti itu merupakan hal yang cukup untuk menjalin hubungan yang sehat. Piramida kebutuhan dari teori Abraham Maslow menjelaskan bahwa Need of Love sangat berbeda dengan Being of Love.
Ketika kita butuh cinta (Need of Love) karena hal lain seperti kesepian dan lainnya maka kita akan cenderung banyak meminta. Sedangkan hubungan yang baik bukan hanya mereka yang terus meminta tapi juga mereka yang menjadi dan memberi (Being of Love).

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
