Ilustrasi Gen Alpha Menggunakan Teknologi AI (Freepik)
JawaPos.com – Generasi Alpha yang lahir antara 2010 hingga 2024 dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era digital dan kecerdasan buatan. Sejak balita, mereka akrab dengan tablet, smartphone, hingga asisten virtual.
Studi mencatat, 40 persen anak Gen Alpha sudah memiliki tablet sejak usia 2 tahun. Mayoritas sudah terpapar media sosial sebelum usia 8 tahun (The Times, 2024).
Dikenal sebagai anak-anak yang lahir sepenuhnya di abad ke-21 (sekitar 2010–2024), Generasi Alpha tak bisa dilepaskan dari dunia digital. Mereka tumbuh dengan smartphone, tablet, dan asisten virtual AI bukan sekadar alat, melainkan bagian dari dunia keseharian mereka. Menurut studi, sekitar 40 persen anak Gen Alpha sudah memiliki tablet sejak usia 2 tahun, dan sebagian besar mulai terpapar media sosial sebelum usia 8 tahun.
AI memegang peran besar dalam pendidikan mereka. Sistem pembelajaran adaptif memungkinkan materi disesuaikan dengan kecepatan dan gaya belajar individu, memperkaya kreativitas dan daya eksplorasi diri. Survei lokal juga menunjukkan: 49 persen orang tua melaporkan anak Generasi Alpha telah menggunakan AI. Angka itu naik jadi 60 persen saat memasuki usia 13–14 tahun. AI dianggap mendukung pendidikan pribadi (30 persen), kreativitas (29 persen), keterampilan sosial (18 persen), dan persiapan masa depan (21 persen) (CTO Magazine, 2024).
Orang tua semakin proaktif memperkenalkan AI kepada anak-anak. Sebagai contoh, profesor Jules White melatih anaknya sejak kelas 5 menggunakan ChatGPT bukan hanya untuk tugas, tapi untuk kreativitas, berpikir kritis, dan mengeksplorasi informasi secara cermat ke sumber terverifikasi. Hal ini menunjukkan pergeseran paradigma orang tua: AI bukan pengganti, melainkan alat yang disupervisi ujung amat kompleksitasnya (The Guardian, 2025).
Sementara manfaatnya jelas, keterlibatan AI juga menimbulkan risiko. Generasi Alpha tumbuh dengan cognitive offloading menyerahkan banyak fungsi berpikir kepada AI, yang bisa melemahkan kemampuan reflektif kritis mereka. Di ranah sosial emotional, interaksi dominan dengan asisten virtual dan robot AI dapat mengikis empati dan kemampuan komunikasi langsung (Forbes, 2025; Quantum Zeitgeist, 2025).
Lebih lanjut, kompleksitas bahasa mereka dipengaruhi oleh gaming, meme, dan tren digital kerap luput dari pemantauan sistem moderasi AI standar, memicu kekhawatiran terkait keamanan dan proteksi anak secara online.
Ketika Gen Alpha siap memasuki dunia kerja dan kehidupan dewasa, mereka akan menghadapi dunia yang semakin AI-sentris. Mereka diprediksi akan menjadi generasi paling tech savvy, dengan kekuatan adaptasi tinggi, kesadaran sosial, serta kemampuan inovatif yang belum pernah ada sebelumnya. Namun keunggulan ini juga menuntut penguatan empati, integritas digital, dan literasi teknologi sejak dini (arXiv, 2025; News.com.au, 2025).

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Tragis! Gadis 13 Tahun di India Diperkosa 30 Pria Selama 5 Hari, Para Tersangka Diarak Warga
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
