Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Agustus 2025 | 18.05 WIB

Orang yang Sering Mengucapkan “Maaf” Padahal Tidak Perlu, Biasanya Pernah Mengalami 8 Hal Ini di Masa Kecil Menurut Psikologi

seseorang yang sering mengucapkan maaf. (Freepik/EyeEm) - Image

seseorang yang sering mengucapkan maaf. (Freepik/EyeEm)

 


JawaPos.com - Apakah kamu termasuk orang yang sering berkata “maaf” bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak salah? 

Misalnya, meminta maaf saat hendak bertanya, meminta maaf ketika orang lain menabrakmu, atau sekadar berkata “maaf” saat mengungkapkan pendapat? Jika iya, kamu tidak sendirian.

Dalam psikologi, kebiasaan berlebihan meminta maaf (over-apologizing) sering kali bukan sekadar kebiasaan sopan santun, melainkan cerminan dari pola asuh dan pengalaman masa kecil yang membentuk pola pikir tertentu. 

Seseorang yang terus merasa harus minta maaf, bahkan untuk hal yang bukan kesalahannya, sering kali membawa "luka tak terlihat" dari masa kecil yang berhubungan dengan rasa takut ditolak, ingin selalu diterima, atau menghindari konflik.

Dilansir dari Geediting pada MInggu (3/8), terdapat 8 pengalaman masa kecil yang sering dialami oleh orang-orang yang tumbuh menjadi pribadi “mudah minta maaf” secara berlebihan, menurut psikologi.

1. Tumbuh di Lingkungan Keluarga yang Kritis atau Perfeksionis


Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua atau keluarga yang sangat kritis cenderung merasa bahwa apapun yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik. 

Setiap kesalahan kecil dibesar-besarkan, bahkan kadang hal-hal yang bukan kesalahan mereka tetap dianggap salah. 

Akibatnya, mereka belajar untuk selalu bersikap “defensif” dengan meminta maaf sebelum disalahkan.

Psikologi menyebut ini sebagai “anticipatory guilt”, yaitu rasa bersalah yang muncul sebelum seseorang benar-benar melakukan kesalahan, sebagai mekanisme perlindungan dari kritik.

2. Dibiasakan Mengalah dan Memendam Emosi

Anak-anak yang sering diajarkan untuk “mengalah demi kebaikan bersama” tanpa diajarkan cara mengekspresikan emosi dengan sehat, akan terbiasa memendam rasa tidak nyaman. 

Mereka tumbuh dengan kepercayaan bahwa untuk menjaga hubungan baik, mereka harus menekan perasaan sendiri dan meminta maaf walau tidak salah, demi menghindari konflik.

3. Orang Tua yang Tidak Stabil Emosinya (Moody atau Temperamental)

Memiliki orang tua yang emosinya mudah meledak-ledak atau tidak stabil membuat anak merasa harus selalu berhati-hati dalam bersikap. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore