Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Juli 2025 | 00.12 WIB

Ini Bahaya Tersembunyi Menggunakan AI sebagai Alat 'Curhat' atau Konsultasi Kesehatan Mental: Hati-Hati Jebakan Emosionalnya

Ilustrasi bahaya tersembunyi menggunakan AI sebagai alat konsultasi kesehatan mental (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Di balik kemudahan dan kepraktisannya, penggunaan AI sebagai alat curhat hal-hal personal yang berkaitan dengan psikologi seseorang, ternyata menyimpan risiko yang tak boleh dianggap sepele. 

Dalam kondisi ideal, terapi psikologi seharusnya melibatkan hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan antara klien dan terapis. Tapi AI, sebagai produk teknologi, tidak mampu merespons emosi dengan kedalaman yang sama. Lalu, bagaimana jika seseorang yang sedang depresi berat malah menjadikan AI sebagai tempat curhat utamanya?

Menurut penjelasan pada salah satu kanal YouTube yang populer dan aktif membahas isu psikologi, yakni Psych2go, beberapa studi menunjukkan bahwa terlalu sering 'melampiaskan' emosi pada AI bisa menyebabkan seseorang justru semakin menginternalisasi pikiran negatifnya. 

Karena AI hanya membalas berdasarkan input yang kita berikan, tanpa bisa menyelami makna di balik kata-kata, maka potensi salah paham (atau lebih buruk, penguatan emosi negatif) sangat mungkin terjadi.

Contoh tragis datang dari kasus seorang remaja yang menjadi terlalu terikat dengan chatbot berkarakter. Ia akhirnya mengambil keputusan ekstrem karena merasa dunia virtual lebih "mengerti" dirinya. Padahal, AI tersebut tidak diciptakan untuk memahami atau menangani krisis psikologis serius.

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kualitas informasi yang diberikan oleh AI. Meski terdengar meyakinkan, AI bisa saja salah memberikan saran karena keterbatasan algoritmanya. Dalam dunia medis dan psikologis, informasi keliru bisa berdampak fatal.

AI tidak bisa mendeteksi kebohongan, tidak bisa membaca ekspresi, dan tentu tidak bisa mengambil keputusan etis layaknya terapis berpengalaman. Ketika seseorang mengatakan "saya baik-baik saja" padahal tidak, AI akan percaya begitu saja. Sementara terapis manusia akan menggali lebih dalam dan mencari akar masalahnya.

Kesimpulannya, AI bisa jadi alat bantu awal, bukan pengganti. Jika kamu sedang menghadapi masalah kesehatan mental, gunakan AI hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti terapi. Dan jika memungkinkan, tetaplah berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan bantuan yang benar, aman, dan menyeluruh.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore