Ilustrasi bahaya tersembunyi menggunakan AI sebagai alat konsultasi kesehatan mental (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Di balik kemudahan dan kepraktisannya, penggunaan AI sebagai alat curhat hal-hal personal yang berkaitan dengan psikologi seseorang, ternyata menyimpan risiko yang tak boleh dianggap sepele.
Dalam kondisi ideal, terapi psikologi seharusnya melibatkan hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan antara klien dan terapis. Tapi AI, sebagai produk teknologi, tidak mampu merespons emosi dengan kedalaman yang sama. Lalu, bagaimana jika seseorang yang sedang depresi berat malah menjadikan AI sebagai tempat curhat utamanya?
Menurut penjelasan pada salah satu kanal YouTube yang populer dan aktif membahas isu psikologi, yakni Psych2go, beberapa studi menunjukkan bahwa terlalu sering 'melampiaskan' emosi pada AI bisa menyebabkan seseorang justru semakin menginternalisasi pikiran negatifnya.
Baca Juga: Apakah AI Bisa Gantikan Peran Terapis Kesehatan Mental? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi
Karena AI hanya membalas berdasarkan input yang kita berikan, tanpa bisa menyelami makna di balik kata-kata, maka potensi salah paham (atau lebih buruk, penguatan emosi negatif) sangat mungkin terjadi.
Contoh tragis datang dari kasus seorang remaja yang menjadi terlalu terikat dengan chatbot berkarakter. Ia akhirnya mengambil keputusan ekstrem karena merasa dunia virtual lebih "mengerti" dirinya. Padahal, AI tersebut tidak diciptakan untuk memahami atau menangani krisis psikologis serius.
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kualitas informasi yang diberikan oleh AI. Meski terdengar meyakinkan, AI bisa saja salah memberikan saran karena keterbatasan algoritmanya. Dalam dunia medis dan psikologis, informasi keliru bisa berdampak fatal.
AI tidak bisa mendeteksi kebohongan, tidak bisa membaca ekspresi, dan tentu tidak bisa mengambil keputusan etis layaknya terapis berpengalaman. Ketika seseorang mengatakan "saya baik-baik saja" padahal tidak, AI akan percaya begitu saja. Sementara terapis manusia akan menggali lebih dalam dan mencari akar masalahnya.
Kesimpulannya, AI bisa jadi alat bantu awal, bukan pengganti. Jika kamu sedang menghadapi masalah kesehatan mental, gunakan AI hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti terapi. Dan jika memungkinkan, tetaplah berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan bantuan yang benar, aman, dan menyeluruh.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
