Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Mei 2025 | 04.46 WIB

Orang yang Kurang Empati dan Kasih Sayang, Seringkali Sering Kali Tumbuh Besar Dengan Mendengar 7 Kalimat Ini Dari Orang Tua Mereka

Ilustrasi  Orang yang Kurang Empati dan Kasih Sayang (freepik) - Image

Ilustrasi  Orang yang Kurang Empati dan Kasih Sayang (freepik)

JawaPos.com - Tidak semua orang dewasa lahir dengan hati yang dingin. Banyak dari mereka yang sebenarnya adalah korban dari ucapan orang tua di masa kecil yang tanpa sadar menghancurkan empati mereka.

Dalam dunia parenting dan psikologi, pola komunikasi sejak dini terbukti punya pengaruh besar terhadap kemampuan anak memahami perasaan orang lain.

Banyak anak tumbuh dewasa dengan luka emosional yang tersembunyi, bukan karena kekurangan materi, tapi karena kata-kata yang mengerdilkan emosi mereka.

Kalimat-kalimat ini terdengar sepele, bahkan dianggap normal dalam budaya kita. Namun siapa sangka, kalimat-kalimat tersebut bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak peduli, tidak peka, dan sulit berempati terhadap sesama.

Dilansir dari laman Geediting (23/5), berikut adalah tujuh kalimat yang kerap diucapkan orang tua dan diam-diam menghancurkan empati anak:

1. "Berhenti menangis, kamu terlalu sensitif!"

Kalimat ini sering diucapkan ketika anak menangis karena hal sepele menurut orang dewasa. Namun, ketika anak terus-menerus dibilang terlalu sensitif, ia belajar bahwa perasaan adalah sesuatu yang memalukan. Anak akan terbiasa menekan emosinya sendiri. Ketika dewasa, mereka pun jadi lebih mudah mematikan rasa simpati demi menghindari ejekan atau penolakan.

2. "Karena mama bilang begitu!"

Ini adalah kalimat klasik dari orang tua yang sedang lelah dan tak ingin berdebat. Tapi efeknya jangka panjang. Anak tidak diajarkan untuk memahami alasan di balik suatu perintah atau keputusan. Ia hanya tahu bahwa pendapat orang lain tidak penting. Hal ini membuat mereka tumbuh tanpa rasa ingin tahu terhadap perasaan orang lain, dan cenderung otoriter atau dingin dalam berhubungan sosial.

3. "Kamu harusnya bersyukur, mama udah ngelakuin semua ini buat kamu!"

Kalimat ini sering dimaksudkan untuk mengajarkan rasa terima kasih. Tapi jika terus-menerus dikatakan dengan nada menyalahkan, anak akan tumbuh dengan rasa bersalah, bukan rasa syukur. Lama-lama, mereka tidak bisa lagi membedakan mana bantuan tulus dan mana yang bersifat manipulatif. Ini membuat mereka sulit merasa iba atau menolong orang lain tanpa pamrih.

4. "Jangan manja! Kamu udah gede!"

Kalimat ini merendahkan perasaan anak saat sedang kesal atau sedih. Mereka diajarkan untuk menyembunyikan emosi karena dianggap tidak sesuai usia. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang malu menunjukkan kelemahan dan bersikap keras pada diri sendiri maupun orang lain yang sedang rentan.

5. "Mama nggak mau dengar masalah kamu sekarang!"

Saat anak sedang membutuhkan tempat curhat, kalimat ini seperti pukulan telak. Anak belajar bahwa masalahnya tidak penting, dan mengungkapkan emosi hanya akan membuat orang menjauh. Dampaknya, mereka jadi orang dewasa yang enggan mendengar curhatan orang lain, bahkan mungkin mengabaikan kesedihan orang terdekat.

6. "Kamu bikin malu aja!"

Anak-anak sering bertingkah tanpa memikirkan situasi. Tapi jika mereka dibentak karena dianggap mempermalukan orang tua, mereka belajar bahwa penampilan lebih penting daripada perasaan. Saat dewasa, mereka bisa menjadi pribadi yang terlalu peduli citra, namun tidak peka terhadap penderitaan orang lain.

7. "Kenapa kamu nggak bisa kayak kakakmu?"

Perbandingan antar saudara membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Mereka jadi bersaing, bukan saling mendukung. Anak yang tumbuh dengan rasa dibandingkan akan kesulitan berempati karena selalu merasa harus mengalahkan orang lain demi pengakuan. Ini memicu sifat egois dan kurangnya kepedulian terhadap sesama.

Empati bukanlah bawaan lahir semata, tapi terbentuk melalui pengalaman dan kata-kata yang diterima sejak kecil. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang peduli dan penuh kasih. Hindari kalimat-kalimat yang tampak biasa tapi menyimpan luka, dan mulailah membangun komunikasi yang mendukung tumbuhnya empati anak sejak dini.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore